Tampilkan postingan dengan label IKAN AIR TAWAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IKAN AIR TAWAR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 April 2012

Ikan Mujai


SEJARAH SINGKAT

Ikan mujair merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih dengan warna abu-abu, coklat atau hitam. Ikan ini berasal dari perairan Afrika dan pertama kali di Indonesia ditemukan oleh bapak Mujair di muara sungai Serang pantai selatan Blitar Jawa Timur pada tahun 1939. Ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam/salinit as. Jenis ikan ini mempunyai kecepatan pertumbuhan yang relatif lebih cepat, tetapi setelah dewasa percepatan pertumbuhannya akan menurun. Panjang total maksimum yang dapat dicapai ikan mujair adalah 40 cm.

MANFAAT

Sebagai sumber penyediaan protein hewani.

this information from here

Selasa, 03 April 2012

Pesut, Lumba-lumba Air Tawar

Pesut atau lumba-lumba air tawar adalah spesies mamalia air yang menghuni wilayah perairan tawar di India, Indocina, Filipina dan Kalimantan. Tidak ada catatan fosil. Pesut pertama kali dideskripsikan oleh Sir Richard Owen tahun 1866 berdasarkan satu spesiemen yang ditemukan tahun 1852, di pelabuhan Vishakhapatnum di pantai timur India. Pesut adalah satalh satu spesies dari genus Orcaella. Kadang-kadang pesut terdaftar dalam beragam famili yang terdiri dari ia sendiri dan pada Monodontidae dan dalam Delphinapteridae. Sekarang ada persetujuan bahwa pesut termasuk famili Delphinidae.


Secara genetis, pesut berhubungan dekat dengan paus pembunuh. Nama spesies brevirostris berasal dari bahasa Latin yang berarti berparuh pendek. Tahun 2005, analisis genetik menunjukkan bahwa lumba-lumba sirip pendek Australia merupakan spesies kedua dari genus Orcaella.
Seluruh tubuh berwarna kelabu hingga biru tua, bagian bawahnya berwarna lebih pucat. Tidak ada pola yang khas. Sirip punggung kecil dan membulat di tengah punggung. Dahinya tinggi dan membulat; tidak bermoncong. Sirip tangan lebar membulat. Spesies di Kalimantan yang mirip adalah Porpoise tak bersirip, Neophocaena phocaenoides, mirip tapi tidak punya sirip punggung: lumba-lumba bungkuk, Sausa chinensis, lebih besar, moncong lebih panjang dan sirip punggung lebih besar.

Dalam berbagai bahasa Orcaella brevirostris (nama Latin) adalah: Inggris: Irrawaddy dolphin, Dialek lokal Chilika: Baslnyya Magaratau Bhuasuni Magar (lumba-lumba penghasil minyak), Oriya: Khem dan Khera, Perancis: Orcelle, Spanyol: Delfín del Irrawaddy, Jerman: Irrawadi Delphin, Burma: Labai, Indonesia: Pesut, Melayu: Lumbalumba, Khmer: Ph’sout, Lao: Pha’ka and Filipino: Lampasut. Dalam bahasa Thai, salah satu namanya adalah pía loma hooa baht, karena kepalanya yang membundar dianggap menyerupai mangkuk rahib Budhha, hooa baht.



Penampilan pesut mirip dengan beluga, meski lebih berkerabat dengan orka. Spesies ini mempunyai melon (jaringan berlemak dan berminyak di kepala). Moncongnya tidak khas. Sirip punggung yang terletak dua pertiga posterior di punggung, pendek, tumpul, dan segitiga. Sirip tangan panjang dan lebar. Secara keseluruhan ia berwarna cerah, namun lebih putih di bawah tubuh daripada di punggung. Pesut dewasa beratnya lebih dari 130 kg dan panjangnya 2,3 m psaat dewasa. Panjang maksimum yang tercatat adalah jantan 2,75 m dari Thailand.

Lumba-lumba ini dianggap mencapai kedewasaan seksual pada 7 sampai 9 tahun. Di belahan bumi utara, perkawinan dilaporkan berlangsung pada bulan Desember sampai Juni. Masa hamilnya 14 bulan, melahirkan seekor anak setiap 2 hingga 3 tahun. Saat lahir panjangnya 1 m dan beratnya 10 kg. Anak itu disapih setelah berumur dua tahun. Umur pesut dapat mencapai 30 tahun.

Sumber

Jumat, 23 Maret 2012

Betta Splendens

Betta splendens selain sebagai cupang hias,betta splendes merupakan jenis adu terutama jenis yang lama. menurut catatan ikan ini telah dibudidayakan sejak tahun 1970.Ikan ini memiliki daya tahan yang kuat namun tidak ditopang dengan gigi tajam dan sisik yang kuat.Pada tutup ingsangnya terdapat 2 garis vertikal berwarna merah.sosok cupang ini bisa dibilang kecil dengan warna tubuh cenderung gelap.warnannya perpaduan antara merah tua dan biru tua serta tidak ada totol di tubuhnya.gerakan tubuhnya cendrung agresif dan terlebih dahulu menyerang ketika bertarung.


Sumber

Cupang Medan, Ikan Aduan

Betta imbellis adalah sejenis cupang yang terdapat Medan Indonesia dan Malaysia yang memiliki bentuk tubuh silinder dan memiliki warna tubuh hijau tua atau biru cemelang,kepalanya berbentuk bulat panjang dan berwarna hitam legam. Sirip ingsang berwarna hitam transparan. Namun kerap di jumpai siriip ingsang berwarna merah adapunn sirip anal pendek dan berwarna merah dengan ujung berwarna putih,sirip ekor dan perut berwarna merah dan tepi sirip berwarna hijau atau biru.sementara sirip punggung berwarna hijau atau biru dihiasi dengan bercak warna hitam.
Cupang ini merupakan cupang yang asli dari perairan Indonesia. Merupakan cupang adu yang sering dijadikan cupang aduan.

Sumber

Cupang, Ikan Yang Indah

Cupang (Betta sp.) adalah ikan air tawar yang habitat asalnya adalah beberapa negara di Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Ikan ini mempunyai bentuk dan karakter yang unik dan cenderung agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Di kalangan penggemar, ikan cupang umumnya terbagi atas tiga golongan, yaitu cupang hias, cupang aduan, dan cupang liar. Di Indonesia terdapat cupang asli,salah satunya adalah Betta channoides yang ditemukan di Pampang, Kalimantan Timur.


Ikan cupang adalah salah satu ikan yang kuat bertahan hidup dalam waktu lama sehingga apabila ikan tersebut ditempatkan di wadah dengan volume air sedikit dan tanpa adanya alat sirkulasi udara (aerator), ikan ini masih dapat bertahan hidup.

Perkembangan variasi ditinjau dari segi bentuk dan warna terbilang pesat dalam beberapa generasi terakhir. Beberapa jenis cupang yang dikenal sekarang ini:
  • Betta pugnax (Forest Betta)
  • Betta taeniata (Banned Betta)
  • Betta macrostoma (Bruney Beauty)
  • Betta unimaculata (Golden Slender)
  • Betta picta (Painted Betta)
  • Betta anabantoides (Pearly Betta)
  • Betta edithae (Betta Brederi)
  • Betta foerschi (Purple Saphire Betta)
Ikan cupang di atas dikenal sebagai mouth breeder yaitu ikan cupang yang mengerami telurnya di dalam mulut, sedangkan kelompok di bawah ini yang merupakan kerabat ikan cupang (betta), yang membangun sarangnya dengan busa (bublle nest)
  • Betta akarensis (Sarawak Betta)
  • Betta coccina (Clorat's Betta)
  • Betta bellica (Standard's Betta)
  • Betta tesyae (Peaceful Betta)
  • Betta smaragdina (Emerald Betta)
  • Betta imbelis (Slugger's Betta)
  • Betta splendens (Siamese Fighting Fish)
Jenis ikan cupang lain yang dikenal sebagai:
  • Betta albimarginata
  • Betta channoides
  • Betta balunga
  • Betta breviobesus
Cupang hias dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
  • Halfmoon (setengah bulan), cupang jenis ini memiliki sirip dan ekor yang lebar dan simetris menyerupai bentuk bulan setengah. Jenis cupang ini pertama kali dibudidaya di Amerika Serikat oleh Peter Goettner pada tahun 1982.
  • Crowntail (ekor mahkota) atau serit, cupang jenis ini pertama kali dibudidayakan oleh seorang peternak cupang yang tinggal di daerah Jakarta barat, tepatnya didaerah slipi skitar tahun 1968 ( oleh karena itu slipi di sebut juga sebagai pusat ikan cupang hias,nya indonesia ) Ciri utamanya adalah sirip dan ekornya yang menyerupai sisir sehingga di namakan serit.
  • Double tail (ekor ganda)
  • Plakat Halfmoon
  • giant (cupang raksasa), cupang jenis ini merupakan hasil perkawinan silang antara cupang biasa dengan cupang alam, cupang jenis ini ukurannya bisa mencapai 12 cm

Sumber

Kamis, 22 Maret 2012

Arwana Asia, Ikan Naga

Arwana Asia (Scleropages formosus), atau Siluk Merah adalah salah satu spesies ikan air tawar dari Asia Tenggara. Ikan ini memiliki badan yang panjang; sirip dubur terletak jauh di belakang badan. Arwana Asia umumnya memiliki warna keperak-perakan. Arwana Asia juga disebut "Ikan Naga" karena sering dihubung-hubungkan dengan naga dari Mitologi Tionghoa
Arwana Asia adalah spesies asli sungai-sungai di Asia Tenggara khususnya Indonesia.


Ada empat varietas warna yang terdapat di lokasi:
  • Hijau, ditemukan di Indonesia, Vietnam, Birma, Thailand, dan Malaysia
  • Emas dengan ekor merah, ditemukan di Indonesia
  • Emas, ditemukan di Malaysia
  • Merah, ditemukan di Indonesia
Arwana Asia terdaftar dalam daftar spesies langka yang berstatus "terancam punah" oleh IUCN tahun 2004. Jumlah spesies ini yang menurun dikarenakan seringnya diperdagangkan karena nilainya yang tinggi sebagai ikan akuarium, terutama oleh masyarakat Asia. Pengikut Feng Shui dapat membayar harga yang mahal untuk seekor ikan ini.

Sumber

Sabtu, 17 April 2010

Famili : Anguillidae


Famili : Anguillidae

Nama Indonesia : Sidat
Nama Ilmiah/latin : Anguilla spp.
Nama Inggris : Eels


Deskripsi :
1. Bentuknya panjang, lurus dengan sirip punggung yang panjang dan menyatu dengan sirip ekor dan kemudian bersambung
dengan sirip dubur (anal fin)
2. Umumnya ikan betina lebih besar daripada ikan jantan
3. Bersipat predator dan merupakan ikan ekonomis penting
4. Ikan dewasa kebanyakan hidup di air tawar tetapi kembali ke laut untuk memijah
5. Kebanyakan hidup di sungai-sungai yang bermuara ke laut yang dalam

daerah penyebaran : sungai-sungai di sumatera, pesisir selatan jawa, pesisir timur kalimantan dan sulawesi.

sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan, 2005

Ikan air tawar - Anabantidae




Famili : Anabantidae

Nama Indonesia : Betok, Betik, bato, harfan, puyu, pepuyu, papuyu,puyo-puyo, oseng, kusa, kasang, hoseng, useng
Nama Ilmiah/latin : Anabas testudineus (bloch, 1792)
Nama Inggris : Climbing perches

Deskripsi :
- bentk badan agak lonjong dan berwarna hijau kehitaman
- mempunyai organ nafas tambahan sehingga mampu hidup di habitat lumpur atau airnya sangat sedikit dimana jenis
ikan lain sudah tidak dapat hidup.
- kemampuannya untuk (seperti) berjalan didukung oleh gerakan ekornya, sirip dada dan tutup insangyang keras
- bersipat predator dan hama di kolam budidaya.

Dearah penyebaran : sungai, rawa, danau

sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan, 2005

Rabu, 07 April 2010

Sudahkah Anda Tahu ??? Teknik Pembenihan Ikan Grass Carp (Ctenopharyngodon idella)

Sudahkah Anda Tahu ???
Teknik Pembenihan Ikan Grass Carp (Ctenopharyngodon idella)


Grass Carp (Ctenopharyngodon idella) berasal dari China bagian timur dan USSR. Ikan ini didatangkan ke Indonesia (Sumatera) pada tahun 1915. Pada tahun 1949 didatangkan ke Jawa dengan tujuan untuk dibudidayakan.

Ikan Grass Carp atau ikan Koan merupakan herbivora yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini memakan tumbuhan air seperti Hydrilla sp., Salvinia, rumput-rumputan dan tumbuhan air lainnya, sehingga ikan jenis ini dapat dipakai sebagai ikan pengendali gulma air baik di kolam maupun diperairan umum.

BIOLOGI

Secara sistematis ikan grass carp termasuk dalam kelas Osteichthyes, ordo Cyprinipormes, famili Cyprinidae.

Ciri-ciri fisik ikan ini adalah warna abu-abu gelap kekuningan dengan campuran perak kemilau, badan memanjang, kepala lebar dengan moncong bulat pendek, gigi paringeal dalam deretan ganda dengan bentuk seperti sisir. Ikan grass carp dapat mencapai ukuran panjang maksimal 120cm dan bobot tubuh 20 kg.

Induk ikan grass carp sudah dapat memijah pada umur 3 s/d 4 tahun dengan berat betina mencapai 3 kg dan jantan 2 kg. Pemijahan biasanya terjadi pada musim penghujan.

PEMBENIHAN
Pemeliharaan Induk

Induk-induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 0,2 s/d 0,3 kg/m2. Selain diberi pakan tumbuhan air atau rumput-rumputan juga diberi pakan buatan berupa pellet sebanyak 1% dari berat total populasi dengan berat frekuensi pemberian sebanyak 2 kali per hari.

Induk ikan grass carp dapat dipijahkan setelah berumur 1 tahun dengan berat 2 - 2,5 kg.

Tanda-tanda Induk matang gonad :

Betina : Perut mulai bagian dada sampai ke arah pengeluaran menbesar, bila ditekan terasa lembek, lubang kelamin agak kemerahan dan agak menyembul keluar serta gerakan relatif lamban.
Jantan : Dibandingkan dengan betina bentuk badan relatif lebih langsing, sirip dada bagian atas kasar dan bila perut diurut kearah lubang kelamin akan keluar cairan berwarna putih (sperma).

Pemijahan
Cara pemijahan ikan grass garp dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

* Induced breeding
Pemijahan secara ”Induced breeding” yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang yang berasal dari kelenjar hipofisa ikan donor atau menggunakan hormon LHRH-a atau ovaprim™.
Induk betina disuntik 2 kali dengan selang waktu 4 s/d 6 jam, apabila menggunakan kelenjar hipofisa 2 dosis tetapi apabila menggunakan ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg. Penyuntikan pertama 1/3 bagian dan penyuntikan kedua 2/3 bagian.
Induk jantan disuntik cukup sekali, menggunakan kelenjar hipofisa 1 dosis, bila menggunakan ovaprim 0,15 ml/kg dan dilakukan bersamaan dengan penyuntikan kedua pada induk betina.
Kedua induk ikan setelah disuntik dimasukan ke dalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan hapa, setelah 6 jam dari penyuntikan pertama induki betina diperiksa kesiapan ovulasinya setiap 1 jam sekali, dengan cara diurut secara perlahan.
Ikan yang akan memijah biasanya ditandai dengan saling kejar, perut besar dan lunak, keluar cairan kuning dari lubang kelamin.
Setelah tanda-tanda tersebut, induk jantan dan betina diangkat untuk dilakukan stripping (pengurutan) yaitu dengan mengurut bagian perut ke arah lubang kelamin. Telurnya ditampung dalam wadah/baki plastik dan pada saat bersamaan induk jantan di-stripping dan spermanya ditampung dalam wadah yang lain kemudian diencerkan dengan cairan fisiologis (NaCl 0,9 %) atau cairan Sodium Klorida.
Sperma yang telah diencerkan dituangkan kedalam wadah telur secara perlahan-lahan serta diaduk dengan menggunakan bulu ayam. Tambahkan air bersih dan diaduk secara merata sehingga pembuahan berlangsung dengan baik. Untuk mencuci telur dari darah dan kotoran serta sisa sperma, tambahkan lagi air bersih kemudian airnya dibuang, lakukan beberapa kali sampai bersih, setelah bersih telur dipindahkan kedalam wadah yang lebih besar dan berisi air serta diberi aerasi, biarkan selama kurang lebih 1 jam sampai mengembang secara maksimal.
*
Induced spawning
Pemijahan secara Induced spawning perlakuannya sama seperti pemijahan Induced breeding, hanya setelah induk jantan dan betina disuntik, dimasukan ke dalam bak pemijahan dan dibiarkan sampai terjadi pemijahan secara alami.
Setelah memijah maka induk jantan dan betina dikeluarkan dari bak pemijahan dan telur yang sudah dibuahi ditampung dalam wadah yang berisi air serta diaerasi dan dibiarkan sampai mengembang secara maksimal.
*
Penetasan Telur
Penetasan dilakukan di dalam hapa corong berdiameter 40 cm dan tinggi 40 cm dengan mengalirkan air dari bawah untuk memutar air yang berisi telur agar tidak menumpuk. Padat penebaran telur 10.000 butir/corong. Telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam pada suhu 29°C.
Selain di dalam hapa corong penetasan dapat juga dilakukan di dalam akuarium (40 x 60 x 40) cm yang dilengkapi dengan aerasi. Padat tebar telur 5.000 butir/akuarium pada suhu 26 s/d 29°C, telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam.
*
Pemeliharaan Larva
Setelah menetas larva di pelihara dalam corong yang sama , namun sebelumnya telur-telur yang tidak menetas di buang dahulu. Lama pemeliharaan dalam corong 4 hari. Apabila telur ditetaskan dalam akuarium , setelah menetas larva bisa dipelihara di akuarium yang sama namun sebelumnya telur yang tidak menetas dan ¾ bagian air di buang dahulu dan diisi air yang baru. Larva yang sudah berumur 4 hari bisa langsung di tebar di kolam pendederan, atau di beri pakan alami berupa nauplii Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva dalam akuarium selama 10 hari, air harus di ganti setiap hari sebanyak 2/3 bagian.

Pendederan
Pendederan Pertama

Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva yang meliputi : pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kelamir. Kolam yang digunakan luasnya 500 s/d 1.000 m2.

Kolam kemudian dikapur dengan kapur tohor. Dosis pengapuran 50 s/d 100 gr/m2, caranya kapur tohor dilarutkan terlebih dahulu kemudian disebarkan secara merata keseluruh dasar kolam.

Pemupukan dengan menggunakan kotoran ayam. Dosis pemupukan 500 gr/m2, kemudian diisi air setinggi 40 cm.Setelah 4 hari benih grass carp sudah dapat ditebarkan, sebaik waktu penebaran pada pagi hari atau sore hari. Padat penebaran 100 s/d 200 ekor/m2.

Pemeliharaan di kolam pendederan pertama selama 21 hari. Pakan tambahan di berikan setiap hari berupa pellet halus sebanyak 75 gr/1.000 ekor larva dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari.

Pendederan Kedua

Persiapan kolam pada pendederan kedua dilakukan sama seperti pendederan pertama. Padat penebaran larva 50 s/d 100 ekor/m2. Larva setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 10 % dari biomassa dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari. Lama pemeliharaan pada pendederan kedua selama 28 hari.

PENYAKIT

Penyakit yang sering menyerang benih Grass Carp adalah parasit yaitu : Trichodina, Gyrodactylus, Glosatella, Scypidia, Chillodonella, yang biasanya menyerang bagian permukaan tubuh dan insang. Cara mengatasinya dengan pemberian formalin 25 ppm.


Sumber : Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Website : www.bbpbat.net

Kamis, 18 Maret 2010

media budidaya ikan lele




Kolam / bak Pembesaran lele

Budidaya Lele tidak harus dibudidayakan pada kolam yang luas, tetapi bisa dibudidayakan pada bak-bak kecil dipekarangan rumah.
Budidaya lele akan lebih efektif dan terkontrol bila dibudidayakan pada bak-bak, karena dengan dibudidayakan pada bak kita akan lebih mudah mengontrol kualitas air, mudah dalam pemberian pakan.

Ikan lele kenapa bisa dibudidayakan pada bak-bak kecil, karena jenis ikan ini tergolong mempunyai kepadatan yang tinggi bila dibandingkan dengan jenis ikan yang umum dibudidayakan yaitu seperti mas, nila.

Konstruksi bak yang digunakan untuk budidaya lele biasanya terbuat dari tembok atau semen. Tetapi bisa juga pada kolam terpal atau plastik.

Jumat, 26 Februari 2010

Budidaya Ikan Koi (Cyprinus carpio)

Budidaya Ikan Koi (Cyprinus carpio)
Penulis : Admin

Ikan Koi termasuk ke dalam golongan ikan carp (karper). Harga Koi sangat ditentukan berdasarkan bentuk badan dan kualitas tampilan warna. Ikan koi pertama kali dikenal pada dinasti Chin tahun 265 dan 316 Masehi. Koi dengan keindahan warna dan tingkah laku seperti yang kita ketahui saat ini, mulai dikembangkan di Jepang 200 tahun yang lalu di pegunungan Niigata oleh petani Yamakoshi. Pemuliaan yang dilakukan bertahun-tahun menghasilkan garis keturunan yang menjadi standar penilaian koi. Beberapa varietas yang tersebar ke seluruh dunia digolongkan Asosiasi Koi Jepang (en Nippon Airinkai) menjadi 13 kelompok antara lain: Bekko, Utsurinomo, Asagi-Shusui, Goromo, Kawarimono, Ogon dan Hikari-moyomono. Sedangkan 5 golongan utama yaitu Kohaku, Sanke, Showa, Hirarinuji dan Kawarigoi.
Taksonomi koi adalah sebagai berikut:
Philum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cyprinoformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies: Carpio
Nilai koi tergantung dari ukuran, bentuk serta keseimbangan pola dan intensitas warna kulit. Koi terbaik adalah yang memiliki intensitas, keseimbangan dan kejernihan warna terbaik. Membeli koi kecil sebaiknya dipilih yang memiliki kepala terbesar, biasanya akan tumbuh menjadi ikan dengan tubuh besar. Bentuk yang paling baik adalah seperti “torpedo”.

1. Pemilihan lokasi & konstruksi wadah
Ikan koi secara alami hidup di air deras sehingga membutuhkan air jernih dan berkadar oksigen tinggi. Pemeliharaan ikan koi yang terbaik adalah di kolam sehingga mudah mendapatkan makanan alami dan sinar matahari untuk merangsang pewarnaan tubuh. Kolam sebagian dinaungai karena sinar matahari yang terlalu banyak menyebabkan suhu air kolam meningkat dan air kolam menjadi keruh akibat blooming fitoplankton.
Koi berukuran kecil dapat ditempatkan di akuarium, walaupun ini tidak dapat menjadi habitat permanen. Bila dipelihara dalam kelompok, koi akan belajar untuk tidak mengganggu ikan yang berukuran sama, tetapi memakan ikan yang lebih kecil. Koi suka menggali dasar kolam sehingga menyebabkan akar tanaman rusak.
selengkapnya.................................

sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

Kamis, 25 Februari 2010

TEKNIK PRODUKSI INDUK BETINA IKAN NILA

TEKNIK PRODUKSI INDUK BETINA IKAN NILA
T. Yuniarti, Sofi Hanif, Teguh Prayoga, Suroso


Abstrak
Dalam rangka memenuhi kebutuhan induk betina sebagai pasangan dari induk jantan YY , maka
diperlukan suatu teknologi untuk memproduksi induk nila tunggal kelamin betina. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah produksi induk jantan XX. Populasi induk jantan XX jika dikawinkan dengan betina (XX) maka akan diperoleh keturunan tunggal kelamin betina (monosex).

Pada tahun 2006, tahapan yang dilakukan dalam kegiatan produksi induk betina ikan nila ini adalah tahap uji keturunan terhadap induk jantan fungsional (XX). Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan induk jantan XX hasil verivikasi.

Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa dari 38 ekor induk jantan fungsinonal (XX), ternyata hanya menghasilkan 2 ekor induk jantan XX. Hal ini dapat terlihat dari persentase keturunan betina >95% hanya ada 2 ekor yaitu induk dengan kode 460041352B dan 460966737A.
Kata kunci: Tilapia, Breeding Programme, Sex reversal, all- female progeny



PENDAHULUAN

Latar belakang
Di dalam budidaya ikan nila dewasa ini banyak
dikembangkan berbagai teknologi dalam rangka
peningkatan mutu induk ikan nila. Hal ini disebabkan
pada saat ini telah banyak terjadi penurunan kualitas
induk ikan nila. Oleh karena itu kebutuhan induk
bermutu sangat diharapkan dalam rangka memperoleh
benih yang berkualitas.

Pada umumnya populasi induk betina yang
dihasilkan secara alami terbatas (1 betina: 2 jantan),
sedangkan kebutuhan induk betina dalam satu paket
lebih banyak dari jantan (3 betina : 1 jantan), maka
diperlukan suatu teknologi untuk menghasilkan
populasi tunggal kelamin betina. Dalam rangka upaya
untuk menghasilkan populasi induk betina sebagai
pasangan induk ikan nila GESIT, maka dilakukan
rekayasa teknologi untuk memperoleh induk jantan
fungsional XX.

Induk jantan fungsional yang secara
genetis mempunyai kromosom XX ini, apabila
dikawinkan dengan betina normal (XX), maka akan
memperoleh keturunan semua betina. Dengan
demikian upaya pemenuhan kebutuhan akan induk
betina akan lebih cepat.

Tahapan yang pertama kali harus dilakukan
adalah membuat induk jantan fungsional yaitu induk
jantan yang mempunyai kromosom XX. Pembuatan
induk jantan fungsional dapat dilakukan dengan
pemberian pakan yang mengandung hormon 17α methyltestosteron selama masa diferensiasi kelamin pada ikan nila. Waktu diferensiasi kelamin pada ikan
nila terjadi pada saat larva umur 6-7 hari setelah
menetas sampai sekitar umur 27-28 hari setelah
menetas. Selanjutnya larva hasil sex reversal
dipelihara sampai induk untuk dapat dilakukan
verivikasi. Verivikasi untuk mendapatkan induk
jantan XX ini dilakukan dengan uji keturunan
(progeny test).

Tujuan dan Target

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk:
1. Memproduksi induk jantan fungsional XX
2. Menguji populasi induk jantan fungsional yaitu
induk jantan yang mengandung kromosom
dengan cara melakukan uji keturunan.


METODOLOGI

Waktu dan Tempat
Kegiatan ini dilakukan pada bulan Januari-
Desember 2006 di Balai Besar Pengembangan
Budidaya Air Tawar Sukabumi

Bahan dan Alat
Bahan
Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah
sebagai berikut :
1. Induk jantan fungsional (XX) sebanyak
39 ekor
2. Induk betina sebanyak 108 ekor
3. Pakan induk
4. Pakan benih
5. Pakan larva
6. Pewarna eosin/asetokarmin
7. Methylene blue

Alat
Sedangkan alat yang digunakan dalam kegiatan
ini adalah sebagai berikut :
1. Bak pemijahan ukuran 2 x 1 m sebanyak 13buah
2. Akuarium tempat penetasan telur
3. Hapa hijau ukuran 2 x 2 x 1 m untuk tempat
pendederan PI
4. Hapa hitam ukuran 2 x 2 x 1 m untuk tempat
pendederan PI
5. Alat perikanan (scoopnet, ember, lambit,
jolang dan lain-lain)
6. Alat penetasan telur (saringan , water heater,
batu aerasi dan lain-lain)
7. Mikrochip dan detector reader
8. Alat bedah (gunting, pinset, pisau)
9. Mikroskop beserta peralatannya


Metode
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini
adalah dengan melakukan uji keturunan benih hasil
pemijahan antara jantan fungsional (XX) dengan
betina normal (XX).


Prosedur kerja
Tahapan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
Pematangan Induk
- Induk jantan JICA diduga XX dan betina normal
dimatangkan dalam bak yang terpisah
- Pematangan dilakukan selama 2 minggu
- Selama pematangan, dilakukan pemberian pakan
dengan dosis 3%/ berat biomas per hari
Pemijahan
- Pemijahan dapat dilakukan bak ukuran 2x1m
- Pemijahan dilakukan dengan perbandingan
jantan dan betina 1 : 3
- Selama pemijahan dilakukan pemberian pakan 3
kali sehari dengan dosis 5% bobot biomassa
- Telur yang dipanen, ditetaskan di akuarium,
sedangkan larva dipelihara di kolam, bak atau
hapa dalam kolam sebagai tempat pemeliharaan
Penetasan Telur
- Telur yang telah dipanen di tetaskan di dalam
akuarium
- Akuarium tempat penetasan dilengkapi dengan
water heater untuk menjaga suhu optimum 28-30°C.
- Tempat penetasan telur menggunakan saringan
dengan jumlah telur per saringan maksimal 2000
butir
- Media tempat penetasan di beri Methylene blue
untuk mencegah timbulnya jamur
Pendederan
- Menebarkan larva ke dalam hapa dengan padat
tebar 200 ekor/m2. Padat tebar benih untuk
pendederan II adalah 100 ekor/m2.
- Memberikan pakan selama pendederan I dan II
dosis masing-masing 20%, 10% bobot biomass
per hari dengan frekuensi tiga kali.
- Setelah benih mencapai ukuran 5-8 cm,
dilakukan pemeriksaan gonad secara
mikroskopik


Pengamatan Gonad

Pengambilan Jaringan Gonad Ikan Sampel
a. Membunuh ikan sampel dengan cara
menusukkan jarum bedah pada kepala mengenai
otak
b. Membedah ikan sampel menggunakan gunting
bedah mulai dari anus ke arah vertebrae-kepaladada.
c. Mengambil gonad ikan sampel yang berada di
bawah vertebrae menggunakan pinset/penjepit
d. Meletakkan jaringan gonad di atas gelas obyek
e. Mencacah jaringan gonad dengan menggunakan
pisau bedah
Pewarnaan dan Pengamatan Jaringan Gonad
a. Meneteskan satu tetes larutan aceto-carmine di
atas cacahan jaringan gonad
b. Membiarkan proses pewarnaan jaringan gonad
sekitar 1 menit
c. Menutup jaringan gonad hasil pewarnaan dengan
gelas penutup
d. Mengamati hasil pewarnaan di bawah mikroskop
dengan pembesaran 100 kali.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil

Kegiatan teknik produksi induk betina ikan nila
yang dilakukan pada tahun 2006 adalah tahap uji
keturunan (progeny test) induk nila hasil sex reversal.
Induk nila jantan fungsional (XX) didapatkan dengan
pemberian hormon 17∝ Methyltestosteron pada masa
diferensiasi kelamin.

Proses pembentukan induk ikan nila jantan
fungsional (XX) telah dilakukan di BBAT Jambi pada
ikan nila strain JICA. Selanjutnya pada tahun 2005,
induk tersebut didatangkan ke BBPBAT Sukabumi
sebanyak 39 ekor untuk dilakukan uji keturunan.
Progeny test dilakukan dengan mengawinkan
satu per satu induk nila jantan fungsional (XX)
dengan 3 ekor betina normal. Dari 39 ekor induk yang
dilakukan progeny test, hanya 38 ekor yang dapat
menghasilkan keturunan. Keturunan dari 38 ekor
induk jantan XX kemudian dipelihara sampai ukuran
5-8 cm dan selanjutnya dilakukan pengamatan gonad.
Data hasil pengamatan gonad terhadap benih
keturunan induk jantan diduga XX disajikan dalam

Tabel 1.
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa dari 38 ekor
induk jantan hasil sex reversal, ternyata hanya
menghasilkan 2 ekor induk jantan XX. Hal ini dapat
terlihat dari persentase keturunan betina >95% hanya
ada 2 ekor yaitu induk dengan kode 460041352B dan
460966737A.

Pembahasan
Kegiatan teknik produksi induk betina ikan nila
bertujuan untuk memproduksi induk betina secara
massal dalam rangka memenuhi kebutuhan induk
betina ikan nila. Dalam pemijahan ikan nila, biasanya
mengunakan standar rasio jantan : betina adalah 1 : 3,
sedangkan pada pemijahan biasa, rasio kelamin
jantan : betina sekitar 60 : 40. Hal ini menyebabkan
kebutuhan induk betina lebih banyak dibandingkan
jantan.
Tahap pertama yang harus dilakukan untuk dapat
memproduksi induk nila tunggal kelamin betina
adalah dengan pembuatan jantan fungsional (yang
mengandung kromosom XX). Selanjutnya apabila
sudah mendapatkan induk jantan XX dalam jumlah
banyak, maka tahap selanjutnya adalah mengawinkan
induk jantan XX tersebut dengan betina. Dari hasil
perkawinan tersebut, maka akan diperoleh keturunan
tunggal kelamin betina (monoseks betina).

Dari 38 ekor induk jantan hasil sex reversal,
ternyata hanya dapat menghasilkan 2 ekor induk
jantan XX. Hasil uji keturunan terhadap induk jantan
hasil sex reversal menunjukkan bahwa tingkat
keberhasilan dari sex reversal masih sangat rendah.
Kemungkinan hal ini disebabkan oleh beberapa faktor
yang tidak tepat pada saat pemberian hormon.
Tingkat keberhasilan sex reversal sangat tergantung
dari efektifitas pemberian hormon 17∝Methyltestosteron. Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi efektifitas pemberian hormon ini,
diantaranya adalah : jenis hormon, dosis hormon,
waktu diferensiasi kelamin, metode pemberian
hormon dan suhu.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kesimpulan dari kegiatan ini adalah bahwa dari
38 ekor induk nila jantan diduga XX hanya
menghasilkan 2 ekor induk jantan XX.

Saran
Dari hasil kegiatan ini disarankan untuk dapat
memperbanyak induk nila jantan XX, dikarenakan
jumlah induk jantan XX yang ada baru 2 ekor.

DAFTAR PUSTAKA
Dunham, Rex.A. 2004. Aquaculture and Fisheries
Biotecnology.Genetic Approachs. Departement
of Fisheries and Allied Aquaculture. Auburn
University. Alabama, USA
Effendi, Irzal. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Maskur, S. Hanif, A. Sucipto, D.I. Handayani, dan T.
Yuniarti. 2004. Protokol Pemuliaan (Genetic
Improvement) Ikan Nila. Pusat Pengembangan
Induk Ikan Nila Nasional. BBPBAT,
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,
Departemen Kelautan dan Perikanan.
Pillay, T. V. R and M. N. Kutty. 2005. Aquaculture
Principles and Practices. Second edition.
Blackwell Publishing Ltd.
Potts, G. W and R. J. Wootton. 1984. Fish
Reproduction . Strategies and Tactics. Academic
Press Inc.

sumber : http://www.dkp.go.id

Selasa, 23 Februari 2010

pemberian pakan ikan mas

pemberian pakan ikan mas

pakan yang diberikan pada ikan mas adalah berupa pakan pellet. pellet diberikan sebanyak 3 kali sehari. ikan yang dipelihara ini berumur 1,5 bulan dari hasil pemijahan induk betina yang berbobot 5 kg.

ikan mas ini dipelihara pada kolam dengan konstruksi tembok tapi dasar kolamnya berupa tanah. Pemeliharaan ikan mas dikolam akan lebih cepat pertumbuhannya bila diberi pakan yang berkualitas, mengandung 3 unsur pakan yang cukup yaitu protein, lemak dan karbrohidrat.

pakan alami juga perlu diberikan pada ikan. pakan alami biasanya diberikan pada ikan yang masih berukuran benih. jenis pakan alami yaitu berupa plankton (fithoplankton dan zooplankton)

Senin, 01 Februari 2010

ikan lele yang siap untuk dipanen



ikan lele yang siap untuk dipanen

ikan lele ini berukuran 7-10 ekor per kg, ikan lele ini siap untuk dipanen dan dipasarkan, lele yang berukuran seperti ini merupakan lele yang siap dikonsumsi oleh kita sebagai teman nasi.

ikan lele ini cocok dijadikan sebagai pecel lele. bila ukuran lele yang terlalu besar tidak cocok untuk dikonsumsi dan umunya orang tidak menyukai makan lele yang berkuran dewasa.

kelebihan dari berbudidaya ikan lele ini adalah dapat dibudidayakan pada areal yang minim sumber air, karena ikan lele tidak perlu membutuhkan air yang mengalir deras, cukup dengan debit air yang kecil. kita tidak perlu khawatir dengan kekurangannya oksigen dalam kolam, meskipun oksigen sedikit lele dapat bernapas dan mengambil udara ke permukaan air kolam, karena ikan lele mempunyai alat pernapasan tambahan berupa labirin.

ikan lele tergolong ikan yang mempunyai kemampuan tumbuh dengan cepat apalagi bila ditunjang dengan pakan yang berkualitas dan cukup.

http://hobiikan.blogspot.com/

Kamis, 28 Januari 2010

Analisis Usaha Budidaya Belut di Dalam Tong atau Drum

Analisis Usaha Budidaya Belut di Dalam Tong atau Drum

asumsi
1. Tong atau drum yang digunakan bervolume 200 liter sebanyak 20 buah.
2. Lama setiap periode pemeliharaan 4 bulan. Namun, tidak menutup kemungkinan jika periode pemeliharaan bisa lebih cepat menjadi 3 bulan.
3. Tong atau deum dapat digunakan selama 4 tahun (12 Periode pemeliharaan)
4. Cat Minyak, Pipa PVC dan perlengkapan pendukung dapat digunakan selama 4 tahun
5. Padat tebar bibit 2 kg per drum, menggunakan bibit berjumlah 80-100 ekor per kg. Jadi kepadatan maksimal tong 200 ekor bibit.
6. Kegiatan budi daya dilakukan sendiri oleh pembudidaya, hanya proses penyiapan tong dan pembuatan media yang menggunakan tenaga kerja borongan.
7. Media yang digunakan adalah campuran tanah yang dimatangkan dengan media instan bokashi.
8. Pakan utama yang dibudidayakan sendiri, sehingga menekan biaya pakan.

Analisis Usaha
Biaya investasi
- Tong atau drum 20 buah @ Rp100.000......................Rp 2.000.000
- Cat minyak 7 kaleng @ Rp8.000...................................Rp 56.000
- Pipa PVC 2 inchi 3 batang @ Rp30.000.......................Rp 90.000
- Perlengkapan pendukung
(ember, cangkul, serok, baskom, Was, dan jeriken)......Rp 200.000
- Upah pembuatan tong (borongan..................................Rp 100.000
Total investasi.....................................................................Rp2.446.000


Biaya operasional per periode pemeliharaan
— Biaya Tetap
Penyusutan tong atau drum Rp2.000.000 : 12 ............Rp 167.000
Penyusutan cat Rp56.000 : 12 ........................................Rp 4.700
Penyusutan pipa PVC Rp90.000 : 12............................. Rp 7.500
Penyusutan peralatan pendukung Rp200.000 : 12...... Rp 16.700
Penyusutan upah persiapan drum Rp100.000: 12........ Rp 8.400
total biaya tetap.................................................................... Rp 204.300


— Biaya Tidak Tetap
Bibit belut 40 kg x Rp40.000/kg.................................................... Rp 1.600.000
Pelet, cacing, dan ikan-ikanan kecil 474 kg x Rp3.000/kg.......... Rp 1.422.000
EM4 4,5 botol x Rp , 25.000/ botol................................................. Rp 112.500
Jerami padi 4 ikat x Rp5.000/ikat.................................................. Rp 20.000
Batang pisang 10 batang x Rp1.000/batang.................................. Rp 10.000
Bekatul atau dedak 67 kg x Rp2.000/kg......................................... Rp 134.000
Pupuk kandang 4 karung x Rp6.000/karung................................. Rp 24.000
Gula 0,25 kg x Rp6.000/kg............................................................... Rp 1.500
HSC (Humic Substance Complex) 1 botol......................................... Rp 90.000
Tenaga pembuatan media................................................................... Rp 50.000
Total biaya tidaktetap.......................................................................... Rp3.464.000


— Total Biaya Operasional
Total biaya operasional = Total Biaya Tetap + Total Biaya Tidak Tetap
= Rp204.300 + Rp3.464.000
= Rp3.668.300

3. Penerimaan per Periode
Penjualan hasil panen 400 kg x Rp25.000/kg = Rp10.000.000

4. Keuntungan
Keuntungan = Total penerimaan - total biaya operasional
= Rp10.000.000 - Rp3.668.300
= Rp6.331.700

5. Pay Back Period
Pay back period adalah waktu titik batik modal atau titik impas,
yaitu perbandingan antara total investasi dengan keuntungan yang diperoleh.

Pay back period = (Total investasi : keuntungan) x 1 bulan
= (Rp2.446.000 : Rp6.331.700) x 1 bulan
= 0,4 bulan


sumber : Drs.Ruslan Roy, MM dan Bagus Harianto, AgroMedia Pustaka, 2009



cetak halaman ini

Senin, 11 Januari 2010

jenis ikan yang cocok untuk dibudidayakan dan dikembangbiakan dipekarangan rumah

jenis ikan yang cocok untuk dibudidayakan dan dikembangbiakan dipekarangan rumah

budidaya ikan dipekarangan rumah adalah memelihara ikan pada areal yang tidak begitu luas yang lokasinya berdekatan dengan rumah tinggal. media kolam untuk memelihara ikan dipekarangan rumah umumnya terbuat dari tembok, ataupun juga bisa menggunakan drum, terpal dan karpet.

jenis ikan yang cocok untuk dipelihara dipekarangan rumah diusahakan menggunakan jenis ikan yang tahan atau toleransi terhadap kualitas air, seperti : lele, nila, mujair, belut. dipilih ikan tersebut dikarenakan media pemeliharaan ikan dipekarangan rumah umumnya relatif sempit, sehingga kualitas air seperti oksigen pun tidak akan tersuplai secara sempurna baik secara difusi maupun input dari air yang masuk. ikan-ikan tersebut relatif tahan terhadap kondisi air kolam dengan kadar oksigen yang rendah karena ikan tersebut mempunyai alat pernapasan tambahan yaitu seperti Lele. kalau untuk ikan nila ataupun mujair, ikan ini mempunyai toleransi yang besar terhadap kualitas air yang jelek tetapi apabila kita ingin membesarkan atau memijahkan ikan ini maka persyaratan kualitas airpun perlu dipenuhi.

belut dapat hidup tumbuh dan berkembang pada areal yang sempit, sekalipun dipelihara di dalam drum, asalkan media untuk memelihara belut ini dicukupi sesuai dengan kondisi hidup di alam.

jadi dalam memelihara ikan dipekarangan rumah adalah merupakan pilihan alternatif dari cara berbudidaya ikan dengan alasan bahwa areal untuk dijadikan lahan budidaya sudah tidak ada. dan budidaya di pekarangan rumah ini cocok dikembangkan di kota yang relatif lahan budidayanya sempit. keuntungan dari berbudidaya ikan dipekarangan rumah ini adalah selain kita bisa mendapatkan penghasilan dari hasil budidaya kita juga bisa membantu kebutuhan konsumsi ikan rumah tangga.




cetak halaman ini

Minggu, 27 Desember 2009

Istilah-istilah pada ikan gurame

Istilah-istilah pada ikan gurame, pada benih ikan gurame :
berdasarkan SNI (Standar Nasional Indonesia)

a. Larva adalah fase gurami sejak menetas hingga kuning telur habis dan mulai memperoleh makanan dari lingkungannya serta memiliki bentuk yang berbeda dengan ikan dewasa berumur 10— 12 hari.

b. Induk Pokok (Parent Stock, PS) adalah ikan keturunan pertama dari induk dasar (Grand Parent Stock, GPS).

c. Pendederan Pertama (P I) adalah pemeliharaan benih dari tingkat larva sampai ke tingkat benih ukuran 1-2 cm.

d. Pendederan Kedua (P II) adalah pemeliharaan benih tingkat ukuran 1-2 cm sampai tingkat benih ukuran 2-4 cm.

e. Pendederan Ketiga (P III) adalah pemeliharaan benih dari tingkat ukuran 2-4 cm sampai ke tingkat benih ukuran 4-6 cm.

f. Pendederan Keempat (P IV) adalah pemeliharaan benih dari tingkat ukuran 4-6 cm sampai ke tingkat benih ukuran 6-8 cm.

g. Pendederan Kelima (P V) adalah pemeliharaan benih dari tingkat ukuran 6-8 cm sampai ke tingkat benih ukuran 8-11 cm.

Sabtu, 26 Desember 2009

Wadah Pemeliharaan di Karamba jaring Apung

Wadah Pemeliharaan di Karamba jaring Apung


a. Kerangka
1. Bahan: kayu tahan air, bambu atau besi yang dicat anti karat
2. Ukuran: 7 x 7 m2
3. Bentuk empat, persegi.

b. Pelampung
1. Bahan: Styrofoam, drum plastik
2. Bentuk silindris
3. Ukuran: volume 120 liter
4. Jumlah: minimal 8 buah/unit rakit

c. Tali jangkar
1. Bahan: polietilena (PE)
2. Panjang: 1,5 kali kedalaman perairan maksimal
3. jumlah: 4 utas/unit jaring apung
4. Diameter: minimal 1,5 cm

d. jangkar
1. Bahan: besi, blok beton, batu
2. Bentuk jangkar, segi empat
3. Berat: 40 kilogram/buah
4. Jumlah: 4 buah/unit jaring apung

e. jaring
1. Bahan: polietilena, PE 210 D/ 18
2. Ukuran mata jaring: 1 inci
3. Warna: hijau, hitam
4. Ukuran jaring: 7 x 7 x 3,5 m3

f. Waring
1. Bahan: nilon
2. Ukuran mata. waring: 1 cm
3. Warna: hijau, hitam
4. Ukuran waring: 3 x 3 x 1,5 m3

sumber : Khairul Amri, S.Pi. M.Si dan Khairuman, S.P. Agromedia Pustaka, 2008

Minggu, 20 Desember 2009

Benih ikan mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain sinyonya kelas benih sebar

Benih ikan mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain sinyonya kelas benih sebar
Penulis : Admin

Benih sebar ikan mas strain sinyonya kelas benih sebar adalah keturunan pertama dari induk pokok yang memenuhi standar mutu benih sebar dan terdiri dari larva, kebul, putihan, belo dan sangkal yang telah teruji keunggulannya serta siap untuk disebarluaskan kepada petani/pengguna.

PERSYARATAN

1 Kualitatif
1) Larva : hasil penetasan telur dari pemijahan induk kelas induk pokok dengan induk jantan dan induk betina bukan satu keturunan; warna transparan; bentuk tubuh normal; berenang di permukaan air menyebar di tepi wadah.
2) Kebul : benih berumur 4 hari; bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna kuning; bentuk tubuh normal; mata : bulat; berenang bergerombol di permukaan tepi wadah dan aktif menyongsong air baru serta ekor bergerak sangat cepat sehingga tidak terlihat jelas gerakannya.
3) Putihan : benih berumur 20 hari; bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna kuning tua dan ekor berwarna terang bersinar; bentuk tubuh sempurna; mata bulat; berenang bergerombol di permukaan air dan aktif menyongsong air baru.
4) Belo : benih umur 40 hari; bagian perut berwarna putih kekuningan; bagian punggung berwarna kuning dan ekor berwarna terang bersinar; bentuk tubuh panjang dan kepala tidak besar; mata bulat; berenang bergerombol di permukaan air dan aktif menyongsong arus.
5) Sangkal : benih umur 70 hari; bagian perut berwarna kuning muda; bagian punggung berwarna kuning tua dan ekor berwarna terang bersinar; bentuk tubuh panjang dan kepala tidak besar; bentuk mata tidak terlalu bulat; berenang bergerombol di permukaan air dan aktif menyongsong arus.

2 Kuantitatif
Persyaratan kuantitatif benih ikan mas strain sinyonya kelas benih sebar seperti pada tabel dibawah ini :

1. Umur Maksimal
a. Larva : 7 hari
b. Kebul : 20 hari
c. Putihan : 40 hari
d. Belo : 70 hari
e. Sangkal : 90 hari

2. Panjang Total Minimal
a. Larva : 0,6 – 0,8 cm
b. Kebul : 1 – 3 cm
c. Putihan : 3 – 5 cm
d. Belo : 5 – 8 cm
e. Sangkal : 8 – 12 cm

3. Bobot Minimal
a. Larva : –
b. Kebul : 0,2 gram
c. Putihan : 3 gram
d. Belo : 6 gram
e. Sangkal : 10 gram

4. Keseragaman Ukuran Minimal
a. Larva : 100 %
b. Kebul : > 95 %
c. Putihan : > 90 %
d. Belo : > 90 %
e. Sangkal : > 90 %

5. Keseragaman Warna Minimal
a. Larva : 100 %
b. Kebul : > 95 %
c. Putihan : > 90 %
d. Belo : > 90 %
e. Sangkal : > 90 %

6. Keseragaman Kelincahan Gerak Akibat Rangsangan Luar
a. Larva : –
b. Kebul : 100 %
c. Putihan : 100 %
d. Belo : 100 %
e. Sangkal : 100 %

7. Keseragaman Gerak Melawan Arus
a. Larva : –
b. Kebul : 80 %
c. Putihan : 95 %
d. Belo : 100 %
e. Sangkal : 100 %

CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN
1) Umur : ditentukan sejak telur menetas berdasarkan catatan.
2) Panjang total : dari ujung mulut sampai ujung sirip ekor menggunakan penggaris atau jangka sorong dalam milimeter atau centimeter.
3) Bobot badan : menimbang contoh ikan dalam gram.
4) Kesehatan ikan : a) pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 10 % dari populasi atau minimal 30 ekor, untuk pengamatan visual maupun mikroskopik; b) pengamatan visual dilakukan untuk memeriksa gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
5) Respon : a) dengan mengalirkan air di wadah pemeliharaan atau penampungan, benih yang sehat akan bergerak/berenang melawan arus; b) dengan memberikan pakan di wadah pemeliharaan atau penampungan, benih yang sehat responsif terhadap pemberian pakan; c) dengan memberikan rangsangan pada wadah pemeliharaan atau penampungan,benih yang sehat akan bergerak menyebar dengan cepat bila ada gangguan.
sumber : http://www.perikanan-budidaya.go.id

Sabtu, 19 Desember 2009

Ikan Mas Sinyonya

ikan mas strain sinyonya adalah jenis ikan hasil seleksi yang secara taksonomi termasuk spesies Cyprinus Linneaus dan pertama kali di temukan di daerah Tasikmalaya Jawa Barat. Berwarna kuning muda sampai kuning, bersisik penuh, badan relatif lebar, perut besar, kepala normal, bentuk kuduk rata, mata sipit, kecepatan tumbuh relatif sedang dan secara umum dipelihara di daerah Jawa Barat dan Sumatera Utara.
sumber : Khairuman, SP dan Khairul Amri, S.Pi, M.Si, Agromedia Pustaka, 2008