Tampilkan postingan dengan label Penyakit Ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Ikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 April 2010

Predator Benih ikan

Predator Benih ikan

Predator yaitu disebut juga sebagai pemangsa, merupakan istilah asing untuk menyebut hama pengganggu hewan peliharaan
dalam hal ini adalah benih ikan. Predator pada dasarnya adalah merupakan hewan carnivora (pemakan daging)
yaitu memangsa dengan mengintai targetnya.
Predator benih ikan ada yang berasal/datang dari luar dan ada yang hidup bersama dengan benih ikan yang dipelihara.
Umumnya predator yang memangsa benih ikan yaitu merupakan hewan tingkat tinggi yang bisa langsung mengganggu atau
mengancam kehidupan benih ikan yang dipelihara pembudidaya ikan.
Predator Benih ikan dapat dibagi kedalam beberapa kelompok, yaitu :
1. Predator Kelompok hewan besar
- burung
- labi-labi
- kepiting/ketam
- Berang-berang
- biawak
- ular
- katak
- kadal


2. predator ikan buas
- ikan gabus
- belut


3. predator kelompok hewan kecil (serangga Air)
- ucrit (larva cybister)
- notonecta
- kini-kini

Rabu, 10 Maret 2010

penyebab ekor cupang kuncup

penyebab ekor cupang kuncup

bila ikan cupang anda kelihatan susah untuk berenang karena ekor menguncup satu dan ikan malas bergerak dan sering berada di dasar akuarium, kemungkinan besar ikan cupang tersebut terserang penyakit white spot atau penyakit jamur putih. Penyebab penyakit ini yaitu cendawan Ichtyophtirius multifilis.

White spot bisa menyebabkan luka di sirip sehingga pada waktu berenang sering terlihat tersentak-sentak dan membenturkan tubuh ke dinding akuarium. penyakit ini sering timbul pada kualitas air yang buruk.

Pengobatan ikan dilakukan selama 3 hari berturut-turut dan harus hati-hati agar semua sirip tidak rusak. langkah awal tambahkan garam dan tetrachicline dosis 0,5 g/l pada suhu air 26 derajat celcius. Pemberian obat jamur seperti Gold 100 dosis 1/3 sendok teh/liter air dapat dilakukan. kemudian diamkan cupang selama 8 jam sebelum dipindahkan ke wadah lain. Air dalam wadah harus diganti sebanyak 50% setiap hari dan tetap diberi obat anti jamur.

Rabu, 20 Januari 2010

foto Ikan Nila yang mati akibat kondisi air yang buruk

Ikan Nila Jantan (atas) dan Ikan Nila Betina (bawah) yang mati akibat dari buruknya kualitas air pada kolam. kematian ikan nila ini tidak disebabkan oleh penyakit atau parasit, tetapi ikan nila ini mati karena kondisi volume air kolam yang sedikit akibat dari sumber irigasi sebagai sumber air kolam tidak mengalir.

pada waktu itu tidak ada air sedikitpun yang masuk ke kolam. sehingga kolam tidak terisi oleh air, dan kondisi kolam tanahnya sedikit porous sehingga air kolam secara drastis menurun, kolam tidak mampu menahan air lama. selain kondisi tanah kolam yang jelek kematian ikan nila ini juga disebabkan oleh kondisi cuaca yang panas, sehingga kolam airnya panas dan semakin menyusut akibat penguapan. Dengan air kolam yang menyusut maka ruang gerak ikan menjadi kecil dan suplai oksigen untuk respirasi ikan menjadi berkurang. dengan kondisi air seperti ini ikan nila tidak mampu bertahan dan ikan menjadi stres, selama 12 jam ikan nila pun mati.

pada kejadian di atas hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah atau menanggulangi agar tidak terjadi kematian yang masal yaitu :

1. jika sumber air pada kolam menyusut dan tidak ada air yang masuk sedikitpun maka kita harus cepat-cepat memindahkan ikan nila ke kolam lain atau bak yang sebelumnya sudah dipersiapkan.

2. mencari tahu informasi kepada orang, karena jika unit perkolaman yang sumber airnya berasal dari irigasi maka bisa terjadi penyusutan air di irigasi, penyusutan air ini bisa disebabkan oleh beberapa hal diantaranya yaitu perbaikan tanggul irigasi, perbaikan kirmir saluran irigasi yang otomatis ketika melakukan perbaikan tersebut maka air perlu disusutkan. penyusutan air pada irigasi ini bisa terjadi akibat bencana alam seperti banjir yang menyebabkan tanggul irigasi jebol.
cetak halaman ini

Senin, 07 Desember 2009

Tehnik Pengamatan Kesehatan Ikan

di bawah ini akan disebutkan tehnik / cara mengamati kesehatan ikan, yaitu sebagai berikut :

1. Cara mengamati kesehatan ikan yaitu dengan metode pengambilan sample secara acak pada ikan minimal 30 ekor ikan. kemudian diamati baik pengamatan secara visual atau secara mikroskopis

2. pengamatan secara visual yaitu pengamatan yang dilakukan terhadap pemeriksaan ektoparasit dan morfologi ikan.

3. pengamatan secara mikroskopik yaitu pengamatan yang dilakukan untuk mengamati atau memeriksa jasad patogen (endoparasit, jamur, bakteri dan virus).

Jumat, 23 Oktober 2009

Penanggulangan Hama dan Penyakit pada Lele Sangkuriang

Penanggulangan Hama dan Penyakit pada
Lele Sangkuriang

Sama seperti ikan lainnya, lele sangkuriang tidak terlepas dari ancaman hama dan penyakit. Penyakit yang menyerang lele sangkuriang umumnya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang mendukung, misalnya kualitas air (terutama suhu) di bawah standar atau akibat stres karena penanganan yang salah sehingga ikan sakit. Sementara itu, hama yang biasa menyerang lele sangkuriang antara lain ular dan belut, sedangkan organisme patogen yang menyerang berupa Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp., dan Dactylogyrus sp.
Penanggulangan masuknya bibit hama dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air kolam, membersihkan pematang kolam, dan memasang plastik di sekeliling kolam. Penanggulangan organisme patogen dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budi daya yang baik serta pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan. pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam secara baik. Jika perlu memperbaiki kondisi air kolam dengan menambahkan bahan probiotik.

Pengobatan ikan yang suclah terserang penyakit dapat dilakukan dengan memberikan obat yang sesuai dengan jenis penvakitnya. Adakalanya, penyakit yang menyerang akan menular. Untuk mencegah hal ini, ada beberapa langkah langkah penyelamatan yang dapat dilakukan sebagai berikut. :


- Segera menangkap dan memusnahkan ikan yang terserang penyakit.
- Segera memindahkan ikan yang kondisinya masih sehat ke kolam lain dan mendesinfeksinya. Mengurangi padat penebaran.
- Jangan membuang air bekas ikan sakit ke saluran air.
- Keringkan kolam yang telah terjangkit penyakit, lalu bersihkan dasar kolam dari lumpur dan sisa bahan organic. Setelah itu Lakukan pengapuran menggunakan kapur pertanian (CaO) dengan dosis 1 kg/5 m2. Pengeringan dilakukan sampai dasar kolam retak¬-retak dan penebaran kapur dilakukan secara merata, termasuk di bagian tanggul.
- Lakukan pengisian air baru ke dalam kolam secara periodik.
- Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit. Begitu juga dengan tangan kita, harus didesinfeksi dengan mencucinya di dalam larutan PK. Desinfeksi alat dilakukan dengan mencelupkan ke dalam larutan kalium permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).
- Berikan pakan yang bergizi tinggi dan tingkatkan daya tahan tubuh ikan dengan memberikan vitamin.

Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. Agromedia Pustaka, 2008

Minggu, 12 Juli 2009

Apa itu Obat Ikan?

Apa itu Obat Ikan?

Obat lkan merupakan:
• Zat kimia yang bila diberikan akan
mempengaruhi fungsi sel hidup;
• Racun apabila masuk kedalam tubuh tanpa dosis yang tepat;
• Menimbulkan residu yang dapat menggangu kesehatan manusia dan merusak lingkungan;
• Penggunaannya menentukan dalam proses
budidaya untuk meningkatkan produksi;

Syarat utama penggunaan obat ikan
• Aman (Safety) terhadap ikan, manusia dan lingkungan
• Berkhasiat (Efikasi) untuk menyembuhkan
• Bermutu (Quality) : mutu dapat dipercaya


sebelum menggunakan obat ikan

• Harus diketahui dengan tepat diagnosa
penyakit dan tujuan penggunaannya
• Harus diketahui jenis obat dan dosisnya yang tepat
• Harus diketahui sasaran organ yang dituju;
• Harus diketahui cara pemberian yang tepat
• Harus diketahui faktor yang mempengaruhi kerja obat ( keadaan umum,species ikan, lingkungan air, suhu, cuaca d1l).

sumber : Ir. Maysarah Mawardi, MM, Ditjen Budidaya, DKP, 2009

Minggu, 28 Juni 2009

Penyakit Pada Ikan

I. Pendahuluan


Penyakit pada ikan merupakan salah satu masalah yang sering dijumpai dalam usaha budidaya ikan. Di Indonesia teah diketahui ada beberapa jenis ikan air tawar, dan diantaranya sering menimbulkan wabah penyakit serta menyebabkan kegagalan dalam usaha budidaya ikan

Adanya penyakit ikan erat hubungannya dengan lingkungan dimana ikan itu berada. Untuk itu dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ikan, selain dilakukan pengendalian terhadap lingkungan juga perlu diketahui hal-hal yang berkaitan dengan timbulnya penyakit ikan itu sendiri.



Dengan adanya informasi ini diharapkan para pembudidaya ikan dapat mengetahui secara dini gejala awal serangan penyakit, serta dapat melakukan langkah-langkah pencegahan terhadap timbulnya penyakit ikan secara mudah.

II. Gejala umum gangguan penyakit ikan

1.
Ikan sering berenang di permukaan air dan terlihat terengah-engah (megap-megap).
2.
Untuk jenis ikan yang sering berkelompok, meka ikan yang tidak sehat akan memisahkan diri dan berenang secara pasif.
3.
Ikan berenang oleng, dan loncat-loncat tidak teratur.
4.
Adanya tanda-tanda tertentu pada tubuh ikan, misalnya bercak merah, bercak putih, bisul atau adanya jamur.
5.
Insang terlihat pucat.
6.
Lendir berkurang dan tidak merata.

III. Pencegahan Penyakit Ikan


1. Perbaikan lingkungan kolam.
* Pengeringan dan penjemuran kolam dilakukan secara periodik 4 - 5 bulan sekali atau setelah ikan dipanen.
* Pengapuran kolam dengan dosis 10 - 20 gram kapur tohor per m2
* Pemberantasan hama dengan larutan PK 20 ppm untuk kolam yang tidak ada ikannya selama 1 hari.
* Pembuatan bak saringan pengendapan air.
2. Meningkatkan daya tahan tubuh ikan.
3. Perawatan Kesehatan ikan

IV. Beberapa Jenis Penyakit Ikan

1. Penyakit Jamur.


Penyebab

* Jamur Saprolegnia
* Jamur Achlya

Tanda-tanda :

* Tubuh ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas
* Serangan pada telur dapat menghambat pernapasan sehingga menyebabkan telur mati/ tidak menetas.

Pengobatan :

* Ikan direndam dalam larutan Malachite Green 2-3 ppm selama 30 - 60 menit.
* Bagian yang terserang diolesi dengan PK (Kalium Permanganat) 10 ppm.
* Untuk pencegahan pada telur, kakaban, eceng gondok, ijuk direndam dalam larutan Malachite Green 2 ppm selama 30 - 60 menit.
* Dapat diulangi 2-3 kali dengan selang 3 hari


2. Penyakit Golongan Cacing.
Penyebab :

* Cacing Dactylogyrus menyerang insang
* Cacing Gyrodactylus menyerang kulit.

Tanda - tanda :

* Insang ikan rusak, luka dan timbul perdarahan.
* Sirip ikan menguncup, bahkan kadang terjadi kerontokan pada sirip ekor.
* Ikan menggosok-gosokkan badannya ke dasar kolam atau benda keras lainnya.
* Kulit menjadi berlendir dan berwarna pucat.

Pengobatan :

* Ikan direndam dalam larutan formalin teknis (Formalin 40 %) 250 ml dalam 1 m3 air selama 15 menit.
* Direndam dalam larutan Methylen Blue 3 ppm selama 24 jam.
* Direndam dalam larutan Malachite Green 2-3 ppm selama 30 - 60 menit.

3. Penyakit Golongan bakteri.
Penyebab :

* Bakteri Aeromonas
* Bakteri Pseudomonas

Tanda - tanda :

* Ikan lemah bergerak lambat, bernafas megap-megap di permukaan air.
* Warna insang pucat dan warna tubuh berubah gelap.
* Terdapat bercak-bercak merah pada bagian luar tubuhnya dan kerusakan pada sirip, insang dan kulit.
* Mula-mula lendir berlebihan, kemudian timbul perdarahan.

Pengobatan :

* Ikan direndam dalam larutan PK 20 ppm selama 30 menit.
* Untuk ikan besar, pengobatan dapat dilakukan dengan penyuntikan dengan dosis 0,5 cc Terramycine untuk 1 Kg berat ikan. Tempat penyuntikan umumnya di bagian punggung.
* Pengobatan dapat melalui makanan 1 gram atau 1 cc Terramycine dicampur dalam makanan untuk 1 kg berat ikan selama 6 - 10 hari.
* Direndam dalam larutan obat tetracyline dan kemicytine atau Chloramphenicol 250 gram dalam 500 liter air selama 2 jam. Pengobatan ini dapat diulangi tiap hari sekalai selama 3 sampai 5 hari.

sumber : http://www.jakarta.go.id

Jumat, 20 Maret 2009

Antisipasi Titik Kritis Pemeliharaan Larva Patin

Antisipasi Titik Kritis
Pemeliharaan
Larva Patin

Tanya:
Redaksi yang terhormat, saya baru memulai usaha pembenihan patin dalam beberapa bulan ini. Induk telah berhasil dipijahkan secara buatan, tapi dalam tahap pemeliharaan larva selalu gagal, padahal kualitas air selalu saya jaga. Kematian terjadi terus menerus hingga saya tidak pernah mendapatkan hasil. Apa yang harus saya lakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup larva ini?Terima kasih atas sarannya.


Jawab:
Keberhasilan usaha pembenihan ditentukan oleh beberapa faktor terutama mutu induk, manajemen induk dan kualitas air.
Pertama kali yang harus diperhatikan adalah mutu induk. Dalam mendapatkan induk, harus diperhatikan asal usul induk, jangan sampai terjadi inbreeding (perkawinan antar saudara) karena akan menurunkan mutu benih yang dihasilkan. Induk yang mendapatkan pakan berkualitas akan menghasilkan telur yang berukuran relatif besar, kuat dan daya tetas tinggi. Ukuran besarnya telur sebanding dengan besar larva. Telur yang bermutu baik menghasilkan larva yang lebih kuat dan tahan terhadap penyakit.

Pada tahap pemeliharaan larva harus diperhatikan titik-titik kritis pemeliharaan larva yang terjadi pada waktu

■ Penetasan
Telur-telur yang tidak menetas dan cangkang telur yang menetas akan membusuk dan merusak kualitas air. Karena itu cangkang dan telur yang tidak menetas harus segera dibuang keluar tanpa mengganggu larva.

■ Habisnya kuning telur
Pada saat ini larva memerlukan makanan dari luar. Dia akan memakan apapun yang ada di depannya, termasuk temannya sendiri. Solusinya adalah segera diberi makan yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya. Pakan harus bergerak karena mata larva belum sempurna dan larva hanya mengangakan (membuka) mulutnya saja.

■ Larva patin yang baru menetas akan bergerak
vertikal ke atas dan ke bawah. Kondisi kritis
terjadi pada saat larva bergerak horisontal. Ini merupakan tanda-tanda muai habisnya kuning telur. Pada saat larva mulai bergerak secara horisontal, pakan hidup harus segera diberikan.

■ Perubahan jenis pakan
Larva harus diberi makan yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya. Sehingga energi yang dihasilkan dari makanan lebih besar daripada energi dikeluarkan untuk membuka mulut. Karena itu, ukuran dan jenis makanan yang diberikan secara bertahap harus disesuaikan. Saat pengggantian jenis pakan ini seringkali terjadi banyak kematian karena tidak semua ikan dapat segera menyesuaikan diri, akibatnya ukuran ikan jadi tidak seragam. ikan yang kecil akan semakin kecil dan akhirnya mati karena selalu kalah dalam perebutan makanan.

Yang harus dilakukan dalam masalah ini adalah penggantian pakan dilakukan secara overlap (tumpang tindih). Yakni pakan pengganti diberikan dahulu sambil melihat respon ikan terhadap pakan baru tersebut. Setelah ikan yang mudah menyesuaikan diri kenyang, diberikan pakan lama untuk yang belum bisa makan pakan pengganti. Hal tersebut dilakukan selama beberapa hari hingga semua ikan bisa mengkonsumsi pakan pengganti.

Pemberian pakan pada larva juga harus disesuaikan dengan system alat pencernaannya yang belum sempurna. Pakan diberikan sedikit demi sedikit tapi sering. Pada saat pemeliharaan larva, pakan diberikan paling sedikit 6 kali dalam sehari semalam. Selepas dari tahap larva, pemeliharaan benih biasanya tidak terlalu banyak kendala.
Demikian, semoga bermanfaat.*
sumber : TROBOS, 2008

Sabtu, 07 Maret 2009

PENYAKIT PADA BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR

PENYAKIT PADA BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR Oleh : S Huda

Betapa terkejutnya dan hampir stress salah seorang pembudidaya ikan hias di Kota Tangerang ketika mendapatkan ikannya yang terdapat pada empat kolamnya dalam keadaan mati dan sekarat. Tidak ada yang diselamatkan karena hanya sedikit saja yang masih kelihatan sehat dan akhirnya semua dibuang dan dimusnahkan. Bila dihitung kerugiannya cukup besar sampai jutaan rupiah dan rugi waktu. Tetapi hal tersebut merupakan hal yang wajar bagi para pembudidaya ikan air tawar baik ikan konsumsi ataupun ikan hias.




Kegiatan budidaya ikan air tawar baik jenis ikan konsumsi ataupun ikan hias merupakan kegiatan yang mempunyai resiko tinggi karena ikan merupakan mahluk bernyawa yang kapan saja mengalami kematian. Salah satu penyebab gagalnya kegiatan budidaya ikan ini adalah karena faktor penyakit. Munculnya gangguan penyakit pada budidaya ikan merupakan resiko biologis yang harus selalu diantisipasi.
Munculnya penyakit pada ikan umumnya merupakan hasil interaksi kompleks/tidak seimbang antara tiga komponen dalam ekosistem perairan yaitu inang (ikan) yang lemah, patogen yang ganas serta kulitas lingkungan yang memburuk.
Dalam melakukan usaha budidaya ikan, para pembudidaya melakukannya ada yang secara intensif, semi intensif atau asal saja. Semakin intensif sistem budidaya yang diterapkan maka semakin kompleks pula kehadiran penyakit yang akan muncul. Penyakit yang menyerang ikan banyak macam dan ragamnya. Tetapi secara umum penyakit ikan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit infeksius dan non infeksius. Jenis penyakit infeksius terdiri dari penyakit yang disebabkan oleh parasit, jamur bakteri dan visrus. Sedangkan jenis penyakit non-infeksius disebabkan oleh lingkungan, makanan dan genetis.

Penyakit Infeksius.
1. Parasit
Penyakit yang disebabkan oleh parasit secara umum jarang mengakibatkan penyakit yang sporadis. Tetapi untuk intesitas penyerangan yang sangat tinggi dan areal yang terbatas dapat berakibat sporadis. Akibat dari penyakit yang disebabkan oleh parasit secara ekonomis cukup merugikan yaitu dapat menyebabkan kematian, menurunkan bobot, bentuk serta ketahanan tubuh ikan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai jalan masuk bagi infeksi sekunder oleh patogen lain seperti jamur, bakteri dan virus.
Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini terdiri dari protozoa dan metazoa. Protozoa bersifat parasitik terhadap ikan dan jumlahnya lebih dari 2000 jenis. Salah satu jenis protozoa ang paling sering menjadi kendala dalam budidaya ikan adalah Ichthyophthirius multifiliis atau ich (penyakit bintik putih). Sifat serangannya sangat sporadis dan kematian yang diakibatkannya dapat mencapai 100 % populasi dalam tempo yang relatif singkat.
Secara umum gejala ikan yang terserang protozoa adalah
- ikan tampak pucat
- nafsu makan kurang
- gerakan lambat dan sering menggososk-gosokkan tubuhnya ada dinding kolam
- pada infeksi lanjut ikan megap-megap dan meloncat-loncat ke permukaan air untuk mengambil oksigen
- adanya bercak-bercak putih pada permukaan tubuh ikan
Parasit dari golongan metazoa antara lain Monogenetic trematod (golongan cacing), cestoda, nematoda, Cepopoda (Argulus sp, Lernaea sp dan golongan Isopoda. Organ yang menjadi target serangan parasit ini adalah insang. Penularan terjadi secara horisontal terutama pada saat cacing dalam fase berenang bebas yang sangat infektif. Secara umum gejala dari serangan metazoa adalah :
- ikan tampak lemah
- tidak nafsu makan
- pertumbuhan lambat tingkah laku dan berenang tidak normal disertai produksi lendir yang berlebihan
- ikan sering terlihat berkumpul disekitar air masuk karena kualitas dan kadar oksigen lebih tinggi
- insang tampak pucat dan membengkak sehingga overculum terbuka
- ikan sulit bernafas seperti gejala kekurangan oksigen
- peradangan pada kulit akan mengakibatkan ikan menggoso-gosok badannya pada benda sekitar
- badan kemerahan disekitar lokasi penempelan parasit
- pada infeksi berat parasit ini kadang dapat terlihat dengan mata telanjang pada permukaan kulit ikan.

2. Jamur
Jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur bersifat infeksi sekunder. Semua jenis ikan air tawar termasuk telurnya rentan terhadap infeksi jamur. Jenis jamur yang sering menjadi kendala adalah dari famili saprolegniaceae. Beberapa faktor yang sering memicu terjadinya infeksi jamur adalah penanganan yang kurang baik (transportasi) sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, kekurangan gizi, suhu dan oksigen terlarut yang rendah, bahan organik tinggi, kulaitas telur buruk/tidak terbuahi dan padatnya telur pada kakaban. Penyakit ini menular terutama melalui spora di air. Gejala-gejalanya dapat dilihat secara klinis adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal ikan.

3. Bakteri
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit yang paling banyak menyebabkan kegagalan pada budidaya ikan air tawar. Penyakit akibat infeksi bakterial masih sering terjadi dengan intensitas yang variatif. Umumnya pembudidaya masih mengandalakan antibiotik sebagai ” magic bullet” untuk melawan penyakit bakterial. Jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri antara lain adalah penyakit merah yang disebabkan oleh bakteri garam negatif (Aeromonas hydrophila), penyakit columnaris atau luka kulit, sirip dan insang yang disebabkan oleh infeksi bakteri Flavobacterium columnare, penyakit tubercolosis yang tergolong sangat kronis disebabkan oleh bakteri gram positif Mycobacterium spp. dan penyakit Streptococciasis yang disebabkan oleh bakteri gram positif Streptococcus spp.

4. Virus
Patogen virus juga menyebabkan penyakit pada budidaya ikan air tawar. Belum banyak diketahui penyakit yang disebabkan oleh virus di Indonesia kecuali penyakit Lymphocystis dan Koi Hervesvirus (KHV). Infeksi lymphoccystis hanya bersifat kronis dan bila menyerang ikan hias akan mengalami kerugian yang berarti karena merusak keindahan ikan.
Sampai saat ini KHV merupakan penyakit yang paling serius dan sporadis terutama untuk komoditi ikan mas dan koi.

Penyakit Non-Infeksi
1. Penyakit akibat lingkungan
Faktor lingkungan dalam kegiatan budidaya ikan air tawar mempunyai pengaruh yang sangat tinggi. Lingkungan juga dapat mendatangkan penyakit dari kegiatan budidaya air tawar. Pengaruh dari penyakit yang diakibatkan oleh faktor lingkungan sering mengakibatkan kerugian yang serius karena kematian yang berlangsung sangat cepat dan tiba-tiba dan mematikan seluruh populasi ikan. Penyebabnya misalnya ada upwelling, keracunan akibat peledakan populasi plankton, keracunan pestisida/limbah industri, bahan kimia dan lainnya.
Faktor lingkungan yang buruk akan menyebabkan ikan menjadi
- tercekik, yaitu kekurangan oksigen yang umumnya terjadi menjelang pagi hari pada perairan yang punya populasi phytoplankton tinggi.
- Keracunan nitrit, yang sering disebut penyakit darah cokelat karena disebabkan oleh konsentrasi nitrit yang tinggi di dalam air yang berasal dari hasil metabolisma ikan.
- Keracunan amonia, terjadi hampir sama dengan nitrit tetapi pada umunya karena pengaruh pemberian pakan yang berlebihan atau bahan organik, sedangkan populasi bakteri pengurai tidak mencukupi. Yang sangat beracun adalah dalam bentuk NH3
- Fluktuasi air yang ekstrim, dimana perubahan suhu air yang ekstrim akan merusak keseimbangan hormonoal dan fisiologis tubuh ikan dan pada umumnya ikan tidak mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan dan mengakibatkan ikan stress bahkan kematian.
- Limbah pollutan, yang terdiri dari logam-logam berat cukup berbahaya bagi ikan karena sifat racunnya yaitu Hg, Cd, Cu, Zn, Ni, Pb, Cr, Al dan Co juga dapat menyebabkan penyakit bagi ikan. Sifat dari masing-masing logam berat tersebut dapat meningkat apabila komposisi ion-ion di dalam air terdiri dari jenis-jenis ion yang sinergik. Selain komposisi ion, nilai PH juga berpengaruh terhadap tingkat kelarutan ion-ion loga. Bila kadarnya tinggi menyebabkan ikan-ikan stress dan bila terus meningkat dapat menyebabkan kematian.

2. Penyakit Malnutrisi
Pemberian pakan yang berlebihan/kekurangan dan tidak teratur juga dapat menyebabkan penyakit pada ikan. Penyakit karena malnutrisi jarang menunjukkan gejala spesifik sehingga agak sulit didiagnosa penyebab utamanya. Tetapi dalam diet pakan dapat mengakibatkan kelainan fungsi morfologis dan biologis seperti defisiensi asam pantothenic penyakit jaring insang ikan yang dapat menyebabkan ikan sulit bernafas yang diikuti dengan kematian, defisiensi vitamin A yang menyebabkan mata menonjol/buta dan terjadi pendarahan pada kulit juga ginjal, defisiensi vitamin B-1 yang menyebabkan kehilangan nafsu makan, pendarahan dan penyumbatan pembuluh darah, defisiensi asam lemak essensial yang berakibat infiltrasi lemak pada kulit dan minimnya pigmentasi pada tubuh ikan. Yang cukup berbahaya adalah karena defisiensi vitamin C yang merupakan penyakit yang umum terjadi dimana akibat yang paling populer adalah broken back syndrome seperti scoliosis dan lordosis

3. Penyakit Genetis
Salah satu penyebab penyakit yang kompleks pada kegiatan budidaya ikan air tawar karena adanya faktor genetik terutama karena adanya perkawinan satu keturunan (inbreeding). Pemijahan inbreeding yang dilakukan secara terus-menerus akan menurunkan kualitas ikan berupa variasi genetik dalam tubuh ikan. Akibat dari pemijahan secara inbreeding adalah :
- pertumbuhan ikan lambat (bantet/kontet) dan ukuran beragam
- lebih sensitif terhadap infeksi patogen
- organ tubuh badan yang tidan sempurna serta kelainan lainnya

Demikain secara garis besar penyakit-penyakit yang biasa menyerang dan dihadapi oleh pembudiaya ikan. Semoga informasi yang ringkas ini dapat bermanfaat khususnya bagi para pembudidaya ikan air tawar. Untuk informasi tentang cara pengendalian penyakit-penyakit tersebut akan ditampilkan dalam edisi selanjutnya.

* Staf Subdin Binus Perikanan Dinas Pertanian Kota Tangerang


sumber : http://www.dkp-banten.go.id

Selasa, 03 Maret 2009

membran elektron Senjata Taklukkan Virus Udang

membran elektron Senjata Taklukkan Virus Udang

Alat ini dirancang khusus untuk melumpuhkan virus mematikan pada udang
Lahan tambak udang di pantai utara Pulau Jawa (pantura) kualitasnya sangat buruk. Selain tercemar oleh timbunan limbah industri dan rumah tangga, lahan-lahan tambak di sana juga mengalami penurunan kualitas akibat seringnya penggunaan lahan budidaya tanpa ada perbaikan. Bak menegakkan benang basah, upaya budidaya di lahan tersebut nyaris selalu menjumpai kegagalan. Alih-alih panen, udang tak sanggup bertahan lebih dari 20 hari.


Tapi bagi Endi MuchtarUdin, itu cerita udang. Petambak udang dari Sungai Buntu, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, Jawa Barat ini berhasil mematahkan anggapan bahwa pantura tak bisa untuk budidaya udang. Tiga kali panen berturut-turut, Endi menangguk untung besar budidaya udang di lokasi tambak yang sebelumnya mangkrak (idle/tambak rusak dan tak terpakai).

Hebatnya lagi, jenis udang yang dibudidayakan lelaki paruh baya tersebut adalah windu (Penaeus monodon), yang tingkat kesulitan budidaya lebih tinggi dibandingkan jenis vaname (Penaeus vannamei). Rahasianya, kata Endi, menggunakan senjata ME-1 (membran elektron 1)
untuk melawan virus. Alat ini mampu melumpuhkan virus-virus penyebab penyakit pada udang. Beragam virus yang selama ini menghantui para petambak udang seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), Infectious Hypodermal Hemathopoetic Necrosis Virus (IHHNV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) dan Virus Nervous Necrosis (VNN) akan bisa ditaklukkan.



Tembak DNA Virus
Membran elektron adalah suatu instrumen pembangkit elektron kecepatan tinggi yang dirancang khusus untuk mengurangi jumlah virus dalam air. Alat ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama disebut generator elektron (box driver generator electrons) yang berfungsi membangkitkan elektron berkecepatan tinggi. Bagian dua adalah elektroda kassa berlapis plating yang dilekatkan bagian dalam pipa paralon. Fungsinya membuat zona kaya elektron dalam air. Zona elektron yang dihasilkan tersebut akan mengganggu ikatan protein pada virus yang melewatinya. Sehingga air yang mengalir melalui zona ini akan bebas virus.


Alas dipasang pada pipa tandon air di tambak dan bekerja ketika proses pengisian air. "Prinsipnya adalah merusak DNA virus di dalam air yang akan masuk ke tambak," papar Endi. Cara kerjanya, listrik berdaya maksimum 75 watt (untuk 1 unit ME-1) dialirkan ke elektroda kassa sehingga membentuk membran elektron. Air yang akan masuk tambak diatur melewati membran tersebut dengan debit air maksimum 25 liter per detik. Jika ada virus yang lewat, maka DNA-nya akan tertembak oleh elektron hingga rangkaiannya rusak.


Menurut Endi, 1 unit ME-1 berdiameter paralon 6 - 8 inchi bisa digunakan untuk tambak seluas 5 hektar. Biaya pembuatan satu unit ME-1 berkisar Rp 10 juta. Masa pakai kasa sampai 8 bulan. atau dua kali siklus. Tapi akan lebih bagus apabila setiap siklus dilakukan pergantian kassa yang biayanya tak lebih Rp 500 ribu. Cara ini akan membuat hasil kerja ME-1 maksimal.


Endi mengaku, dirinya tidak sendirian membuat ME-1, tapi bersama-sama dengan Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut. Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) Karawang. Di tempat inilah. Endi biasa mencari jawab atas permasalahan yang dihadapinya dalam budidaya udang.


Dede Sunendar, Kepala BPBPLAPU menyatakan, teknologi membran elektron terbukti mampu menanggulangi virus. "Di tempat kami ada tandon yang sudah terdeteksi positif terkena WSSV. Tandon tersebut dipasangi dengan membran elektron dan setelah itu air yang keluar dari tandon menjadi bebas virus," kata Dede.


Menurut dia, tambak-tambak di kawasan BPBPLAPU selama ini dinyatakan tak bisa lagi ditanami udang. Namun dengan ME-1, kini tambak-tambak tersebut bisa berproduksi kembali dengan hasil yang memuaskan. BPBPLAPU menggunakan ME-1 di dua tempat berbeda. Pada lahan tambak vaname sistem intensif seluas 4,2 hektar, padat tebar mencapai 360 ribu, panen mencapai 3,2 ton. Sementara lahan seluas 2,4 hektar, padat tebar 75 ribu,
sistem polikultur antara udang vaname dan rumput laut (Gracilaria), bisa panen 8,2 kuintal udang.


Endi dan pihak BPBPLAPU berniat akan terus menyempurnakan ME-1 ini. Misalnya, kata Endi, melengkapi ME-1 dengan kecepatan frekuensi sehingga hasilnya lebih optimal.
Bacillus Sungai Buntus
Namun, balk Endi dan Dede
mengingatkan, keberhasilan budidaya udang windu maupun vaname di tambak
mangkrak bukan semata karena adanya ME-1, melainkan juga harus menerapkan
sistem probiotik yang bakterinya diambil dari tambak setempat. Endi dan BPBPLAPU juga telah berhasil mengembangkan

bakteri probiotik yang diisolasi dari tambaknya sendiri (TROBOS edisi 103, April 2008). Bakteri ini akan bisa menghancurkan kelebihan (sisa-sisa)
bahan organik tambak yang jadi penyebab penurunan kualitas tambak.
Untuk sementara, bakteri probiotik yang berhasil diisolasi dari tambak mereka adalah jenis Bacillus dan Thiobacillus subtillis. "Namanya Bacillus sungai buntus," kata Endi berseloroh menyebut Hama bakteri yang diisolasi dari tambaknya.
Kepala Seksi Pengujian BPBPLAPU, Man Riswan menyebutkan, penggunaan probiotik dilakukan secara terus menerus.
Pemberiannya dilakukan setelah
1x24 jam proses pengkulturan
bakteri. Untuk pengkulturan
bakteri Bacillus, BPBPLAPU
menggunakan formula 1 liter
Bacillus, 1 kg pakan, 1 kg gula
dan 100 liter air tawar. Probiotik
Bacillus ini berperan dalam
menyerap kandungan protein
pakan. Artinya probiotik ini akan
berkontribusi dalam ketersediaan
protein dalam tambak.

Sementarauntuk Thiobacillus, formulanya terdiri atas 1 liter Thiobacillus, 1 kg nutrisi, 1 kg gula dan 100 liter air tawar. Untuk yang jenis terakhir berperan dalam mengurangi kadar H,S dalam tambak dan untuk mencerahkan warna air.
Saat persiapan lahan (sebelum diisi air) probiotik yang diberikan lebih banyak. Misalnya pada tambak di BPBPLAPU seluas 1600 m2, probiotik yang diberikan mencapai 40 liter hasil kultur (campuran formula). Sedangkan ketika udang sudah masuk tambak, dosis dikurangi menjadi 15 - 20 liter untuk lahan yang sama.

Disamping penggunaan probiotik, Kepala Seksi Aplikasi Teknologi Budidaya Bandeng BPBPLAPU, Adang Solihin menambahkan, budidaya udang di tambak mangkrakjuga akan sukses dengan memberikan perlakuan khusus saat pengeringan lahan. Yaitu membakar jerami (atau bahan lain) di atas lahan untuk mematikan bakteri dan virus yang ada di tambak tersebut. Cara ini juga bisa digunakan untuk menambah unsur karbon dalam tambak. Pihak BPBPLAPU dalam hal ini menghabiskan sekitar 6 ton jerami untuk tambak seluas 4,2 hektar. Menurut Adang, pembakaran jerami terutama diterapkan untuk lahan tambak yang berlumpur.

sumber : Trobos 2008

Sabtu, 28 Februari 2009

Bila Benih Kerapu Terinfeksi

Bila Benih Kerapu
Terinfeksi


Salam hormat,

Beberapa waktu yang lalu saya mengalami permasalahan, hampir semua benih ikan kerapu macan yang saya pelihara di bak indoor
sejak umur 20 hari mengalami kematian dengan gejala-gejala sbb :
• ikan tidak bergerak normal, ikan yang sehat biasanya pergerakannya aktif berputar
• warna ikan gelap
• sebagian ikan kehilangan kemampuan renang dan keseiimbangannya, kemudian bergerak hanya di dasar bak, dan akhirnya mati dengan tutup insang membuka lebar.


• pertumbuhan terlihat sangat lambat, padahal suhu air sudah saya upayakan >_30°C
• nafsu makan ikan terlihat sangat kurang

Saya sudah mengupayakan untuk mengobati ikan, misalnya dengan elbaju (obat ikan) bahkan dengan OTC (oxytetracycline) tetapi belum menunjukkan hasil yang bagus.
Apakah kira-kira penyakit yang menyerang benih kerapu yang saya pelihara, bagaimana cara mengatasinya ?

Muksin, Lampung

Dalam budidaya ikan atau udang, hal pertama yang harus diperhatikan adalah lingkungan/ media. Jika lingkungan hidup atau media aman dan nyaman bagi ikan, bisa dipastikan ikan akan tumbuh dengan optimal, sebaliknya jika media hidupnya kurang nyaman, ikan akan mudah stres dan berupaya untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang buruk.

Selain faktor lingkungan, patogen merupakan laktor yang harus kita perhatikan sebab jika sudah masuk ke dalam lingkungan pemeliharaan ikan, akan mudah sekali menginfeksi ikan terutama pada saat lingkungan memburuk atau jika ikan mengalami stres.

Hampir semua patogen bersifat oportunis, yaitu menyerang pada saat lingkungan memburuk.
Jika dilihat dari gejala, besar kemungkinan benih kerapu yang bapak pelihara terinfeksi suatu penyakit. Tapi diperlukan pemeriksaan dan analisa yang tepat sehingga benar - benar diketahui penyakit yang menginfeksi ikan.

Bapak bisa mengirimkan sampel ikan yang sakit ke balai-balai perikanan untuk memastikan agen penyakit.

Beberapa ilustrasi penyakit yang mungkin menginfeksi diantaranya :
• parasit monogenean, seperti Neobenedenia sp. Biasanya dicirikan dengan turunnya nafsu makan ikan disertai pergerakan yang abnormal. Beberapa menimbulkan 'pop eye' (mata menonjol), biasanya berasosiasi dengan penyakit bakterial. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah merendam dengan air tawar selama 15-30 menit sehingga parasit akan terlepas dari tubuh ikan. Jika terkena air tawar, warna parasit akan berubah dari bening menjadi putih susu sehingga mudah dilihat
dengan mata telanjang.

• Parasit darijenis Oodinium sp, dicirikan dengan timbulnya lapisan seperti bludru (velvet) pada permukaan tubuh ikan, serta warna insang berubah pucat. Ikan biasanya cenderung diam di dasar bak. Infeksi Oodinium lebih sudah diamati pada ikan yang masih berukuran kecil, tetapi biasanya infeksi Oodinium ini menyebabkan kematian yang signifikan. Jika terserang Oodinium. ikan bisa di dipping (celup) dengan larutan formalin 100-200 ppm selama 1 jam dengan aerasi kuat.

• Penyakit bakterial, salah satunya vibriosis. Gejala warna ikan cenderung gelap, jika dibedah gelembung renang membesar (tampak seperti kembung), kadang-kadang disertai luka/borok. Jika terbukti terinfeksi bakteri, antibiotik bisa digunakan dengan dosis tepat sesuai yang dianjurkan. Kepadatan ikan dikurangi dan perbaikan kualitas air.

• Virus VNN, banyak menyerang benih kerapu dengan gejala kehilangan nafsu makan, ikan yang lemah berenang dekat permukaan air. Ikan yang terinfeksi akan banyak berada di dasar bak, dan akhirnya akan mati. Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang bisa digunakan untuk mengatasi virus, kecuali langkah-langkah pencegahan seperti pergantian air yang cukup banyak dan sering, serta penambahan imunostimulan. VNN mudah menular sehingga jika teridentifikasi dan kematian semakin meningkat, disarankan untuk memusnahkan dan melakukan sterilisasi terhadap bak dan alat-alat.
Demikian, semoga bisa memberikan gambaran dan bermanfaat. Selamat berbudidaya.
sumber : TROBOS, 2008

Senin, 09 Februari 2009

Penyakit udang Virus Myo

Virus Myo:
Situbondo Diserang Brazil

Oleh trubus Selasa, Maret 06, 2007 19:01:04

Jagoan udang itu akhirnya takluk juga. Vannamei yang kebal serangan whitespot kini mulai diusik Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV). Sejumlah 300.000 benur vannamei di Situbondo mati gara-gara virus itu. Itulah serangan pertama yang terjadi sejak vannamei masuk ke tanahair.

Jagoan udang itu akhirnya takluk juga. Vannamei yang kebal serangan whitespot kini mulai diusik Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV). Sejumlah 300.000 benur vannamei di Situbondo mati gara-gara virus itu. Itulah serangan pertama yang terjadi sejak vannamei masuk ke tanahair.

Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV) pertama kali ditemukan oleh laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan, Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo di Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Serangan itu menimbulkan banyak kerugian, terutama bagi peternak di Desa Klatakan yang lingkungan tambaknya ekstrim: salinitas, suhu, dan kualitas pakan rendah. Gejala serangan khas, pangkal ekor berubah merah. Litopenaeus vannamei itu akan mati secara bertahap di dasar tambak. Tanpa pemantauan dini, penyakit itu dapat menyebar luas.

Myo disebabkan oleh virus jenis RNA (Ribo Nucleic Acid). Virus itu tergolong ganas karena bisa mematikan vannamei berumur 60-80 hari dalam sekejap. Tingkat kematian dapat mencapai 50% dari bibit tebar. Penyakit itu pernah mewabah di Brazil bagian utara pada 2003. Menurut Ir Rubiyanto Widodo Haliman, MBA, praktikus udang di Lampung, negara yang terletak di kawasan Amerika Selatan itu mengalami penurunan produktivitas vannamei dari 6.084 kg/ha pada 2003 menjadi 4.573 kg/ha di 2004. 'Persentase kematian udang berbobot 6-10 g/ekor akibat serangan virus itu lebih besar dari 50%,' ujar alumnus Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor itu.

Tengok saja nasib peternak di Desa Klatakan, Situbondo. Dari 600.000 benur vannamei yang ditebar, hanya setengah yang bisa dipanen. 'Dengan kepadatan tebar 200 ekor/m2 diharapkan menghasilkan 6 ton/3.000 m2. Tapi, yang didapat hanya 2,9 ton/3.000m2,' ujar Bambang Hanggono, S.Pi, MSc, staf Balai Budidaya Air Payau Situbondo.

Penyakit itu dapat mewabah ke penjuru pelosok melalui air dan penyebaran bibit vannamei. Bahkan menurut Ir Slamet Subiyakto, MSi, kepala BBAP Situbondo, vannamei yang terserang berasal dari petambak intensif. 'Itu karena penebaran benur yang padat sehingga sisa kotoran menumpuk. Akibatnya terjadi goncangan lingkungan dan peningkatan bahan organik yang berubah menjadi racun,' tuturnya.

Gejala penyakit

Menurut Slamet, anggota genus litopenaeus yang terserang virus myo itu awalnya tetap makan dengan baik. Pertumbuhan fisiknya pun bagus. Namun, ketika mencapai umur 60-80 hari, tiba-tiba nafsu makannya turun drastis. Dagingnya berwarna putih keruh. Kemudian tepi pleura udang bersemburat merah seperti udang rebus. Bentuk usus saat diamati berkelok-kelok dan terjadi pembengkakan pada kelenjar limpha.

Sebab itu perut udang kosong dan bagian pangkal ekornya pucat. Otot-otot daging mengalami nekrosis-mengkerut-di kepala, termasuk hepato pankreas terdapat inklusi-perubahan patologi pada jaringan karena adanya serangan virus. Namun, Slamet mengingatkan, gejala-gejala itu akan selalu tampak sama pada individu udang yang terserang. Untuk meyakinkan perlu dilakukan proses diagnosis.

Diagnosis dilakukan dengan analisis Polymerase Chain Reaction (PCR) dan uji histologi untuk melihat kerusakan jaringan. Bila dinyatakan positif berarti udang terserang IMNV. 'Analisis PCR relatif lebih cepat dan akurat bila dibandingkan dengan metode deteksi penyakit lain,' ucap Rubiyanto.

Wabah meluas

Dari hasil Active Surveillen Situbondo sampai Agustus 2006 dilaporkan, IMNV hanya terdeteksi di Situbondo dengan tingkat prevalensi 11,11%. Sedangkan di Jember, Malang, Blitar, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, dan Tuban belum terdeteksi, begitu juga di Bali.

Hasil penerimaan sampel dari masyarakat di laboratorium kesehatan dan lingkungan BBAP Situbondo, sejak September 2006 menunjukkan IMNV sudah menyebar di Kecamatan Arjasa, Banyuputih, Situbondo. Yang diserang vannamei berumur 35-45 hari. Pada bulan sama, IMNV sudah menyebar ke Kecamatan Bomo, Banyuwangi.

Ada beberapa alternatif pencegahan. Menebar bibit dan benur bebas IMNV, penggunaan tandon air, mempercepat panen, dan penambahan vitamin C untuk memperkuat kondisi tubuh vannamei, vaksinasi, penggunaan probiotik, dan immunostimulant. Yang tak kalah penting meminimalkan guncangan lingkungan serta mengatur pola tanam dalam kawasan budidaya. Namun dari sejumlah alternatif itu, pengelolaan tambak yang terprogram lebih baik. (Ir Yani Lestari Nuraini, koordinator Laboratorium Kesehatan dan Lingkungan Balai Budidaya Air Payau Situbondo)


sumber : http://www.trubus-online.co.id



Kamis, 22 Januari 2009

Penyakit ikan Hias : Hama Ikan

Hama Ikan

Selain penyakit, ikan pun bisa diserang hama. Hama ikan kebanyakan hidup di kolam atau bak semen. Pada wadah akuarium, hama ini sangat jarang menyerang ikan. Biasanya hama menyerang anak ikan atau mengganggu lingkungan kehidupan ikan.


1. Larva capung
Ukuran larva capung atau dragon-fly larvae (Odonata sp.) dapat mencapai 2 cm. Biasanya larva ini masuk kolam bersama dengan tanaman air karena tempat persembunyiannya di akar tanaman atau terbenam dalam kotoran kolam. Makanannya berupa larva ikan sehingga sangat merugikan. Dalam sehari saja bisa kehilangan banyak larva ikan.


Pemberantasan hama ini dengan diserok karena mudah dilihat, lalu dimusnahkan. Bila jumlahnya terlalu banyak, pemberantasannya dengan pemberian insektisida Sumithion 0,01 ml/l air. Selain itu, pemberantasan bisa dengan pengurasan kolam hingga bersih. Setelah dikeringkan, kolam dapat diairi untuk digunakan kembali.


2. Dyticus marginalis

Dyticus marginalis merupakan serangga yang larvanya dapat menyerang larva ikan. Tubuhnya panjang kecil, dapat mencapai 7 cm, dan kepalanya berbentuk segi tiga. Cara pemberantasannya seperti pada larva capung.


3. Keong

Biasanya ada beberapa jenis keong yang sering berada di kolam budidaya ikan hias. Keong-keong tersebut memakan telur ikan sehingga sangat merugikan petani. Kehadiran keong dalam kolam biasanya karena telurnya terbawa dalam tanaman air (terutama enceng gondok) atau dalam pakan cacing.

Pemberantasan hama ini dapat dilakukan dengan cara manual, yaitu dipungut satu per satu, lalu dibuang atau dimusnahkan. Bila populasinya banyak, tanaman air sebaiknya dibersihkan, lalu kolamnya dikuras.


4. Katak

Keberadaan katak dalam kolam pun dapat merugikan. Biasanya katak muncul terutama pada musim penghujan. Berudu katak memakan pakan ikan sehingga ikan menjadi kurang makan. Bahkan, kehadirannya bisa mengotori atau mencemari air. Telur katak pun dapat meracuni ikan karena mengandung lendir. Ikan yang memakan telur katak ini akan mati.

sumber : Dart S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006





penyakit ikan hias : Kutu ikan (Argulus sp.)

Kutu ikan

Kutu ikan (Argulus sp.) merupakan parasit yang berbentuk bulat pipih seperti kutu. Kutu ini hidup dari mengisap cairan tubuh ikan melalui alat pengisap di mulutnya. Siklus hidupnya bisa lebih dari 30 hari. Kutu dewasa akan bertelur dan telurnya akan melekat pada tanaman air atau obyek lain. Selanjutnya telur akan menetas dalam waktu 10-30 hari. Larvanya akan tumbuh menjadi dewasa dan menjadi parasit bagi ikan.



Tanda-tanda ikan yang terserang penyakit ini ialah tampak jelas adanya kutu yang menempel di kulit ikan, terutama di daerah kepala. Selain itu, ikan akan menjadi kurus dan pucat. Ikan yang pernah terserang parasit ini biasanya bertubuh lebih hitam dan menjadi tidak menarik. Oleh karena umumnya daya tarik ikan hias terletak dari warna tubuh maka sangat diperlukan tindakan pencegahannya.


Pencegahan dapat dilakukan dengan menambahkan garam dapur 0,5-1,0 g/l pada air tempat hidupnya. Kalau ikan sudah terserang, pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman ikan dalam larutan garam dapur 20 g/l, atau PK 2-5 mg/l selama 30 menit. Perlakuan pengobatan harus dilakukan setiap hari hingga kutu ikan benar-benar habis.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006


Penyakit lernaea

Penyakit lernaea

Penyakit ini disebabkan oleh parasit Lernaea cyprinacea yang banyak menyerang ikan mas dan guppy. Bentuk tubuh parasit seperti cacing kecil yang dilengkapi alas jangkar sebagai pengait ke tubuh inang. Bila sudah tertanam di tubuh inangnya, parasit hanya tampak ekornya saja. Penyerangannya dengan mengisap darah sehingga ikan semakin kurus dan pucat.

parasit yang masuk ke tubuh ikan merupakan induk betina dan dapat mengeluarkan ratusan larva hanya dalam waktu 2-16 minggu pada suhu 25° C. Larva ini bukan merupakan parasit. Setelah besar, parasit ini akan kawin. Jantannya akan mati, sedangkan betinanya akan masuk dan menjadi parasit di tubuh ikan.

Tanda serangan parasit ini adalah adanya bentuk seperti jarum yang menempel di tubuh ikan zerta terkadang diikuti infeksi dan pendarahan di tempat tempelan.
pengobatan penyakit ini sangat sulit. Perendaman dalam larutan garam dapur berkadar 5 g/l hanya dapat menolong bila infeksi baru dimulai. Agar parasit tidak menulari ikan lain, kolam bekas ikan sakit direndam dengan pestisida Sumithion 0,01 ml/l air sebelum digunakan.

sumber : Darti S.L dan Iwan D.Penebar Swadaya, 2006

Rabu, 21 Januari 2009

Penyakit ikan Hias : bintik putih

Penyakit bintik putih

Penyakit bintik putih (white spot) terjadi akibat adanya parasit Ichthyopthirius multifiliis sehingga sering disebut penyakit Ich. Hampir semua ikan hias air tawar dapat terserang penyakit ini. Walaupun kebanyakan yang diserang adalah benih ikan berukuran 1-5 cm, namun penyakit ini pun sering menyerang ikan besar maupun kecil.


Penyebaran penyakit ini sangat cepat, terutama pada suhu optimalnya (15-25° Q. pada suhu 30° C atau lebih, penyakit ini akan mati atau siklusnya berhenti. Siklus hidup parasit ini terbagi dalam beberapa fase, yaitu parasiter (tropozoit), pre-kista (tomont), kista (trophont), post-kista (theront).

Siklus hidup ini terjadi selama 6 hari pada suhu 25° C, 10 hari pada suhu 15°, dan lebih sebulan pada suhu 10° C.
Fase parasiter merupakan fase aktif yang membentuk nodula (spot atau bintik) putih di kulit dan epitel insang ikan. Bila sudah dewasa, parasit akan keluar dari nodula dan membentuk pre-kista yang berenang bebas mencari tempat menempel seperti akuarium, serokan, dan tanaman air.Di tempat menempelya pre - kista akan berkembang menjadi kista yang di dalamnya berisi tomite.

Tomite inilah yang akan membelah menjadi banyak. Pembelahan tomite menyebabkan kista pecah sehingga tomite keluar. Tomite selanjutnya akan berkembang menjadi bentuk post-kista. Fase inilah yang aktif menyerang ikan. Jumlahnya di dalam air sangat banyak. Setiap kista dapat menghasilkan lebih dari 1.000 post-kista.


Apabila infeksinya sudah meluas ke seluruh tubuh berupa bintikbintik putih maka ikan bisa mati. Tanda serangan penyakit ini adalah ikan akan naik ke permukaan air dan adanya bintik putih pada kulit. Pada serangan cukup serius, ikan akan menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding akuarium atau kolam sehingga menimbulkan luka. Luka dapat mengalami infeksi sekunder oleh cendawan.


Tindakan pencegahan dilakukan dengan cara memberok ikan pada air mengalir atau kepadatan ikan dikurangi. Untuk pengobatannya dilakukan dengan cara ikan yang sakit direndam dalam larutan formalin 0,025 mW clan MOO 0,1 mg/e selama 12-24 jam.

Setelah direndam, ikan dimasukkan kembali ke air bersih. Perendaman ikan dalam larutan metil biru sebanyak 0,7-1,0 mg/e selama 24 jam pun dapat membantu menghilangkan penyakit ini bila keadaannya belum parah. Bila tidak ada obat tersebut, perendaman dalam larutan garam dapur 4 g/l selama 5-10 menit dapat menghilangkan penyakit ini.

Oleh karena siklus hidup parasit ini selama enam hari maka pengobatannya disarankan dilakukan selama tujuh hari berturut-turut. Ini dilakukan agar bibit penyakit benar-benar habis. Selain dengan obat dan garam dapur, pengaturan suhu menjadi 31-32° C selama 10 hari dapat mematikan parasit.

sumber : Darti S.L dan Iwan D, Penebar Swadaya, 2006

Penyakit ikan Hias : Velvet

Penyakit velvet

Penyakit ini merupakan penyakit yang khas pada famili Cichlidae. Namun, paling sering penyakit ini menyerang diskus. Penyebabnya adalah parasit Oodinium pillularum atau Costia necatrix.
Tanda-tanda serangannya antara lain kulit bengkak merah kecokelatan yang kemudian akan mengelupas dan terkadang ada abses atau pembengkakan.


parasit ini tidak tahan terhadap suhu tinggi, di atas 30° C, dan tidak akan hidup bila selama 24 jam tidak bertemu dengan ikan. Oleh karena itu, penularannya dapat dicegah dengan cara tidak mengisi akuarium bekas ikan sakit selama paling sedikit 24 jam. Sementara pengobatan terhadap ikan sakit dengan cara menaikkan suhu air hingga lebih dari 30° C. Cara pengobatan lain ialah dengan memberikan garam dapur sebanyak satu sendok teh untuk setiap 15 liter air atau memberikan acriflavin 1 mg/l air.

sumber : Darti S.L, dan Iwan D. Penebar Swadaya,2006


Selasa, 20 Januari 2009

Penyakit ikan hias Akibat Cendawan / Jamur

Penyakit Akibat Cendawan

Penyakit cendawan pada ikan hias disebabkan oleh Saprolegnia sp. Cendawan ini menyerang telur ikan dan sebagai penyebab utama tidak atau kurangnya daya tetas telur ikan. Perkembangannya akan sangat cepat di tempat penetasan. Faktor penyebab adanya cendawan adalah luka akibat ikan saling bergesekan, penanganan kurang baik, suhu dingin, atau terlalu banyak pakan sehingga air menjadi kotor.

Tanda-tanda adanya serangan penyakit ialah terdapat benang-benang putih atau terkadang kecokelatan sampai hijau seperti kapas di tubuh ikan. Biasanya serangannya pada daerah kepala, tutup insang, dan sirip. Namun, serangannya biasanya paling sering terjadi pada ikan yang matang kelamin, benih, dan telur.

Pencegahan penyakit jamur adalah menjaga kebersihan, menghindarkan luka dengan penanganan yang baik, serta memberikan garam saat pengangkutan maupun ikan yang baru tiba. Sementara pencegahan serangan pada telur dengan memberikan metil biru 0,5-0,7 mg/f ke dalam media penetasan atau mencelupkan telur dalam larutan malachit green oxalat (MOO) sebanyak 0,2-0,3 mg/l selama sejam sebelum ditetaskan.


Sementara pengobatan ikan yang sudah terserang penyakit dapat dilakukan dengan perendaman dalam larutan MGO sebanyak 0,3 mg/l dan formalin 50 ppm selama 10-15 menit. Setelah direndam, ikan dipindahkan ke wadah berisi air bersih atau diberi air mengalir.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006


Penyakit ikan hias Akibat Bakteri : Tuberculosis

Tuberculosis

penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium sp. Gejala yang tampak ialah tubuh berwarna lebih gelap, perut membengkak, dan lama-kelamaan ikan akan menjadi sangat kurus.


Hingga saat ini penyakit tuberculosis belum ada obatnya. Oleh karena itu, tindakan pencegahan masih yang terbaik untuk menghindari penyakit ini. Caranya ialah dengan menjaga kualitas air dan memberikan pakan dalam jumlah cukup.

Sumber : Darti S.L, dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006