Tampilkan postingan dengan label TEHNIK BUDIDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEHNIK BUDIDAYA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 April 2010

Sudahkah Anda Tahu ??? Teknik Pembenihan Ikan Grass Carp (Ctenopharyngodon idella)

Sudahkah Anda Tahu ???
Teknik Pembenihan Ikan Grass Carp (Ctenopharyngodon idella)


Grass Carp (Ctenopharyngodon idella) berasal dari China bagian timur dan USSR. Ikan ini didatangkan ke Indonesia (Sumatera) pada tahun 1915. Pada tahun 1949 didatangkan ke Jawa dengan tujuan untuk dibudidayakan.

Ikan Grass Carp atau ikan Koan merupakan herbivora yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini memakan tumbuhan air seperti Hydrilla sp., Salvinia, rumput-rumputan dan tumbuhan air lainnya, sehingga ikan jenis ini dapat dipakai sebagai ikan pengendali gulma air baik di kolam maupun diperairan umum.

BIOLOGI

Secara sistematis ikan grass carp termasuk dalam kelas Osteichthyes, ordo Cyprinipormes, famili Cyprinidae.

Ciri-ciri fisik ikan ini adalah warna abu-abu gelap kekuningan dengan campuran perak kemilau, badan memanjang, kepala lebar dengan moncong bulat pendek, gigi paringeal dalam deretan ganda dengan bentuk seperti sisir. Ikan grass carp dapat mencapai ukuran panjang maksimal 120cm dan bobot tubuh 20 kg.

Induk ikan grass carp sudah dapat memijah pada umur 3 s/d 4 tahun dengan berat betina mencapai 3 kg dan jantan 2 kg. Pemijahan biasanya terjadi pada musim penghujan.

PEMBENIHAN
Pemeliharaan Induk

Induk-induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 0,2 s/d 0,3 kg/m2. Selain diberi pakan tumbuhan air atau rumput-rumputan juga diberi pakan buatan berupa pellet sebanyak 1% dari berat total populasi dengan berat frekuensi pemberian sebanyak 2 kali per hari.

Induk ikan grass carp dapat dipijahkan setelah berumur 1 tahun dengan berat 2 - 2,5 kg.

Tanda-tanda Induk matang gonad :

Betina : Perut mulai bagian dada sampai ke arah pengeluaran menbesar, bila ditekan terasa lembek, lubang kelamin agak kemerahan dan agak menyembul keluar serta gerakan relatif lamban.
Jantan : Dibandingkan dengan betina bentuk badan relatif lebih langsing, sirip dada bagian atas kasar dan bila perut diurut kearah lubang kelamin akan keluar cairan berwarna putih (sperma).

Pemijahan
Cara pemijahan ikan grass garp dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

* Induced breeding
Pemijahan secara ”Induced breeding” yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang yang berasal dari kelenjar hipofisa ikan donor atau menggunakan hormon LHRH-a atau ovaprim™.
Induk betina disuntik 2 kali dengan selang waktu 4 s/d 6 jam, apabila menggunakan kelenjar hipofisa 2 dosis tetapi apabila menggunakan ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg. Penyuntikan pertama 1/3 bagian dan penyuntikan kedua 2/3 bagian.
Induk jantan disuntik cukup sekali, menggunakan kelenjar hipofisa 1 dosis, bila menggunakan ovaprim 0,15 ml/kg dan dilakukan bersamaan dengan penyuntikan kedua pada induk betina.
Kedua induk ikan setelah disuntik dimasukan ke dalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan hapa, setelah 6 jam dari penyuntikan pertama induki betina diperiksa kesiapan ovulasinya setiap 1 jam sekali, dengan cara diurut secara perlahan.
Ikan yang akan memijah biasanya ditandai dengan saling kejar, perut besar dan lunak, keluar cairan kuning dari lubang kelamin.
Setelah tanda-tanda tersebut, induk jantan dan betina diangkat untuk dilakukan stripping (pengurutan) yaitu dengan mengurut bagian perut ke arah lubang kelamin. Telurnya ditampung dalam wadah/baki plastik dan pada saat bersamaan induk jantan di-stripping dan spermanya ditampung dalam wadah yang lain kemudian diencerkan dengan cairan fisiologis (NaCl 0,9 %) atau cairan Sodium Klorida.
Sperma yang telah diencerkan dituangkan kedalam wadah telur secara perlahan-lahan serta diaduk dengan menggunakan bulu ayam. Tambahkan air bersih dan diaduk secara merata sehingga pembuahan berlangsung dengan baik. Untuk mencuci telur dari darah dan kotoran serta sisa sperma, tambahkan lagi air bersih kemudian airnya dibuang, lakukan beberapa kali sampai bersih, setelah bersih telur dipindahkan kedalam wadah yang lebih besar dan berisi air serta diberi aerasi, biarkan selama kurang lebih 1 jam sampai mengembang secara maksimal.
*
Induced spawning
Pemijahan secara Induced spawning perlakuannya sama seperti pemijahan Induced breeding, hanya setelah induk jantan dan betina disuntik, dimasukan ke dalam bak pemijahan dan dibiarkan sampai terjadi pemijahan secara alami.
Setelah memijah maka induk jantan dan betina dikeluarkan dari bak pemijahan dan telur yang sudah dibuahi ditampung dalam wadah yang berisi air serta diaerasi dan dibiarkan sampai mengembang secara maksimal.
*
Penetasan Telur
Penetasan dilakukan di dalam hapa corong berdiameter 40 cm dan tinggi 40 cm dengan mengalirkan air dari bawah untuk memutar air yang berisi telur agar tidak menumpuk. Padat penebaran telur 10.000 butir/corong. Telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam pada suhu 29°C.
Selain di dalam hapa corong penetasan dapat juga dilakukan di dalam akuarium (40 x 60 x 40) cm yang dilengkapi dengan aerasi. Padat tebar telur 5.000 butir/akuarium pada suhu 26 s/d 29°C, telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam.
*
Pemeliharaan Larva
Setelah menetas larva di pelihara dalam corong yang sama , namun sebelumnya telur-telur yang tidak menetas di buang dahulu. Lama pemeliharaan dalam corong 4 hari. Apabila telur ditetaskan dalam akuarium , setelah menetas larva bisa dipelihara di akuarium yang sama namun sebelumnya telur yang tidak menetas dan ¾ bagian air di buang dahulu dan diisi air yang baru. Larva yang sudah berumur 4 hari bisa langsung di tebar di kolam pendederan, atau di beri pakan alami berupa nauplii Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva dalam akuarium selama 10 hari, air harus di ganti setiap hari sebanyak 2/3 bagian.

Pendederan
Pendederan Pertama

Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva yang meliputi : pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kelamir. Kolam yang digunakan luasnya 500 s/d 1.000 m2.

Kolam kemudian dikapur dengan kapur tohor. Dosis pengapuran 50 s/d 100 gr/m2, caranya kapur tohor dilarutkan terlebih dahulu kemudian disebarkan secara merata keseluruh dasar kolam.

Pemupukan dengan menggunakan kotoran ayam. Dosis pemupukan 500 gr/m2, kemudian diisi air setinggi 40 cm.Setelah 4 hari benih grass carp sudah dapat ditebarkan, sebaik waktu penebaran pada pagi hari atau sore hari. Padat penebaran 100 s/d 200 ekor/m2.

Pemeliharaan di kolam pendederan pertama selama 21 hari. Pakan tambahan di berikan setiap hari berupa pellet halus sebanyak 75 gr/1.000 ekor larva dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari.

Pendederan Kedua

Persiapan kolam pada pendederan kedua dilakukan sama seperti pendederan pertama. Padat penebaran larva 50 s/d 100 ekor/m2. Larva setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 10 % dari biomassa dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari. Lama pemeliharaan pada pendederan kedua selama 28 hari.

PENYAKIT

Penyakit yang sering menyerang benih Grass Carp adalah parasit yaitu : Trichodina, Gyrodactylus, Glosatella, Scypidia, Chillodonella, yang biasanya menyerang bagian permukaan tubuh dan insang. Cara mengatasinya dengan pemberian formalin 25 ppm.


Sumber : Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Website : www.bbpbat.net

Kamis, 18 Maret 2010

media budidaya ikan lele




Kolam / bak Pembesaran lele

Budidaya Lele tidak harus dibudidayakan pada kolam yang luas, tetapi bisa dibudidayakan pada bak-bak kecil dipekarangan rumah.
Budidaya lele akan lebih efektif dan terkontrol bila dibudidayakan pada bak-bak, karena dengan dibudidayakan pada bak kita akan lebih mudah mengontrol kualitas air, mudah dalam pemberian pakan.

Ikan lele kenapa bisa dibudidayakan pada bak-bak kecil, karena jenis ikan ini tergolong mempunyai kepadatan yang tinggi bila dibandingkan dengan jenis ikan yang umum dibudidayakan yaitu seperti mas, nila.

Konstruksi bak yang digunakan untuk budidaya lele biasanya terbuat dari tembok atau semen. Tetapi bisa juga pada kolam terpal atau plastik.

Selasa, 02 Maret 2010

bak budidaya ikan lele

bak budidaya ikan lele

bak pemijahan ikan lele terbuat dari tembok. Ikan lele bisa hidup pada kondisi air yang kurang baik, meskipun pada air yang tergenang / tidak mengalir ikan lele ini dapat hidup asal diberi pakan yang cukup. Ikan lele dapat hidup pada kondisi oksigen yang kurang karena ikan mempunyai alat pernapasan tambahan labirin, yang dapat mengambil oksigen langsung ke permukaan air kolam.
Dengan demikian ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang mudah dibudidayakan baik di lingkungan pedesaan dan perkotaan. Bagi orang yang tidak mempunyai lahan yang luas untuk memelihara ikan, maka memelihara ikan lele merupakan suatu pilihan yang tepat untuk dijadikan ikan peliharaan di pekarangan rumah, sebagai upaya untuk meningkatkan giji masyarakat dan menambah pendapatan keluarga.


cetak halaman ini

Kamis, 25 Februari 2010

TEKNIK PRODUKSI INDUK BETINA IKAN NILA

TEKNIK PRODUKSI INDUK BETINA IKAN NILA
T. Yuniarti, Sofi Hanif, Teguh Prayoga, Suroso


Abstrak
Dalam rangka memenuhi kebutuhan induk betina sebagai pasangan dari induk jantan YY , maka
diperlukan suatu teknologi untuk memproduksi induk nila tunggal kelamin betina. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah produksi induk jantan XX. Populasi induk jantan XX jika dikawinkan dengan betina (XX) maka akan diperoleh keturunan tunggal kelamin betina (monosex).

Pada tahun 2006, tahapan yang dilakukan dalam kegiatan produksi induk betina ikan nila ini adalah tahap uji keturunan terhadap induk jantan fungsional (XX). Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan induk jantan XX hasil verivikasi.

Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa dari 38 ekor induk jantan fungsinonal (XX), ternyata hanya menghasilkan 2 ekor induk jantan XX. Hal ini dapat terlihat dari persentase keturunan betina >95% hanya ada 2 ekor yaitu induk dengan kode 460041352B dan 460966737A.
Kata kunci: Tilapia, Breeding Programme, Sex reversal, all- female progeny



PENDAHULUAN

Latar belakang
Di dalam budidaya ikan nila dewasa ini banyak
dikembangkan berbagai teknologi dalam rangka
peningkatan mutu induk ikan nila. Hal ini disebabkan
pada saat ini telah banyak terjadi penurunan kualitas
induk ikan nila. Oleh karena itu kebutuhan induk
bermutu sangat diharapkan dalam rangka memperoleh
benih yang berkualitas.

Pada umumnya populasi induk betina yang
dihasilkan secara alami terbatas (1 betina: 2 jantan),
sedangkan kebutuhan induk betina dalam satu paket
lebih banyak dari jantan (3 betina : 1 jantan), maka
diperlukan suatu teknologi untuk menghasilkan
populasi tunggal kelamin betina. Dalam rangka upaya
untuk menghasilkan populasi induk betina sebagai
pasangan induk ikan nila GESIT, maka dilakukan
rekayasa teknologi untuk memperoleh induk jantan
fungsional XX.

Induk jantan fungsional yang secara
genetis mempunyai kromosom XX ini, apabila
dikawinkan dengan betina normal (XX), maka akan
memperoleh keturunan semua betina. Dengan
demikian upaya pemenuhan kebutuhan akan induk
betina akan lebih cepat.

Tahapan yang pertama kali harus dilakukan
adalah membuat induk jantan fungsional yaitu induk
jantan yang mempunyai kromosom XX. Pembuatan
induk jantan fungsional dapat dilakukan dengan
pemberian pakan yang mengandung hormon 17α methyltestosteron selama masa diferensiasi kelamin pada ikan nila. Waktu diferensiasi kelamin pada ikan
nila terjadi pada saat larva umur 6-7 hari setelah
menetas sampai sekitar umur 27-28 hari setelah
menetas. Selanjutnya larva hasil sex reversal
dipelihara sampai induk untuk dapat dilakukan
verivikasi. Verivikasi untuk mendapatkan induk
jantan XX ini dilakukan dengan uji keturunan
(progeny test).

Tujuan dan Target

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk:
1. Memproduksi induk jantan fungsional XX
2. Menguji populasi induk jantan fungsional yaitu
induk jantan yang mengandung kromosom
dengan cara melakukan uji keturunan.


METODOLOGI

Waktu dan Tempat
Kegiatan ini dilakukan pada bulan Januari-
Desember 2006 di Balai Besar Pengembangan
Budidaya Air Tawar Sukabumi

Bahan dan Alat
Bahan
Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah
sebagai berikut :
1. Induk jantan fungsional (XX) sebanyak
39 ekor
2. Induk betina sebanyak 108 ekor
3. Pakan induk
4. Pakan benih
5. Pakan larva
6. Pewarna eosin/asetokarmin
7. Methylene blue

Alat
Sedangkan alat yang digunakan dalam kegiatan
ini adalah sebagai berikut :
1. Bak pemijahan ukuran 2 x 1 m sebanyak 13buah
2. Akuarium tempat penetasan telur
3. Hapa hijau ukuran 2 x 2 x 1 m untuk tempat
pendederan PI
4. Hapa hitam ukuran 2 x 2 x 1 m untuk tempat
pendederan PI
5. Alat perikanan (scoopnet, ember, lambit,
jolang dan lain-lain)
6. Alat penetasan telur (saringan , water heater,
batu aerasi dan lain-lain)
7. Mikrochip dan detector reader
8. Alat bedah (gunting, pinset, pisau)
9. Mikroskop beserta peralatannya


Metode
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini
adalah dengan melakukan uji keturunan benih hasil
pemijahan antara jantan fungsional (XX) dengan
betina normal (XX).


Prosedur kerja
Tahapan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
Pematangan Induk
- Induk jantan JICA diduga XX dan betina normal
dimatangkan dalam bak yang terpisah
- Pematangan dilakukan selama 2 minggu
- Selama pematangan, dilakukan pemberian pakan
dengan dosis 3%/ berat biomas per hari
Pemijahan
- Pemijahan dapat dilakukan bak ukuran 2x1m
- Pemijahan dilakukan dengan perbandingan
jantan dan betina 1 : 3
- Selama pemijahan dilakukan pemberian pakan 3
kali sehari dengan dosis 5% bobot biomassa
- Telur yang dipanen, ditetaskan di akuarium,
sedangkan larva dipelihara di kolam, bak atau
hapa dalam kolam sebagai tempat pemeliharaan
Penetasan Telur
- Telur yang telah dipanen di tetaskan di dalam
akuarium
- Akuarium tempat penetasan dilengkapi dengan
water heater untuk menjaga suhu optimum 28-30°C.
- Tempat penetasan telur menggunakan saringan
dengan jumlah telur per saringan maksimal 2000
butir
- Media tempat penetasan di beri Methylene blue
untuk mencegah timbulnya jamur
Pendederan
- Menebarkan larva ke dalam hapa dengan padat
tebar 200 ekor/m2. Padat tebar benih untuk
pendederan II adalah 100 ekor/m2.
- Memberikan pakan selama pendederan I dan II
dosis masing-masing 20%, 10% bobot biomass
per hari dengan frekuensi tiga kali.
- Setelah benih mencapai ukuran 5-8 cm,
dilakukan pemeriksaan gonad secara
mikroskopik


Pengamatan Gonad

Pengambilan Jaringan Gonad Ikan Sampel
a. Membunuh ikan sampel dengan cara
menusukkan jarum bedah pada kepala mengenai
otak
b. Membedah ikan sampel menggunakan gunting
bedah mulai dari anus ke arah vertebrae-kepaladada.
c. Mengambil gonad ikan sampel yang berada di
bawah vertebrae menggunakan pinset/penjepit
d. Meletakkan jaringan gonad di atas gelas obyek
e. Mencacah jaringan gonad dengan menggunakan
pisau bedah
Pewarnaan dan Pengamatan Jaringan Gonad
a. Meneteskan satu tetes larutan aceto-carmine di
atas cacahan jaringan gonad
b. Membiarkan proses pewarnaan jaringan gonad
sekitar 1 menit
c. Menutup jaringan gonad hasil pewarnaan dengan
gelas penutup
d. Mengamati hasil pewarnaan di bawah mikroskop
dengan pembesaran 100 kali.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil

Kegiatan teknik produksi induk betina ikan nila
yang dilakukan pada tahun 2006 adalah tahap uji
keturunan (progeny test) induk nila hasil sex reversal.
Induk nila jantan fungsional (XX) didapatkan dengan
pemberian hormon 17∝ Methyltestosteron pada masa
diferensiasi kelamin.

Proses pembentukan induk ikan nila jantan
fungsional (XX) telah dilakukan di BBAT Jambi pada
ikan nila strain JICA. Selanjutnya pada tahun 2005,
induk tersebut didatangkan ke BBPBAT Sukabumi
sebanyak 39 ekor untuk dilakukan uji keturunan.
Progeny test dilakukan dengan mengawinkan
satu per satu induk nila jantan fungsional (XX)
dengan 3 ekor betina normal. Dari 39 ekor induk yang
dilakukan progeny test, hanya 38 ekor yang dapat
menghasilkan keturunan. Keturunan dari 38 ekor
induk jantan XX kemudian dipelihara sampai ukuran
5-8 cm dan selanjutnya dilakukan pengamatan gonad.
Data hasil pengamatan gonad terhadap benih
keturunan induk jantan diduga XX disajikan dalam

Tabel 1.
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa dari 38 ekor
induk jantan hasil sex reversal, ternyata hanya
menghasilkan 2 ekor induk jantan XX. Hal ini dapat
terlihat dari persentase keturunan betina >95% hanya
ada 2 ekor yaitu induk dengan kode 460041352B dan
460966737A.

Pembahasan
Kegiatan teknik produksi induk betina ikan nila
bertujuan untuk memproduksi induk betina secara
massal dalam rangka memenuhi kebutuhan induk
betina ikan nila. Dalam pemijahan ikan nila, biasanya
mengunakan standar rasio jantan : betina adalah 1 : 3,
sedangkan pada pemijahan biasa, rasio kelamin
jantan : betina sekitar 60 : 40. Hal ini menyebabkan
kebutuhan induk betina lebih banyak dibandingkan
jantan.
Tahap pertama yang harus dilakukan untuk dapat
memproduksi induk nila tunggal kelamin betina
adalah dengan pembuatan jantan fungsional (yang
mengandung kromosom XX). Selanjutnya apabila
sudah mendapatkan induk jantan XX dalam jumlah
banyak, maka tahap selanjutnya adalah mengawinkan
induk jantan XX tersebut dengan betina. Dari hasil
perkawinan tersebut, maka akan diperoleh keturunan
tunggal kelamin betina (monoseks betina).

Dari 38 ekor induk jantan hasil sex reversal,
ternyata hanya dapat menghasilkan 2 ekor induk
jantan XX. Hasil uji keturunan terhadap induk jantan
hasil sex reversal menunjukkan bahwa tingkat
keberhasilan dari sex reversal masih sangat rendah.
Kemungkinan hal ini disebabkan oleh beberapa faktor
yang tidak tepat pada saat pemberian hormon.
Tingkat keberhasilan sex reversal sangat tergantung
dari efektifitas pemberian hormon 17∝Methyltestosteron. Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi efektifitas pemberian hormon ini,
diantaranya adalah : jenis hormon, dosis hormon,
waktu diferensiasi kelamin, metode pemberian
hormon dan suhu.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kesimpulan dari kegiatan ini adalah bahwa dari
38 ekor induk nila jantan diduga XX hanya
menghasilkan 2 ekor induk jantan XX.

Saran
Dari hasil kegiatan ini disarankan untuk dapat
memperbanyak induk nila jantan XX, dikarenakan
jumlah induk jantan XX yang ada baru 2 ekor.

DAFTAR PUSTAKA
Dunham, Rex.A. 2004. Aquaculture and Fisheries
Biotecnology.Genetic Approachs. Departement
of Fisheries and Allied Aquaculture. Auburn
University. Alabama, USA
Effendi, Irzal. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Maskur, S. Hanif, A. Sucipto, D.I. Handayani, dan T.
Yuniarti. 2004. Protokol Pemuliaan (Genetic
Improvement) Ikan Nila. Pusat Pengembangan
Induk Ikan Nila Nasional. BBPBAT,
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,
Departemen Kelautan dan Perikanan.
Pillay, T. V. R and M. N. Kutty. 2005. Aquaculture
Principles and Practices. Second edition.
Blackwell Publishing Ltd.
Potts, G. W and R. J. Wootton. 1984. Fish
Reproduction . Strategies and Tactics. Academic
Press Inc.

sumber : http://www.dkp.go.id

Selasa, 16 Februari 2010

hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berbudidaya ikan gurame

hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berbudidaya ikan gurame

ikan gurame ikan yang sangat sensitif dan mudah stres apabila terjadi perubahan yang ekstrim dan tiba-tiba pada kondisi air di media pemeliharaannya. jadi kuncinya sebisa mungkin kita harus menjaga kondisi kualitas air dan harus bisa mempertahankan kualitas air yang baik.

hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya ikan gurame
1. pemilihan lokasi budidaya,
hal ini berkaitan dengan apa dan dari mana sumber air yang akan digunakan untuk budidaya gurame
dipilih sumber air yang tidak tercemar oleh limbah polusi air.

3. persiapan kolam
persiapan kolam meliputi pengeringan, pengapuran, pemupukan dan penggaraman.

4. tahap budidaya
pemberian pakan yang cukup tidak kurang dan tidak lebih.

5. penanganan ikan yang baik ketika penanaman

6. konstruksi kolam yang baik input dan output kolam tersendiri

7. konstruksi kolam dibuat dengan baik pada waktu hujan lebat usahakan agar air hujan dari limpasan saluran air hujan tidak banyak masuk ke kolam.

http://hobiikan.blogspot.com/

Minggu, 07 Februari 2010

tempat budidaya belut dalam drum

tempat budidaya belut dalam drum

budidaya ikan sekarang tidak harus lagi berbudidaya pada tempat yang luas, tetapi sekarang banyak alternatif lain yang bisa dilakukan untuk bisa berbudidaya/memelihara ikan pada tempat yang relatif sempit. Berbudidaya ikan pada areal yang sempit dapat dilakukan pada tempat dan jenis ikan tertentu, media pemeliharaan yang dapat digunakan untuk memelihara ikan pada lahan yang sempit yaitu dapat menggunakan drum plastik, untuk jenis ikan biasanya menggunakan ikan yang relatif tahan terhadap kondisi air yang minim/sedikit dan jenis ikan yang tahan terhadap kondisi oksigen yang rendah, kenapa demikian karena media pemeliharaan yang disimpan pada lahan sempit umumnya lokasi berada di padat penduduknya yang biasanya minim sumber air.
jenis ikan yang dapat dibudidayakan pada areal yang sempit salah satunya yaitu belut, belut dapat dipelihara pada bak dan drum yang media pemeliharaannya telah disesuaikan dengan habitat aslinya di alam.


cetak halaman ini

Jumat, 05 Februari 2010

mina padi

mina padi

jenis ikan yang umumnya dipelihara di sawah (mina padi) yaitu ikan mas, nila dan nilem. pemeliharaan ikan di sawah umumnya dilakukan pada tahap budidaya pendederan.
memelihara ikan bersama padi memiliki banyak kelebihan diantaranya yaitu di sawah banyak menyediakan pakan alami sehingga ikan yang dipelihara di dalamnya akan mendapatkan pakan secara alami yang ada di sawah, baik fithoplankton maupun zooplankton. Sawah yang dijadikan sebagai minapadi diberi sebuah
kamalir untuk tempat ikan, kemalir ini posisinya bisa di tengah sawah atau dipingir sawah.


Kamis, 28 Januari 2010

Analisis Usaha Budidaya Belut di Dalam Tong atau Drum

Analisis Usaha Budidaya Belut di Dalam Tong atau Drum

asumsi
1. Tong atau drum yang digunakan bervolume 200 liter sebanyak 20 buah.
2. Lama setiap periode pemeliharaan 4 bulan. Namun, tidak menutup kemungkinan jika periode pemeliharaan bisa lebih cepat menjadi 3 bulan.
3. Tong atau deum dapat digunakan selama 4 tahun (12 Periode pemeliharaan)
4. Cat Minyak, Pipa PVC dan perlengkapan pendukung dapat digunakan selama 4 tahun
5. Padat tebar bibit 2 kg per drum, menggunakan bibit berjumlah 80-100 ekor per kg. Jadi kepadatan maksimal tong 200 ekor bibit.
6. Kegiatan budi daya dilakukan sendiri oleh pembudidaya, hanya proses penyiapan tong dan pembuatan media yang menggunakan tenaga kerja borongan.
7. Media yang digunakan adalah campuran tanah yang dimatangkan dengan media instan bokashi.
8. Pakan utama yang dibudidayakan sendiri, sehingga menekan biaya pakan.

Analisis Usaha
Biaya investasi
- Tong atau drum 20 buah @ Rp100.000......................Rp 2.000.000
- Cat minyak 7 kaleng @ Rp8.000...................................Rp 56.000
- Pipa PVC 2 inchi 3 batang @ Rp30.000.......................Rp 90.000
- Perlengkapan pendukung
(ember, cangkul, serok, baskom, Was, dan jeriken)......Rp 200.000
- Upah pembuatan tong (borongan..................................Rp 100.000
Total investasi.....................................................................Rp2.446.000


Biaya operasional per periode pemeliharaan
— Biaya Tetap
Penyusutan tong atau drum Rp2.000.000 : 12 ............Rp 167.000
Penyusutan cat Rp56.000 : 12 ........................................Rp 4.700
Penyusutan pipa PVC Rp90.000 : 12............................. Rp 7.500
Penyusutan peralatan pendukung Rp200.000 : 12...... Rp 16.700
Penyusutan upah persiapan drum Rp100.000: 12........ Rp 8.400
total biaya tetap.................................................................... Rp 204.300


— Biaya Tidak Tetap
Bibit belut 40 kg x Rp40.000/kg.................................................... Rp 1.600.000
Pelet, cacing, dan ikan-ikanan kecil 474 kg x Rp3.000/kg.......... Rp 1.422.000
EM4 4,5 botol x Rp , 25.000/ botol................................................. Rp 112.500
Jerami padi 4 ikat x Rp5.000/ikat.................................................. Rp 20.000
Batang pisang 10 batang x Rp1.000/batang.................................. Rp 10.000
Bekatul atau dedak 67 kg x Rp2.000/kg......................................... Rp 134.000
Pupuk kandang 4 karung x Rp6.000/karung................................. Rp 24.000
Gula 0,25 kg x Rp6.000/kg............................................................... Rp 1.500
HSC (Humic Substance Complex) 1 botol......................................... Rp 90.000
Tenaga pembuatan media................................................................... Rp 50.000
Total biaya tidaktetap.......................................................................... Rp3.464.000


— Total Biaya Operasional
Total biaya operasional = Total Biaya Tetap + Total Biaya Tidak Tetap
= Rp204.300 + Rp3.464.000
= Rp3.668.300

3. Penerimaan per Periode
Penjualan hasil panen 400 kg x Rp25.000/kg = Rp10.000.000

4. Keuntungan
Keuntungan = Total penerimaan - total biaya operasional
= Rp10.000.000 - Rp3.668.300
= Rp6.331.700

5. Pay Back Period
Pay back period adalah waktu titik batik modal atau titik impas,
yaitu perbandingan antara total investasi dengan keuntungan yang diperoleh.

Pay back period = (Total investasi : keuntungan) x 1 bulan
= (Rp2.446.000 : Rp6.331.700) x 1 bulan
= 0,4 bulan


sumber : Drs.Ruslan Roy, MM dan Bagus Harianto, AgroMedia Pustaka, 2009



cetak halaman ini

Selasa, 26 Januari 2010

bak pendederan benih ikan nila

bak pendederan benih ikan nila

foto ini menunjukan bak pendederan ikan nila ketika bak tersebut telah diberi pupuk, kapur dan garam. kegiatan pemupukan, pemberian kapur dan garam merupakan kegiatan persiapan kolam untuk dijadikan tempat pendederan benih ikan.

pupuk yang diberikan pada kegiatan persiapan kolam ini yaitu berupa pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 200 gram/m2, kapur dan garam masing-masing 5 gram/m2 m2.
setelah kolam tersebut dipupuk kemudian kolam diairi. setelah diairi bak tidak langsung ditanami benih ikan tetapi didiamkan kurang lebih 3 hari dan diberikan bibit pakan alami berupa zooplankton (Daphnia) sebagai pakan untuk benih.


cetak halaman ini

Minggu, 24 Januari 2010

Pembesaran Lele di kolam terpal

Pembesaran Lele

Lele merupakan ikan air tawar yang banyak terdapat di perairan umum seperti sungai, rawa, waduk, dan genangan air lainnya. Bentuk tubuh lele adalah gilig (silindris) memanjang, berkepala gepeng meruncing, dan di dekat mulutnya ditumbuhi dengan 4 pasang kumis yang kaku memanjang. Kulit tubuh lele licin, tidak bersisik, dan berwarna kehitaman. Lele termasuk ikan yang mudah dibudidayakan di mana saja, dapat hidup di ketinggian lebih dari 1.000 m dpl dengan kondisi suhu 20-32° C, pH 6,5-8, dan kandungan oksigen 3 ppm.

Terdapat tiga jenis lele yang biasa dibudidayakan, di antaranya lele lokal (Clarias botrocus), lele dumbo (Clariosgoriepinus),dan lele sangkuriang. Lele sangkuriang merupakan perbaikan strain dari lele dumbo, yakni hasil perkawinan silang batik dari lele dumbo yang berasal dari F2 (keturunan kedua) induk betina lele dumbo dengan F6 (keturunan keenam) induk jantan lele dumbo.

Lele dumbo merupakan jenis lele yang memiliki pertumbuhan cepat, dalam waktu 10-12 bulan beratnya bisa mencapai 200-300 g. Sedangkan pertumbuhan lele lokal agak lambat, misalnya dalam waktu yang sama panjang lele lokal baru mencapai 20 cm dengan berat 150-200 gram.

Budidaya pembesaran lele, mulai dari benih hingga ukuran konsumsi biasanya sudah tersegmen, yakni berdasarkan ukuran panjang tubuhnya, seperti 1-3 cm, 3-5 cm, 5-8 cm, 8-12 cm, hingga ukuran konsumsi yang dihitung dengan menggunakan ukuran berat seperti 6 ekor per kg, 8 ekor per kg, atau 10 ekor per kg.

1. Penebaran benih
Kepadatan penebaran benih yang sering dilakukan oleh pembudidaya lele di kolam terpal sekitar 100-300 ekor per m2 dengan ukuran benih 5-7 cm. Pembudidayaan tersebut dilakukan hingga panen atau setelah lele mencapai ukuran konsumsi, yakni berisi 8-12 ekor per kg dengan lama pemeliharaan sekitar 2,5-3 bulan.
Ketika benih lele masih agak kecil, perlu dilakukan seleksi benih lele berdasarkan grade/tingkatannya. seleksi tersebut idealnya dilakukan setiap 10-15 hari sekali. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan berikut.

a. Untuk menghindari terjadinya saling rebut makanan sehingga lele yang lebih kecil menjadi sulit untuk mendapatkan pakan.
b. Untuk menghindari kanibalisme antara lele yang lebih besar terhadap lele yang lebih kecil.
c. Menyeimbangkan pertumbuhan di antara lele karena lele bersifat rakus sehingga pakan yang tersisa dari porsi pakan lele yang berukuran lebih kecil akan dimakan lele yang lebih besar. Selain itu, sifat rakus ini juga bisa menyebabkan lele menderita bengkak perut.
d. Menghemat pelet yang diberikan dan mengurangi pengotoran kolam karena sisa pakan.


2. Pemberian pakan
Pakan yang diberikan pada benih lele, mulai dari tingkat larva (setelah mulai makan) hingga berumur minimal dua minggu memakan pakan alami berupa protozoa dan zooplankton (daphnia dan moina). Pembudidaya lele di kolam terpal terbiasa memberi pakan cacing sutra karena merupakan pakan alami yang mudah diperoleh dan bagus kandungan gizinya. Selanjutnya,

benih lele dapat diberi pakan buatan berupa pelet dengan ukuran yang kecil hingga akhirnya diberi pelet dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran mulut lele. Ketika lele beranjak dewasa, pembudidaya biasa memberikan pakan berupa bangkai ayam yang telah dibakar atau direbus, cincangan bekicot/keong, sisa kotoran rumah tangga, atau pakan ramuan sendiri dalam bentuk pelet. Tujuannya adalah untuk menghemat biaya yang dikeluarkan untuk pakan.

3. Perawatan
Lele termasuk jenis ikan yang dapat bertahan hidup dalam air yang kondisinya kurang baik dengan kepadatan tinggi. Hal ini karena lele mempunyai alai bantu pernapasan berupa labirin yang dapat digunakan untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Oleh karena itu, banyak pembudidaya lele yang menebar lele dengan kepadatan tinggi hingga air medianya berwarna kemerahan. Bahkan, ada beberapa pembudidaya yang menerapkan budi daya lele tanpa mengganti air sama sekali dan hanya menambah air apabila kondisi air media menurun.
Lain halnya bila kondisi lingkungan budi daya kurang menguntungkan, misalnya pada daerah yang suhu udaranya cukup dingin, sebaiknya ketinggian air media jangan terlalu tinggi- Perlakuan ini khususnya diaplikasikan ketika lele masih
kecil karena air media yang terlalu tinggi bisa membuat lele yang masih kecil kehilangan banyak energi untuk berenang, yakni ketika proses pengambilan oksigen di udara. Hal ini tentu bisa mempengaruhi kecepatan pertumbuhannya.

Pengontrolan air juga perlu dilakukan ketika musim hujan tiba, khususnya bila kolam terpal berada di luar. Air hujan yang masuk dapat membuat lingkungan air media menjadi asam dan cukup membahayakan lele. Namun, untuk mempertahankan kondisi kesehatan lele dapat ditebarkan garam krosok atau garam dapur.
sumber : Cahyo Saparinto, Penebar Swadaya, 2009



cetak halaman ini

Jumat, 22 Januari 2010

cara menghitung benih ikan nila hasil dari kolam pemijahan

menghitung benih ikan nila hasil dari kolam pemijahan

kegiatan menghitung benih ikan nila ini di lakukan dengan tujuan untuk mengetahui berapa jumlah benih ikan nila yang dihasilkan dari kolam pemijahan.

alat yang digunakan untuk menghitung benih ikan nila ini yaitu sendok, ember, skopnet, hapa. cara menghitung benih ikan nila ini yaitu dihitung dengan menggunakan sendok makan, setiap satu sendok dihitung 5 (lima) - 10 ekor benih tidak dihitung satu-satu. hapa sebagai media hitung sebaiknya dibagi dua bagian dengan menyekat dengan batang kayu atau bambu. sekat pertama yaitu tempat untuk menyimpan hasil hitungan dan sekat kedua yaitu sebagai tempat untuk menyimpan benih ikan yang akan dihitung.

setelah benih dihitung kemudian benih bisa ditanam pada kolam pendederan ataupun bisa pula dijual kepada orang yang memerlukannya. sebaiknya perhitungan benih ini dilakukan sesuai dengan kebutuhannya, yaitu bila benih akan ditanam kembali maka kita harus menghitung benih menurut kepadatan benih terhadap luas kolam pemeliharaan. Bila benih akan dijual maka biasanya kegiatan menghitung benih ini dikerjakan pada waktu konsumen membeli benih ikan, karena kita tidak mengetahui berapa jumlah benih yang diperlukan oleh konsumen. Namun bila konsumen sebelumnya sudah memesan benih maka benih pun harus sudah siap dan tersedia dari hasil hitungan.

cetak halaman ini

Kamis, 21 Januari 2010

kegiatan membersihkan bak / kolam pendederan benih/larva ikan nila

kegiatan membersihkan bak / kolam pendederan benih/larva ikan nila

kegiatan ini dilakukan setelah selesai memanen benih ikan nila yang dipelihara selama 2 - 3 minggu di bak pendederan. Peralatan yang digunakan untuk membersihkan bak pendederan ini yaitu sikat, ember. Pembersihan bak pendederan ini berfungsi untuk membersihan sisa-sisa pupuk organik, lumut yang tumbuh di dasar maupun di dinding bak. Membersihkan bak pendederan dilakukan dengan tujuan untuk mencegah timbulnya bibit penyakit yang dapat berkembang pada sisa-sisa kotoran. lumut yang tumbuh di dasar kolam juga perlu dibersihkan karena bila dibiarkan lumut tersebut akan mengganggu benih ikan yang dipelihara, lumut dapat menjerat benih ikan nila. sehingga benih tidak bisa bergerak dan mencari makan dan akhirnya benih akan mati.
meskipun lumut merupakan pakan yang bisa dimakan oleh ikan namun untuk benih yang ditanam di bak pendederan ini belum bisa memakan lumut. karena ukurannya pun masih kecil-kecil. Selesai membersihkan bak pendederan ini maka bak pendederan siap untuk digunakan lagi untuk memelihara benih ikan nila, setelah bak dikeringkan dan diberi pupuk. kapur dan garam.
cetak halaman ini

Kegiatan membersihkan pematang kolam tanah

Kegiatan membersihkan pematang kolam tanah

kegiatan pembersihan pematang kolam dilakukan ketika kolam akan dipakai untuk berbudidaya ikan. membersihkan pematang kolam yaitu membersihkan rumput- rumput yang tumbuh di pinggir pematang kolam, rumput ini perlu dibersihkan dan dibuang agar tidak mengganggu ikan yang akan dibudidayakan terutama bagi ikan yang masih kecil. karena apabila rumput tersebut dibiarkan tumbuh maka kemungkinan besar akan dijadikan sarang hama dan predator seperti ular dan lainnya.
membersihkan pematang kolam dapat menggunakan cangkul seperti yang terlihat pada foto di atas. membersihkan kolam dengan ukuran 20 x 15 m2 dapat diselesaikan sehari. Tehnik pencangkulan dilakukan secara teratur. selain fungsi yang telah disebutkan di atas, kegiatan pembersihan pematang kolam ini yaitu berfungsi juga untuk memperbaiki jika ada pematang yang rusak atau pun roboh akibat erosi

cetak halaman ini

Jumat, 15 Januari 2010

Kawin Silang Untuk Kualitas Terbaik

Kawin Silang Untuk Kualitas Terbaik


Dalam berbudidaya, volume produksi yang besar tidak selalu menghasilkan nilai tinggi. Kualitas dari produk itu sendiri yang menetukan rendah dan tingginya nilai produk budidaya. Untuk meningkatkan nilai kualitas Udang Vaname bisa dilakukan dengan cara Cross Breeding (kawin silang).

Dalam konteks budidaya, Pemuliaan ini dilakukan agar nilai pengembangbiakan (breeding value) dari suatu populasi dapat meningkat melalui kawin silang dan seleksi, serta menghasilkan udang yang lebih baik (udang yang tumbuh lebih besar, lebih berat, lebih tahan penyakit, dan sebagainya).

"Tujuan akhir adalah agar induk udang yang terpilih dapat menurunkan sifat keunggulannya pada turunannya," kata Slamet Subyakto, Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Apabila hal ini terjadi, maka generasi berikutnya akan memiliki nilai lebih karena udang dapat tumbuh lebih cepat sehingga dapat meningkatkan hasil produksi, dan pertumbuhan udang akan lebih efisien.

Inilah yang dilakukan oleh BBAP Situbondo selama beberapa kurun waktu terakhir. Kegiatan broodstock center udang vanname di Situbondo telah dimulai sejak tahun 2003 akhir yang dimulai dengan upaya mengumpulkan sumberdaya genetik (SDG), diantaranya adalah SDG dari induk-induk keturunan SIS (Shrimp Improvement System) tahun 2004, OI (Oceanic Institut) tahun 2004, dan hasil budidaya lokal/masyarakat yang telah diseleksi (biologi, morfologi.dan patogennya) dan telah dinyatakan SPF (WSSV, TSV, IMNVdanlMNV).

Dari ketiga SDG tersebut selanjutnya dilakukan penyilangan (cross breeding) satu sama lain. "Induk-induk yang disilangkan telah melalui seleksi yang ketat terhadap morfologi, pathogen dan biologi sejak masa pemeliharaan benih di hatchery sampai di tambak pembesaran," ujar Slamet.

Hasil penyilangan akan didapatkan 6 populasi dan dipelihara sampai menjadi calon induk, Kemudian keenam populasi tersebut diseleksi untuk mencari performa yang terbaik. Dimana, diantara induk-induk yang terbaik tersebut disilangkan kembali dan dari hasil penyilangan tersebut dipelihara menjadi calon induk dan disilang balik (back cross) dengan keturunan induk Impor sebagai SDG baru.

"Tujuan dari penyilangan-penyilangan tersebut adalah untuk pengembangan (improvment) genetik, sehingga breeding value meningkat," kata Slamet. Setelah dilakukan improvement genetik terhadap populasi calon induk, kemudian dilakukan seleksi individu yaitu salah satu metode dalam selektif breeding, dengan tujuan hanya mengambil calon-calon induk yang unggul yang diharapkan nantinya dapat menurunkan sifat-sifat yang unggul pada keturunannya.

Dari hasil perekayasaan yang dikumpulkan pada Broodstock Center Udang vaname BBAP Situbondo dari tahun 2005 sampai dengan Januari 2009 telah menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan calon induk udang vaname dari tahun ke tahun.

Pada periode tahun 2005-2006 untuk mencapai produksi calon induk yang berukuran rata-rata 40 gram diperlukan waktu selama 12 bulan, pada periode 2007-2008 untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu 9 bulan, pada periode tahun 2008 dapat dicapai dalam waktu 8 bulan dan sekarang tahun 2009 untuk mencapai ukuran yang sama rata-rata 40 gram dapat dicapai hanya dalam waktu 6 bulan saja.

Data dari hasil perekayasaan pada bagian induk di maturasi menunjukkan bahwa produksi nauplius rata-rata perspowner berkisar antara 145.000-256.000 ekor dan daya tetas telur (HR) rata-rata sebesar 79,64%.

Setelah sekian tahun perekayaan berlangsung, telah terjadi peningkatan penggunaan induk hasil Pemuliaan BBAP Situbondo di masyarakat, pada tahun 2008 tercatat hatchery swasta yang telah memanfaatkan induk udang vanname BBAP Situbondo tersebut sebanyak 30.299 ekor dan tahun 2009 dari bulan Januari-April/Mei telah terserap 17.860 ekor dan sampai bulan Juli pemesanan sudah cukup banyak.

Demikian juga dengan distribusi induk yang semakin meluas. Pada awal tahun 2008 yang menggunakan masih terbatas di Pulau Jawa (Situbondo, Banyuwangi Jawa Timur, Rembang Jawa Tengah, Serang Banten) namun pada akhir tahun 2008 sampai bulan April 2009 disamping distribusi induk di pulau Jawa juga telah meluas sampai ke luar Jawa (Suppa, Barm Sulawesi Selatan, Pangkal Pinang Propinsi Bangka Belitung dan NTB).

"Dengan semakin banyaknya hatchery di masyarakat yang menggunakan induk BBAP Situbondo maka penggunaan benih hasil Pemuliaan juga semakin banyak," jelas Slamet. Sedangkan distribusi benih dan nauplius telah meluas sampai ke Propinsi Jawa Timur, Jawa tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Banten Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tmur, dan Kalimantan Selatan.



Sumber : Majalah Samudera Edisi 81-Thn VIII-Januari 2010



cetak halaman ini

Senin, 11 Januari 2010

beberapa cara untuk meningkatkan pertumbuhan ikan

beberapa cara untuk meningkatkan pertumbuhan ikan

meningkatkan pertumbuhan ikan berarti meningkatkan pendapatan hasil budidaya. Pertumbuhan ikan yang relatif singkat akan mempercepat proses panen, sehingga perputaran uang pun akan cepat.

cara untuk meningkatkan pertumbuhan ikan :

1. Pakan

pemberian pakan yang tepat dan mencukupi akan mempengaruhi proses pertumbuhan. Ikan akan tumbuh optimum apabila diberi pakan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya, pakan yang baik adalah pakan yang mengandung nutrisi yang lengkap, yaitu cukup protein, lemak, karbohidrat, vitamin. Nutrisi yang berperan dalam membantu proses pertumbuhan ikan yaitu protein, karena protein berperan dalam meningkatkan pertumbuhan. jadi ketika akan membeli pakan maka hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kandungan protein pada pakan tersebut.

pemberian pakan harus cukup tidak lebih dan tidak kurang. Bila pakan yang diberikan kurang maka proses pertumbuhan ikan akan menjadi lambat, tetapi apabila pakan yang diberikan kepada ikan berlebih maka hal ini juga tidak baik, karena bila pakan berlebih dan tidak dimakan oleh ikan maka pakan tersebut akan menjadi busuk di dasar kolam, sehingga akan menurunkan kualitas air kolam, sehingga ikan tersebut akan rentan terhadap timbulnya penyakit.
pemberian pakan yang cukup yaitu sesuai dengan kebutuhannya pakan yang diberikan per hari berkisar antara 3 - 5% dari berat tubuh total ikan yang dipelihara.

2. Kualitas air

kualitas air yang baik akan membantu proses pertumbuhan ikan. kualitas air menyangkut pada parameter , suhu, pH, oksigen, kecerahan, amoniak.
sarat kualitas air kolam yang baik untuk pertumbuhan ikan yaitu :
1. suhu 25 - 30 derajat celcius
2. pH 6,5 - 8,5
3. Oksigen > 4 mg/l
4. Kecerahan 25 - 30 cm
5. Ammoniak (NH3) <0,01 mg/l 3. Pengelolaan dan penanganan ikan akan tumbuh dengan baik apabila pengelolaan dan penanganan nya dilakukan dengan baik. pengelolaan yang baik yaitu menyangkut pada cara pemberian pakan, pengontrolan kualitas air, pengontrolan hama penyakit, pengontrolan faktor luar lingkungan hidup.


4. Keturunan


pertumbuhan ikan yang baik adalah pada ikan yang mempunyai keturunan yang baik, induk yang jelas, dan benih ikan hasil seleksi. Jadi ketika akan memelihara ikan maka kita harus tahu asal usul dari ikan tersebut.



cetak halaman ini

jenis ikan yang cocok untuk dibudidayakan dan dikembangbiakan dipekarangan rumah

jenis ikan yang cocok untuk dibudidayakan dan dikembangbiakan dipekarangan rumah

budidaya ikan dipekarangan rumah adalah memelihara ikan pada areal yang tidak begitu luas yang lokasinya berdekatan dengan rumah tinggal. media kolam untuk memelihara ikan dipekarangan rumah umumnya terbuat dari tembok, ataupun juga bisa menggunakan drum, terpal dan karpet.

jenis ikan yang cocok untuk dipelihara dipekarangan rumah diusahakan menggunakan jenis ikan yang tahan atau toleransi terhadap kualitas air, seperti : lele, nila, mujair, belut. dipilih ikan tersebut dikarenakan media pemeliharaan ikan dipekarangan rumah umumnya relatif sempit, sehingga kualitas air seperti oksigen pun tidak akan tersuplai secara sempurna baik secara difusi maupun input dari air yang masuk. ikan-ikan tersebut relatif tahan terhadap kondisi air kolam dengan kadar oksigen yang rendah karena ikan tersebut mempunyai alat pernapasan tambahan yaitu seperti Lele. kalau untuk ikan nila ataupun mujair, ikan ini mempunyai toleransi yang besar terhadap kualitas air yang jelek tetapi apabila kita ingin membesarkan atau memijahkan ikan ini maka persyaratan kualitas airpun perlu dipenuhi.

belut dapat hidup tumbuh dan berkembang pada areal yang sempit, sekalipun dipelihara di dalam drum, asalkan media untuk memelihara belut ini dicukupi sesuai dengan kondisi hidup di alam.

jadi dalam memelihara ikan dipekarangan rumah adalah merupakan pilihan alternatif dari cara berbudidaya ikan dengan alasan bahwa areal untuk dijadikan lahan budidaya sudah tidak ada. dan budidaya di pekarangan rumah ini cocok dikembangkan di kota yang relatif lahan budidayanya sempit. keuntungan dari berbudidaya ikan dipekarangan rumah ini adalah selain kita bisa mendapatkan penghasilan dari hasil budidaya kita juga bisa membantu kebutuhan konsumsi ikan rumah tangga.




cetak halaman ini

Selasa, 05 Januari 2010

pengapuran dan pemupukan kolam ikan nila

pengapuran dan pemupukan kolam ikan nila

kegiatan ini dilakukan setelah kolam dikeringkan selama tiga hari. pengeringan berfungsi untuk mematikan siklus hidup hama (pemangsa, penyaing dan perusak) dan untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah agar menjadi subur dan gembur.

penggaraman dasar kolam dilakukan sebelum melakukan kegiatan pengapuran dan pemupukan kolam tujuannya yaitu untuk membunuh bibit penyakit. Garam yang digunakan yaitu garam krosok (NaCl). Pengapuran dilakukan untuk meningkatkan pH tanah, kapur yang digunakan yaitu kapur Dolomit (CaCO3MgCO3). jumlah garam dan kapur yang digunakan masing-masing sebesar 50 g/10M2 untuk kolam tembok dan 1,5 kg / 150m2 untuk kolam tanah.

pemupukan kolam dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan pakan alami. pupuk yang digunakan yaitu pupuk kandang (kotoran ayam) sebesar 2 kg/10m2 untuk kolam tembok dan 30 kg/150m2 untuk kolam tanah. garam kapur dan pupuk ditebarkan merata di atas permukaan dasar kolam.

Minggu, 27 Desember 2009

Budidaya CACING TANAH SEBAGAI PAKAN TERNAK ALTERNATIF KAYA NUTRISI

Budidaya CACING TANAH SEBAGAI PAKAN TERNAK ALTERNATIF KAYA NUTRISI

Summary by:yerikho
Cacing merupakan bahan pakan alternatif bagi ternak unggas dan ikan. Binatang ini mengandung gizi tinggi antara lain : Protein 64-76, lemak 7 - 10 %, energi 900-1400 kal serta mineral,air dan asam amino paling lengkap. Untuk memenuhinya cacing dapat dibudidayakan dengan membuat kotak dari kayu,plastik,atau kaca. sebagai media hidup bagi cacing adalah campuran kompos dengan beberapa bahan organik (limbah pertanian,limbah pasar). Masukkan bahan tersebut sampai 15 cm kemudian air secukupnya agar medianya gembur dan basah. Aduk merata hingga terjadi fermentasi. Setelah 4 minggu masukkan kotoran hewan dengan perbandingan 70% media hidup dan 30% kotoran hewan.Kapur ditambahkan 1 % supaya PH netral.Kemudian masukkan cacing tanah ke dalamnya seberat media hidup yang telah disediakan. Supaya tidak kekeringan permukaan media dilapisi plastik, karung atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.Makanan yang dibutuhkan cacing adalah kotoran hewan,baik sapi, kambing ataupun ayam dalam bentuk bubuk atau bubur seberat cacing yang dimasukkan ke dalam kotak pemeliharaan. Hama yang diwaspadai : semut,kumbang,burung,kelabang,lipan, ayam,itik,tikus,katak,tupai,angsa,lintah, dan kutu. Setelah 2,5 - 3 bulan cacing sudah mulai bisa dipanen ditandai banyaknya kascing (kotoran cacing) dan kokon (kumpulan telur cacing). Sebagian cacing dewasa sebaiknya digunakan menjadi bibit.

Budidaya CACING TANAH SEBAGAI PAKAN TERNAK ALTERNATIF KAYA NUTRISI Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/exact-sciences/engineering/1905389-budidaya-cacing-tanah-sebagai-pakan/

Jumat, 25 Desember 2009

Kondisi Dasar Tambak ( Metode Pengamatan)

Kotoran di dasar tambak biasanya berupa lumpur hitam yang mengendap di dasar serta mengandung H2S dan NH3 yang bersifat asam dalam dosis tertentu dapat membahayakan bagi udang. Kotoran ini berasal dari proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme perairan tersebut, mortalitas plankton dan sisa pakan udang yang tidak terkonsumsi serta pengaruh dari treatment budidaya lainnya. Keberadaan lumpur hitam di dasar tambak dapat teramati melalui cara antara lain:

1. Pengamatan warna kulit/khitin udang melalui sampling berkala maupun pengamatan ancho. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya berdampak pada penampakan kulit udang yang cenderung berwarna lebih gelap dari keadaan normal. Pada saat dilakukan sampling sampling kotoran dasar tambak/lumpur biasanya ikut terbawa pada jala yang ditebarkan ke dalam tambak.

2. Pengecekkan langsung ke dasar tambak dengan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi dasar tambak dan kondisi udang.

3. Melihat saluran pembuangan air tambak pada saat dilakukan sirkulasi air dengan memperhitungkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kotoran/lumpur tersebut. Pada kegiatan ini juga perlu diperhatikan tingkat kelancaran saluran pembuangan dalam mengeluarkan air tambak, jika terjadi penyumbatan maka dibutuhkan identifikasi lanjutan terhadap penyebab penyumbatan tersebut. Faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah keberadaan bangkai udang yang ikut terbawa keluar bersama air tambak berdasarkan jumlah dan kondisi bangkai udang tersebut agar dapat diambil alternatif keputusan yang mengarah pada harvesting decision ataupun treatment decision.

4. Pengamatan terhadap permukaan air tambak pada saat kincir air tidak dioperasikan. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang muncul dari dasar tambak ke arah permukaan air, jika di permukaan tambak banyak dijumpai fenomena ini maka kondisi dasar tambak relatif sangat kotor dan penuh lumpur.

Pemantauan kondisi dasar tambak perlu dilakukan secara cermat baik melalui pengamatan berkala maupun yang bersifat insidental agar permasalahan yang terjadi dapat segera ditangani. Permasalahan cukup serius yang biasanya terjadi adalah kematian udang di dasar tambak karena berbagai permasalahan yang tidak terdeteksi. Kematian udang di dasar tambak yang disebabkan oleh proses moulting biasa dijumpai dan bersifat alamiah karena adanya kanibalisme dari udang lainnya dalam kuantitas masih berada pada batas toleransi yang ditetapkan. Sedangkan kematian udang di dasar tambak yang bersifat massal dan disebabkan oleh permasalahan yang tidak terdeteksi biasanya bangkai udang terkonsentrasi di sentral pembuangan dan pada tingkat yang lebih parah bangkai udang menyebar di dasar tambak.
sumber :http://marindro-ina.blogspot.com

Sabtu, 19 Desember 2009

cara memeriksa kemurnian ikan

untuk memastikan apakah ikan murni atau tidak maka ada cara untuk memeriksanya yaitu dilakukan dengan cara pengambilan contoh darah ikan. darah ikan diambil dari pembuluh darah pada pangkal ekor dengan menggunakan sebuah alat suntik untuk dilakukan pengujian secara elektrophoresis di laboratorium.