Tampilkan postingan dengan label teknologi budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknologi budidaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2010

TEKNIK PRODUKSI INDUK BETINA IKAN NILA

TEKNIK PRODUKSI INDUK BETINA IKAN NILA
T. Yuniarti, Sofi Hanif, Teguh Prayoga, Suroso


Abstrak
Dalam rangka memenuhi kebutuhan induk betina sebagai pasangan dari induk jantan YY , maka
diperlukan suatu teknologi untuk memproduksi induk nila tunggal kelamin betina. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah produksi induk jantan XX. Populasi induk jantan XX jika dikawinkan dengan betina (XX) maka akan diperoleh keturunan tunggal kelamin betina (monosex).

Pada tahun 2006, tahapan yang dilakukan dalam kegiatan produksi induk betina ikan nila ini adalah tahap uji keturunan terhadap induk jantan fungsional (XX). Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan induk jantan XX hasil verivikasi.

Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa dari 38 ekor induk jantan fungsinonal (XX), ternyata hanya menghasilkan 2 ekor induk jantan XX. Hal ini dapat terlihat dari persentase keturunan betina >95% hanya ada 2 ekor yaitu induk dengan kode 460041352B dan 460966737A.
Kata kunci: Tilapia, Breeding Programme, Sex reversal, all- female progeny



PENDAHULUAN

Latar belakang
Di dalam budidaya ikan nila dewasa ini banyak
dikembangkan berbagai teknologi dalam rangka
peningkatan mutu induk ikan nila. Hal ini disebabkan
pada saat ini telah banyak terjadi penurunan kualitas
induk ikan nila. Oleh karena itu kebutuhan induk
bermutu sangat diharapkan dalam rangka memperoleh
benih yang berkualitas.

Pada umumnya populasi induk betina yang
dihasilkan secara alami terbatas (1 betina: 2 jantan),
sedangkan kebutuhan induk betina dalam satu paket
lebih banyak dari jantan (3 betina : 1 jantan), maka
diperlukan suatu teknologi untuk menghasilkan
populasi tunggal kelamin betina. Dalam rangka upaya
untuk menghasilkan populasi induk betina sebagai
pasangan induk ikan nila GESIT, maka dilakukan
rekayasa teknologi untuk memperoleh induk jantan
fungsional XX.

Induk jantan fungsional yang secara
genetis mempunyai kromosom XX ini, apabila
dikawinkan dengan betina normal (XX), maka akan
memperoleh keturunan semua betina. Dengan
demikian upaya pemenuhan kebutuhan akan induk
betina akan lebih cepat.

Tahapan yang pertama kali harus dilakukan
adalah membuat induk jantan fungsional yaitu induk
jantan yang mempunyai kromosom XX. Pembuatan
induk jantan fungsional dapat dilakukan dengan
pemberian pakan yang mengandung hormon 17α methyltestosteron selama masa diferensiasi kelamin pada ikan nila. Waktu diferensiasi kelamin pada ikan
nila terjadi pada saat larva umur 6-7 hari setelah
menetas sampai sekitar umur 27-28 hari setelah
menetas. Selanjutnya larva hasil sex reversal
dipelihara sampai induk untuk dapat dilakukan
verivikasi. Verivikasi untuk mendapatkan induk
jantan XX ini dilakukan dengan uji keturunan
(progeny test).

Tujuan dan Target

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk:
1. Memproduksi induk jantan fungsional XX
2. Menguji populasi induk jantan fungsional yaitu
induk jantan yang mengandung kromosom
dengan cara melakukan uji keturunan.


METODOLOGI

Waktu dan Tempat
Kegiatan ini dilakukan pada bulan Januari-
Desember 2006 di Balai Besar Pengembangan
Budidaya Air Tawar Sukabumi

Bahan dan Alat
Bahan
Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah
sebagai berikut :
1. Induk jantan fungsional (XX) sebanyak
39 ekor
2. Induk betina sebanyak 108 ekor
3. Pakan induk
4. Pakan benih
5. Pakan larva
6. Pewarna eosin/asetokarmin
7. Methylene blue

Alat
Sedangkan alat yang digunakan dalam kegiatan
ini adalah sebagai berikut :
1. Bak pemijahan ukuran 2 x 1 m sebanyak 13buah
2. Akuarium tempat penetasan telur
3. Hapa hijau ukuran 2 x 2 x 1 m untuk tempat
pendederan PI
4. Hapa hitam ukuran 2 x 2 x 1 m untuk tempat
pendederan PI
5. Alat perikanan (scoopnet, ember, lambit,
jolang dan lain-lain)
6. Alat penetasan telur (saringan , water heater,
batu aerasi dan lain-lain)
7. Mikrochip dan detector reader
8. Alat bedah (gunting, pinset, pisau)
9. Mikroskop beserta peralatannya


Metode
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini
adalah dengan melakukan uji keturunan benih hasil
pemijahan antara jantan fungsional (XX) dengan
betina normal (XX).


Prosedur kerja
Tahapan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
Pematangan Induk
- Induk jantan JICA diduga XX dan betina normal
dimatangkan dalam bak yang terpisah
- Pematangan dilakukan selama 2 minggu
- Selama pematangan, dilakukan pemberian pakan
dengan dosis 3%/ berat biomas per hari
Pemijahan
- Pemijahan dapat dilakukan bak ukuran 2x1m
- Pemijahan dilakukan dengan perbandingan
jantan dan betina 1 : 3
- Selama pemijahan dilakukan pemberian pakan 3
kali sehari dengan dosis 5% bobot biomassa
- Telur yang dipanen, ditetaskan di akuarium,
sedangkan larva dipelihara di kolam, bak atau
hapa dalam kolam sebagai tempat pemeliharaan
Penetasan Telur
- Telur yang telah dipanen di tetaskan di dalam
akuarium
- Akuarium tempat penetasan dilengkapi dengan
water heater untuk menjaga suhu optimum 28-30°C.
- Tempat penetasan telur menggunakan saringan
dengan jumlah telur per saringan maksimal 2000
butir
- Media tempat penetasan di beri Methylene blue
untuk mencegah timbulnya jamur
Pendederan
- Menebarkan larva ke dalam hapa dengan padat
tebar 200 ekor/m2. Padat tebar benih untuk
pendederan II adalah 100 ekor/m2.
- Memberikan pakan selama pendederan I dan II
dosis masing-masing 20%, 10% bobot biomass
per hari dengan frekuensi tiga kali.
- Setelah benih mencapai ukuran 5-8 cm,
dilakukan pemeriksaan gonad secara
mikroskopik


Pengamatan Gonad

Pengambilan Jaringan Gonad Ikan Sampel
a. Membunuh ikan sampel dengan cara
menusukkan jarum bedah pada kepala mengenai
otak
b. Membedah ikan sampel menggunakan gunting
bedah mulai dari anus ke arah vertebrae-kepaladada.
c. Mengambil gonad ikan sampel yang berada di
bawah vertebrae menggunakan pinset/penjepit
d. Meletakkan jaringan gonad di atas gelas obyek
e. Mencacah jaringan gonad dengan menggunakan
pisau bedah
Pewarnaan dan Pengamatan Jaringan Gonad
a. Meneteskan satu tetes larutan aceto-carmine di
atas cacahan jaringan gonad
b. Membiarkan proses pewarnaan jaringan gonad
sekitar 1 menit
c. Menutup jaringan gonad hasil pewarnaan dengan
gelas penutup
d. Mengamati hasil pewarnaan di bawah mikroskop
dengan pembesaran 100 kali.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil

Kegiatan teknik produksi induk betina ikan nila
yang dilakukan pada tahun 2006 adalah tahap uji
keturunan (progeny test) induk nila hasil sex reversal.
Induk nila jantan fungsional (XX) didapatkan dengan
pemberian hormon 17∝ Methyltestosteron pada masa
diferensiasi kelamin.

Proses pembentukan induk ikan nila jantan
fungsional (XX) telah dilakukan di BBAT Jambi pada
ikan nila strain JICA. Selanjutnya pada tahun 2005,
induk tersebut didatangkan ke BBPBAT Sukabumi
sebanyak 39 ekor untuk dilakukan uji keturunan.
Progeny test dilakukan dengan mengawinkan
satu per satu induk nila jantan fungsional (XX)
dengan 3 ekor betina normal. Dari 39 ekor induk yang
dilakukan progeny test, hanya 38 ekor yang dapat
menghasilkan keturunan. Keturunan dari 38 ekor
induk jantan XX kemudian dipelihara sampai ukuran
5-8 cm dan selanjutnya dilakukan pengamatan gonad.
Data hasil pengamatan gonad terhadap benih
keturunan induk jantan diduga XX disajikan dalam

Tabel 1.
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa dari 38 ekor
induk jantan hasil sex reversal, ternyata hanya
menghasilkan 2 ekor induk jantan XX. Hal ini dapat
terlihat dari persentase keturunan betina >95% hanya
ada 2 ekor yaitu induk dengan kode 460041352B dan
460966737A.

Pembahasan
Kegiatan teknik produksi induk betina ikan nila
bertujuan untuk memproduksi induk betina secara
massal dalam rangka memenuhi kebutuhan induk
betina ikan nila. Dalam pemijahan ikan nila, biasanya
mengunakan standar rasio jantan : betina adalah 1 : 3,
sedangkan pada pemijahan biasa, rasio kelamin
jantan : betina sekitar 60 : 40. Hal ini menyebabkan
kebutuhan induk betina lebih banyak dibandingkan
jantan.
Tahap pertama yang harus dilakukan untuk dapat
memproduksi induk nila tunggal kelamin betina
adalah dengan pembuatan jantan fungsional (yang
mengandung kromosom XX). Selanjutnya apabila
sudah mendapatkan induk jantan XX dalam jumlah
banyak, maka tahap selanjutnya adalah mengawinkan
induk jantan XX tersebut dengan betina. Dari hasil
perkawinan tersebut, maka akan diperoleh keturunan
tunggal kelamin betina (monoseks betina).

Dari 38 ekor induk jantan hasil sex reversal,
ternyata hanya dapat menghasilkan 2 ekor induk
jantan XX. Hasil uji keturunan terhadap induk jantan
hasil sex reversal menunjukkan bahwa tingkat
keberhasilan dari sex reversal masih sangat rendah.
Kemungkinan hal ini disebabkan oleh beberapa faktor
yang tidak tepat pada saat pemberian hormon.
Tingkat keberhasilan sex reversal sangat tergantung
dari efektifitas pemberian hormon 17∝Methyltestosteron. Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi efektifitas pemberian hormon ini,
diantaranya adalah : jenis hormon, dosis hormon,
waktu diferensiasi kelamin, metode pemberian
hormon dan suhu.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kesimpulan dari kegiatan ini adalah bahwa dari
38 ekor induk nila jantan diduga XX hanya
menghasilkan 2 ekor induk jantan XX.

Saran
Dari hasil kegiatan ini disarankan untuk dapat
memperbanyak induk nila jantan XX, dikarenakan
jumlah induk jantan XX yang ada baru 2 ekor.

DAFTAR PUSTAKA
Dunham, Rex.A. 2004. Aquaculture and Fisheries
Biotecnology.Genetic Approachs. Departement
of Fisheries and Allied Aquaculture. Auburn
University. Alabama, USA
Effendi, Irzal. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Maskur, S. Hanif, A. Sucipto, D.I. Handayani, dan T.
Yuniarti. 2004. Protokol Pemuliaan (Genetic
Improvement) Ikan Nila. Pusat Pengembangan
Induk Ikan Nila Nasional. BBPBAT,
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,
Departemen Kelautan dan Perikanan.
Pillay, T. V. R and M. N. Kutty. 2005. Aquaculture
Principles and Practices. Second edition.
Blackwell Publishing Ltd.
Potts, G. W and R. J. Wootton. 1984. Fish
Reproduction . Strategies and Tactics. Academic
Press Inc.

sumber : http://www.dkp.go.id

Selasa, 09 Februari 2010

foto lele siap konsumsi

foto lele

foto lele yang siap untuk dipanen, ikan lele yang ada pada kolam ini adalah ikan lele yang siap untuk dipanen / dikonsumsi.

ikan lele yang akan dipanen ini berukuran 7 - 10 ekor per kg.
harganya berkisar antara 9 - 12 rb per kg.

ikan lele banyak mengandung protein yang berguna bagi tubuh kita. ikan lele yang akan dipanen biasanya dipisahkan dahulu untuk memudahkan proses pengangkutan.
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengangkut ikan yaitu : wadah pengangkutan, cara penanganan, fasilitas dan peralatan pengangkutan.

cetak halaman ini

Sabtu, 30 Januari 2010

kolam pembesaran ikan lele


kolam pembesaran ikan lele

konstruksi pematang kolam pembesaran ikan lele bisa terbuat dari kolam tembok atau kolam tanah, namun akan lebih menguntungkan jika pematangnya terbuat dari tembok mengingat sipat lele yang suka meloncat/merayap keluar kolam terutama pada malam hari.

pada foto di atas, kolam pembesaran ikan lele diberikan limbah bulu ayam, bulu ayam ini dijadikan sebagai pakan untuk lele. penggunaan pakan dari bulu ayam ini merupakan pakan alternatif yang merupakan salah satu cara untuk menghemat biaya pengeluaran pembelian pakan. selain limbah bulu ayam kita juga bisa memanfaatkan limbah dari jeroan ikan, ayam yang mati, dan sisa - sisa makanan dari rumah makan atau restoran.
cetak halaman ini

Jumat, 22 Januari 2010

cara menghitung benih ikan nila hasil dari kolam pemijahan

menghitung benih ikan nila hasil dari kolam pemijahan

kegiatan menghitung benih ikan nila ini di lakukan dengan tujuan untuk mengetahui berapa jumlah benih ikan nila yang dihasilkan dari kolam pemijahan.

alat yang digunakan untuk menghitung benih ikan nila ini yaitu sendok, ember, skopnet, hapa. cara menghitung benih ikan nila ini yaitu dihitung dengan menggunakan sendok makan, setiap satu sendok dihitung 5 (lima) - 10 ekor benih tidak dihitung satu-satu. hapa sebagai media hitung sebaiknya dibagi dua bagian dengan menyekat dengan batang kayu atau bambu. sekat pertama yaitu tempat untuk menyimpan hasil hitungan dan sekat kedua yaitu sebagai tempat untuk menyimpan benih ikan yang akan dihitung.

setelah benih dihitung kemudian benih bisa ditanam pada kolam pendederan ataupun bisa pula dijual kepada orang yang memerlukannya. sebaiknya perhitungan benih ini dilakukan sesuai dengan kebutuhannya, yaitu bila benih akan ditanam kembali maka kita harus menghitung benih menurut kepadatan benih terhadap luas kolam pemeliharaan. Bila benih akan dijual maka biasanya kegiatan menghitung benih ini dikerjakan pada waktu konsumen membeli benih ikan, karena kita tidak mengetahui berapa jumlah benih yang diperlukan oleh konsumen. Namun bila konsumen sebelumnya sudah memesan benih maka benih pun harus sudah siap dan tersedia dari hasil hitungan.

cetak halaman ini

Kamis, 21 Januari 2010

kegiatan membersihkan bak / kolam pendederan benih/larva ikan nila

kegiatan membersihkan bak / kolam pendederan benih/larva ikan nila

kegiatan ini dilakukan setelah selesai memanen benih ikan nila yang dipelihara selama 2 - 3 minggu di bak pendederan. Peralatan yang digunakan untuk membersihkan bak pendederan ini yaitu sikat, ember. Pembersihan bak pendederan ini berfungsi untuk membersihan sisa-sisa pupuk organik, lumut yang tumbuh di dasar maupun di dinding bak. Membersihkan bak pendederan dilakukan dengan tujuan untuk mencegah timbulnya bibit penyakit yang dapat berkembang pada sisa-sisa kotoran. lumut yang tumbuh di dasar kolam juga perlu dibersihkan karena bila dibiarkan lumut tersebut akan mengganggu benih ikan yang dipelihara, lumut dapat menjerat benih ikan nila. sehingga benih tidak bisa bergerak dan mencari makan dan akhirnya benih akan mati.
meskipun lumut merupakan pakan yang bisa dimakan oleh ikan namun untuk benih yang ditanam di bak pendederan ini belum bisa memakan lumut. karena ukurannya pun masih kecil-kecil. Selesai membersihkan bak pendederan ini maka bak pendederan siap untuk digunakan lagi untuk memelihara benih ikan nila, setelah bak dikeringkan dan diberi pupuk. kapur dan garam.
cetak halaman ini

Kamis, 14 Januari 2010

Dressing TIRAM PROCESSING TECHNOLOGY

Dressing TIRAM PROCESSING TECHNOLOGY


Technology Description

Oyster sauce is a refined product that uses fermentation technology. To ensure the success of oyster sauce fermentation process, is assisted by enzimatis process, in this case is contained enzyme bromelain in pineapple fruit.


Innovative Aspects
Oyster sauce products using enzyme bromelain contained in pineapple fruit taken from the bulbs young pineapple.


Advantages

• Have a taste of typical products,
• The process is fairly simple processing,
• Facilities and infrastructure that do not require high investment,
• Use shells / oysters that have not been widely used
as processed
• Provide value-added fishery products for processing.


source: Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan, DKP, 2009


cetak halaman ini

Senin, 11 Januari 2010

beberapa cara untuk meningkatkan pertumbuhan ikan

beberapa cara untuk meningkatkan pertumbuhan ikan

meningkatkan pertumbuhan ikan berarti meningkatkan pendapatan hasil budidaya. Pertumbuhan ikan yang relatif singkat akan mempercepat proses panen, sehingga perputaran uang pun akan cepat.

cara untuk meningkatkan pertumbuhan ikan :

1. Pakan

pemberian pakan yang tepat dan mencukupi akan mempengaruhi proses pertumbuhan. Ikan akan tumbuh optimum apabila diberi pakan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya, pakan yang baik adalah pakan yang mengandung nutrisi yang lengkap, yaitu cukup protein, lemak, karbohidrat, vitamin. Nutrisi yang berperan dalam membantu proses pertumbuhan ikan yaitu protein, karena protein berperan dalam meningkatkan pertumbuhan. jadi ketika akan membeli pakan maka hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kandungan protein pada pakan tersebut.

pemberian pakan harus cukup tidak lebih dan tidak kurang. Bila pakan yang diberikan kurang maka proses pertumbuhan ikan akan menjadi lambat, tetapi apabila pakan yang diberikan kepada ikan berlebih maka hal ini juga tidak baik, karena bila pakan berlebih dan tidak dimakan oleh ikan maka pakan tersebut akan menjadi busuk di dasar kolam, sehingga akan menurunkan kualitas air kolam, sehingga ikan tersebut akan rentan terhadap timbulnya penyakit.
pemberian pakan yang cukup yaitu sesuai dengan kebutuhannya pakan yang diberikan per hari berkisar antara 3 - 5% dari berat tubuh total ikan yang dipelihara.

2. Kualitas air

kualitas air yang baik akan membantu proses pertumbuhan ikan. kualitas air menyangkut pada parameter , suhu, pH, oksigen, kecerahan, amoniak.
sarat kualitas air kolam yang baik untuk pertumbuhan ikan yaitu :
1. suhu 25 - 30 derajat celcius
2. pH 6,5 - 8,5
3. Oksigen > 4 mg/l
4. Kecerahan 25 - 30 cm
5. Ammoniak (NH3) <0,01 mg/l 3. Pengelolaan dan penanganan ikan akan tumbuh dengan baik apabila pengelolaan dan penanganan nya dilakukan dengan baik. pengelolaan yang baik yaitu menyangkut pada cara pemberian pakan, pengontrolan kualitas air, pengontrolan hama penyakit, pengontrolan faktor luar lingkungan hidup.


4. Keturunan


pertumbuhan ikan yang baik adalah pada ikan yang mempunyai keturunan yang baik, induk yang jelas, dan benih ikan hasil seleksi. Jadi ketika akan memelihara ikan maka kita harus tahu asal usul dari ikan tersebut.



cetak halaman ini

jenis ikan yang cocok untuk dibudidayakan dan dikembangbiakan dipekarangan rumah

jenis ikan yang cocok untuk dibudidayakan dan dikembangbiakan dipekarangan rumah

budidaya ikan dipekarangan rumah adalah memelihara ikan pada areal yang tidak begitu luas yang lokasinya berdekatan dengan rumah tinggal. media kolam untuk memelihara ikan dipekarangan rumah umumnya terbuat dari tembok, ataupun juga bisa menggunakan drum, terpal dan karpet.

jenis ikan yang cocok untuk dipelihara dipekarangan rumah diusahakan menggunakan jenis ikan yang tahan atau toleransi terhadap kualitas air, seperti : lele, nila, mujair, belut. dipilih ikan tersebut dikarenakan media pemeliharaan ikan dipekarangan rumah umumnya relatif sempit, sehingga kualitas air seperti oksigen pun tidak akan tersuplai secara sempurna baik secara difusi maupun input dari air yang masuk. ikan-ikan tersebut relatif tahan terhadap kondisi air kolam dengan kadar oksigen yang rendah karena ikan tersebut mempunyai alat pernapasan tambahan yaitu seperti Lele. kalau untuk ikan nila ataupun mujair, ikan ini mempunyai toleransi yang besar terhadap kualitas air yang jelek tetapi apabila kita ingin membesarkan atau memijahkan ikan ini maka persyaratan kualitas airpun perlu dipenuhi.

belut dapat hidup tumbuh dan berkembang pada areal yang sempit, sekalipun dipelihara di dalam drum, asalkan media untuk memelihara belut ini dicukupi sesuai dengan kondisi hidup di alam.

jadi dalam memelihara ikan dipekarangan rumah adalah merupakan pilihan alternatif dari cara berbudidaya ikan dengan alasan bahwa areal untuk dijadikan lahan budidaya sudah tidak ada. dan budidaya di pekarangan rumah ini cocok dikembangkan di kota yang relatif lahan budidayanya sempit. keuntungan dari berbudidaya ikan dipekarangan rumah ini adalah selain kita bisa mendapatkan penghasilan dari hasil budidaya kita juga bisa membantu kebutuhan konsumsi ikan rumah tangga.




cetak halaman ini

Rabu, 09 Desember 2009

gambar drum plastik untuk budidaya belut

budidaya belut pada drum

foto drum plastik untuk budidaya belut,
proses tahap persiapan budidaya belut.
drum digunakan sebagai media pemeliharaan belut. media ini digunakan sebagai alternatif pemeliharaan untuk skala luas lahan sempit.

Kamis, 12 November 2009

Teknologi Budi Daya ikan Nilem

Teknologi Budi Daya ikan Nilem

Teknologi budi daya nilem tidak berkembang terlalu pesat seperti jenis ikan lainnya. Pasalnya, ikan ini mudah memijah secara alami di kolam budi daya, sehingga tidak diperlukan upaya khusus dalam kegiatan pemijahannya. Pemeliharaan nilem umumnya dilakukan secara tradisional di kolam-kolam budi daya di daerah dataran tinggi. Belum ada pembudidaya yang memelihara nilem di sawah atau di KJA.

Dalam pembudidayaan dan perkembangbiakannya, nilem menyukai perairan yang airnya bersih, jernih, dan mengalir perlahan. Khusus di Jawa Barat, pembenihan dilakukan dengan tiga cara, yaitu ala Tarogong, ala Galunggung, dan ala Nagrek. Teknik pemijahannya dilakukan secara massal, yaitu ke dalam kolam seluas 300 m2 dimasukkan induk sebanyak 100 pasang. Induk ini akan memijah secara alami, terutama jika kolam pemijahannya banyak ditumbuhi tanaman air.Telur yang telah menetas menjadi larva akan berkembang dan tumbuh dengan baik jika di kolam pemijahan tersedia pakan alami berupa plankton.

Sementara itu, pembesaran nilem dapat. dilakukan di kolam khusus pembesaran yang telah diberi pupuk organik (pupuk kandang) Untuk menumbuhkan pakan alami. Benih yang digunakan untuk pembesaran berukuran 3-5 cm. selama pembesaran benih nilem diberi pakan buatan berupa dedak halus atau hancuran pelet. Para pembudidaya nilem di jawa Barat biasa melakukan pembesaran nilem dengan sistem longyam atau balong hayam, pemeliharaan ikan bersama ayam). Setelah dipelihara selama 4 bulan, ukuran nilem sudah mencapai 30 ekor per kg dan siap dipanen serta dipasarkan sebagai ikan konsumsi.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. AgroMedia Pustaka, 2008

Rabu, 09 September 2009

Pembenihan Ikan Mas

Pembenihan

Pembenihan meliputi kegiatan pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan telur, dan perawatan larva sampai berukuran 1-3 cm. Pembenihan ikan mas biasanya dilakukan selama 2-3 minggu untuk menghasilkan benih yang siap didederkan.

Pembenihan dapat dilakukan di kolam tembok yang dasarnya tanah atau kolam tanah seluruhnya. sebagai tempat menempel telur yang dihasilkan, di dalam kolam pembenihan diletakkan kakaban (anyaman ijuk atau batangan daunn kelapa).

selama pemijahan induk ikan mas membutuhkan protein 30-35%, lemak 6-7%, dan energi 5.560 kkal per kg pakan. Selain itu , dibutuhkan juga vitamin E sebanyak 10 g per 100 kg pakan. Karena itu, pakan yang diberikan harus sesuai dengan syarat tersebut di atas. Pakan yang diberikan bisa berupa pelet.

Pemberian pakan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang, serta sore atau malam hari. Dosis pemberiannya sebanyak 3% dari berat total induk.
Sementara itu, larva yang baru menetas sampai usia. 5 hari tidak diberi pakan karena masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur. Setelah 5 hari (ditebar ke kolam), benih memakan pakan alami berupa plankton. Untuk itu, kolam harus dipupuk menggunakan pupuk organik dan pupuk anorganik.jumlah pupuk yang digunakan disesuaikan dengan tingkat kesuburan suatu perairan.

Biasanya jumlah kotoran
ayam yang digunakan sebanyak 500 gram/m2, TSP dan UREA masing-masing 10 gram /m2 serta kapur pertanian sebanyak 15 gram/m2. benih dipelihara di kolam selama 2 - 3 minggu. selama pemeliharaan, benih diberi pakan tambahan berupa tepung pelet sebanyak 3-5% dari berat total. Pemberian pakan dilakukan 2-3 kali sehari, pada pagi dan sore hari.
sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008

Kamis, 27 Agustus 2009

Pembesaran ikan gurame

Pembesaran ikan gurame

Pembesaran merupakan proses lanjutan setelah pendederan. Intinya, membesarkan benih hasil pendederan (minimum berukuran 100 gram per ekor) hingga mencapai ukuran konsumsi (minimum berukuran 500 gram per ekor). Namun untuk memenuhi keinginan konsumen, kadang-kadang ada peternak yang membesarkan gurami hingga mencapai berat 700-1.000 gram per ekor. Bahkan, khusus untuk acara kenduri, konsumen lebih menyukai gurami yang beratnya 2 kg per ekor.



gurame dewasa lebih menyukai pakan berupa tumbuhan air seperti Azolla (mata lele), Lemna, Hydrilla, (ekor kucing) Ceratopgyllum dan Myriophyllum (ekor tupai), Pistis (apu-apu) kangkung dan genjer. selain it bisa juga diberi daun talas (daun sente) daun pepaya, dan daun ubi kayu (singkong) . Pemberian pakan dilakukan secara adlibitum (sekenyang-kenyangnya) Selain itu gurame dapat diberi pakan tambahan berupa pelet yang mengandung protein tinggi. yaitu sekitar 32% dengan porsi 2-3% dari bobot badan perhari.

sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008

Minggu, 02 Agustus 2009

Bawal Air Tawar

Bawal Air Tawar

Bawal termasuk salah satu komoditi baru di bidang perikanan yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Bawal air tawar yang nama latinnya Colossoma macropomum bukanlah ikan asli Indonesia, tetapi didatangkan dari negara Brazil, Amerika Selatan beberapa tahun yang Ialu. Untuk membedakannya dengan bawal yang terdapat di laut, bawal asal Brazil ini disebut dengan bawal air tawar karena memang seluruh siklus hidupnya berada di air tawar.


Pertama kali masuk ke Indonesia, ikan ini merupakan ikan hias untuk dipelihara di akuarium atau di kolam-kolam taman, namun karena laju pertumbuhannya sangat cepat dan dapat mencapai ukuran besar, bawal air tawar yang sudah dewasa menjadi kurang pantas dipajang. Karena itu, didukung oleh rasa dagingnya enak dan gurih, bawal air tawar kemudian menjadi sangat populer sebagai ikan konsumsi. Penyebaran ikan ini tergolong sangat cepat sehingga dalam waktu singkat sudah banyak petani yang membudidayakannya. Satu hal yang menguntungkan, ikan bawal air tawar merupakan jenis ikan yang tahan terhadap serangan penyakit. Sampai sejauh ini belum terdengar laporan terjadinya kasus serangan penyakit berbahaya terhadap ikan ini.


a. Klasifikasi
Phyllum : Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Characiformes
Famli: Charasidae
Genus: Colossoma
Species: Colossoma mocropomum
Nama Asing:tambaqui
Nama Lokal :bawal, bawal air tawar

sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008


Jumat, 31 Juli 2009

Pembesaran IKan Baung

http://hobiikan.blogspot.com

Pembesaran baung biasanya dilakukan setelah benih didederkan terlebih dahulu. Namun, ada juga pembudidaya yang langsung memeliharanya di kolam pembesaran, tanpa melalui pendederan. Pambesaran baung dapat dilakukan di berbagai media seperti di kolam air tergenang (kolam tanah,tembok,atau beton), kolam rawa, di karamba jaring apung (KJA), atau di karamba.

Kolam yang digunakan untuk pembesaran ikan baung disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Biasanya, kolam pembesaran yang digunakan memiliki luas minimum 100 m2. Sementara itu, jaring yang digunakan untuk memelihara baung di KJA harus memiliki ukuran mata 2,5 cm dengan jaring polietilen nomor 240 D/12. Berdasarkan pengalaman Para petani, jika ikan baung yang akan dipelihara berukuran 50-100 g/ekor, mata jaring yang digunakan berukuran 2 inci.

Sebelum penebaran benih, kolam pembesaran harus dikeringkan terlebih dahulu selama 5-7 hari dengan tujuan untuk membunuh bibit-bibit penyakit, memberantas hama, dan memudahkan pemupukan untuk menumbuhkan pakan alami. Pupuk yang digunakan berupa pupuk kandang sebanyak 500 gram/m2 dan kapur pertanian sebanyak 15 gram/m2. Pupuk dan kapur pertanian tersebut disebar rata di permukaann dasar kolam. Setelah itu, pintu pengeluaran air kolam ditutup, sedangkan pintu pemasukan air dibuka sambil dipasang saringan untuk menjaga agar ikan-ikan liar tidak bisa masuk. Ketinggian air- dalam kolam sebaiknya dipertahankan 75-100 cm.

Penebaran benih baung dilakukan 7 hari setelah pemupukan, saat pakan alami telah tersedia. Benih ditebar pada pagi atau sore hari saat suhu udara masih rendah agar benih tidak stress.

untuk setiap kolam seluas 100 m2 dapat ditebarkan benih benih baung sebanyak 50 ekor dengan ukuran rata-rata 45 gram per ekor. Selama pemeliharaan, ikan baung diberi pakan tambahan berupa pakan buatan komersial atau pakan alternatif. Pakan tambahan komersial yang umum digunakan adalah pelet dengan kandungan protein minimum 25%. Namun lebih baik diberi pakan yang kandungan proteinnya 28%. Sementara itu, pakan tambahan alternatif yang diberikan bisa berupa campuran antara ikan rucah dan dedak halus. Pakan tambahan ini diberikan sebanyak 3% per hari dari berat total ikan.


Lama pemeliharaan sangat tergantung dari ukuran benih yang ditebarkan. Untuk pembesaran di KJA, jika benih yang ditebar berukuran 30-50 gram per ekordalam, waktu 4 bulan pemeliharaan akan mencapai bobot 150-200 gram per ekor atau 5 ekor per kg. Pada pembesaran di kolam, jika benih yang ditebarkan berukuran 45 gram per ekor, dalam waktu 3 bulan menjadi 113 gram per ekor dan jika dipelihara selama 4 bulan, ukurannya akan menyamai ikan baung yang dipelihara di KJA dengan syarat pakan yang diberikan memiliki kandungan protein sesuai yang dianjurkan. Pemanenan ikan baung harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya sires atau luka-luka sehingga mutu ikan tetap bagus dan harga jualnya tetap tinggi.

sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. AgroMedia Pustaka, 2008

Kamis, 30 Juli 2009

Pendederan Ikan Baung

Pendederan

Benih-benih baung hasil penetasan selanjutnya dipelihara atau didederkan di kolam tanah atau kolam tembok. Sebelum dilakukan penebaran benih, perlu dilakukan persiapan kolam yang meliputi pengeringan dan penjemuran kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam, pemupukan, serta pembuatan Caren (kemalir).

Pengeringan kolam dan penjemuran selama 3 hari bermanfaat untuk membunuh bibit-bibit penyakit atau hama-hama yang ada di dalam kolam.
Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan Cara membalikkan tanah dasar kolam, lalu dibuatkan kemalir dengan kemiringan 0,5-1 % ke arah pintu pengeluaran. Untuk menumbuhkan pakan alami, kolam sebaiknya dipupuk menggunakan kotoran ayam petelur sebanyak 500-1000 gram/ M2, tergantung kesuburan tanah. Pupuk tersebut disebarkan merata di dasar kolam. Pada hari keempat kolam diisi air secara bertahap sampai mencapai ketinggian 90 cm.


Agar pakan alami cukup tersedia, ke dalam kolam juga dilakukan inokulasi (penebaran) Moina sp. Inokulasi ini dilakukan sehari setelah pengisian air. Bibit Moina sp. yang merupakan zooplankton dapat diperoleh di Balai Benih Ikan (BBI) terdekat atau di seleksi dari perairan umum (saluran air) yang banyak kandungan bahan organiknya. Setelah itu, kolam didiamkan selama 3—4 hari agar ekosistem kolam dapat mencapai keseimbangan dan Moina sp. dapat berkembang biak. Sebelum benih baung ditebar di kolam dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi suhu, oksigen, dan pH.


Penebaran benih dilakukan pada hari ke-3 setelah penebaran Moina sp. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari benih stres. Pengambilan benih dilakukan dengan menguras sebagian air akuarium, lalu benih ditangkap menggunakan serokan halus dan ditampung di dalam ember atau baskom plastik. Setelah itu, penebaran dilakukan secara hati-hati di bagian tepi kolam.

Caranya dengan menenggelamkan ember ke dalam air kolam sehingga benih-benih baung, akan keluar dengan sendirinya- Penebaran benih tidak boleh dilakukan dengan cara menggerojokan air- ember langsung ke dalam kolam, karena dapat mengakiban benih baung stres.


Padat tebar benih 50-100 ekor/m2 dengan ukuran benih rata-rata 2,4 cm. jika kolam diyakini kurang subur, padat tebar benih dikurangi menjadi 20-50 ekor/m2. Pemeliharaan benih dilakukan selama empat minggu. Pakan yang dapat diberikan selama pemeliharaan bisa berupa pakan komersial (pelet) dengan kadar protein 28-30% sebanyak 25— 100% total biomassa/hari. Sebelum diberikan, sebaiknya pelet ini dihancurkan. Pemberian pakan dilakukan 3 Kali sehari, pada pagi, siang, dan sore hari.

sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008

Jumat, 20 Maret 2009

Antisipasi Titik Kritis Pemeliharaan Larva Patin

Antisipasi Titik Kritis
Pemeliharaan
Larva Patin

Tanya:
Redaksi yang terhormat, saya baru memulai usaha pembenihan patin dalam beberapa bulan ini. Induk telah berhasil dipijahkan secara buatan, tapi dalam tahap pemeliharaan larva selalu gagal, padahal kualitas air selalu saya jaga. Kematian terjadi terus menerus hingga saya tidak pernah mendapatkan hasil. Apa yang harus saya lakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup larva ini?Terima kasih atas sarannya.


Jawab:
Keberhasilan usaha pembenihan ditentukan oleh beberapa faktor terutama mutu induk, manajemen induk dan kualitas air.
Pertama kali yang harus diperhatikan adalah mutu induk. Dalam mendapatkan induk, harus diperhatikan asal usul induk, jangan sampai terjadi inbreeding (perkawinan antar saudara) karena akan menurunkan mutu benih yang dihasilkan. Induk yang mendapatkan pakan berkualitas akan menghasilkan telur yang berukuran relatif besar, kuat dan daya tetas tinggi. Ukuran besarnya telur sebanding dengan besar larva. Telur yang bermutu baik menghasilkan larva yang lebih kuat dan tahan terhadap penyakit.

Pada tahap pemeliharaan larva harus diperhatikan titik-titik kritis pemeliharaan larva yang terjadi pada waktu

■ Penetasan
Telur-telur yang tidak menetas dan cangkang telur yang menetas akan membusuk dan merusak kualitas air. Karena itu cangkang dan telur yang tidak menetas harus segera dibuang keluar tanpa mengganggu larva.

■ Habisnya kuning telur
Pada saat ini larva memerlukan makanan dari luar. Dia akan memakan apapun yang ada di depannya, termasuk temannya sendiri. Solusinya adalah segera diberi makan yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya. Pakan harus bergerak karena mata larva belum sempurna dan larva hanya mengangakan (membuka) mulutnya saja.

■ Larva patin yang baru menetas akan bergerak
vertikal ke atas dan ke bawah. Kondisi kritis
terjadi pada saat larva bergerak horisontal. Ini merupakan tanda-tanda muai habisnya kuning telur. Pada saat larva mulai bergerak secara horisontal, pakan hidup harus segera diberikan.

■ Perubahan jenis pakan
Larva harus diberi makan yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya. Sehingga energi yang dihasilkan dari makanan lebih besar daripada energi dikeluarkan untuk membuka mulut. Karena itu, ukuran dan jenis makanan yang diberikan secara bertahap harus disesuaikan. Saat pengggantian jenis pakan ini seringkali terjadi banyak kematian karena tidak semua ikan dapat segera menyesuaikan diri, akibatnya ukuran ikan jadi tidak seragam. ikan yang kecil akan semakin kecil dan akhirnya mati karena selalu kalah dalam perebutan makanan.

Yang harus dilakukan dalam masalah ini adalah penggantian pakan dilakukan secara overlap (tumpang tindih). Yakni pakan pengganti diberikan dahulu sambil melihat respon ikan terhadap pakan baru tersebut. Setelah ikan yang mudah menyesuaikan diri kenyang, diberikan pakan lama untuk yang belum bisa makan pakan pengganti. Hal tersebut dilakukan selama beberapa hari hingga semua ikan bisa mengkonsumsi pakan pengganti.

Pemberian pakan pada larva juga harus disesuaikan dengan system alat pencernaannya yang belum sempurna. Pakan diberikan sedikit demi sedikit tapi sering. Pada saat pemeliharaan larva, pakan diberikan paling sedikit 6 kali dalam sehari semalam. Selepas dari tahap larva, pemeliharaan benih biasanya tidak terlalu banyak kendala.
Demikian, semoga bermanfaat.*
sumber : TROBOS, 2008

Kamis, 12 Maret 2009

Fry Counter Cacah benih Cepat dan Akurat

Fry Counter


Tingkat kecepatan hitungnya mencapai 8 ekor benih/det.
Beratya pun hanya 4 kg, mudah dibawa-bawa

bagi sebagian besar pembenih, ternyata tak mudah untuk menghitung pesanan benih ikan atau udang yang jumlahnya mencapai ratusan ribu ekor dengan cepat dan akurat. Apalagi jika proses penghitungannya masih dilakukan secara konvensional, yaitu dengan cara menyendok benih menggunakan alat penyendok sederhana (serupa gayung). Sebelumnya, para pembenih telah memperkirakan jumlah benih yang bakal tersendok alat tersebut, dengan cara melakukan beberapa kali pengambilan sample. Selanjutnya, penentuan hasil hitungan hanya dilakukan dengan cara mengalikan jumlah benih dalam tiap sendokan dengan banyaknya sendokan yang dilakukan.

sehingga tak heran, jika tingkat keakuratan dari proses penghitungan ini menjadi sangat rendah dan waktu yang dibutuhkan pun menjadi relatif lebih lama. Selain itu, penghitungan benih
dengan menggunakan metode konvensional ini juga rawan membuat benih ikan dan udang
stres, karena proses perhitungan biasanya dilakukan dengan cara yang kasar. Dampak akhirnya, kualitas benih yang sampai ke pembudidaya pun menjadi menurun. Padahal, kualitas, benih mempunyai peran yang sangat besar bagi keberhasilan sebuah usaha perikanan budidaya.


Dengan latarbelakang tersebut, Prof Indra Jaya, dosen Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (FPIK - IPB), menciptakan sebuah alat
pencacah (penghitung) benih yang dinamai dengan "Fry Counter. "Alat ini diciptakan untuk mempermudah para pembenih ikan dalam menghitung benih-benih yang dipesan oleh pembudidaya, sehingga prosesnya dapat lebih cepat dan hasilnya akurat," ujar Indra yang juga menjabat sebagai Dekan FPIK - IPB.

Lebih Cepat dan Akurat
Dia berkisah, proses penciptaan alat pencacah benih berawal dari pengamatannya pada salah seorang pembenih ikan patin yang sedang menghitung benih pesanan pembudidaya. "Saya memperhatikan mereka (pembenih-red) menghitung dengar menggunakan cara manual. Mereka hanya mengambil sample saja. Jumlah benihnya pun hanya diperkirakan, sehingga hasilnya sanga tjauh dari akurat," tutur Indra.


Karena itu, dia menyarankan pembenih beralih menggunakan alat pencacah benih fry counter, agar dapat menghitung benih-benih yang akan dipasarkan dengan lebih cepat dan hasil yang lebih akurat. "Kecepatan hitungan fry counter dapat mencapai 8 ekor benih/detik," sebut Indra. Artinya, dalam waktu satu jam, mesin ini dapat menghitung benih ikan sampai 28.800 ekor, jauh lebih cepat ketimbang menggunakan teknik penghitungan konvensional yang, dilakukan oleh satu orang tenaga kerja. Dia pun menjamin mesin hasil kreasinya memiliki tingkat keakuratan yang sangat tinggi. "Tingkat kemungkinan kesalahan di bawah 5%."

Hal tersebut bisa terjadi karena
proses perhitungan benih dilakukan dengan menggunakan teknologi elektronika modern. Yaitu, dengan menggunakan bantuan sensor optik optointerruptor. Fry coonterjuga dilengkap dengan microcontrofer yang berfungsi mengendalikan seluruh proses kerja dari alat ini, sehingga kesalahan perhitungan dapat ditekan.

Mudah Dioperasikan
Prinsip kerja fry counter pun sangat sederhana. Mesin pencacah yang mirip timbangan ini dilengkapi dengan wadah penampung benih, yang berfungsi sebagai inlet benih ikan. Sebelum benih dimasukkan, wadah penampungan harus terlebih dahulu dialiri dengan debit air yang sesuai. Tujuannya agar tidak menimbulkan gelembung udara pada selang cacahan yang menuju ke sensor.

"Kalau sampan ada gelembung, sensor juga akan mendeteksi dan menghitungnya. Disinilah kemungkina adanya kesalahan perhitungan terjadi," terang Indra.

Dengan adanya aliran air, benih-benih ikan yang akan dihitung akan masuk ke dalam mesin menuju selang pencacah dengan trek yang berbeda-beda. "Ada 8 trek yang ada di dalam mesin. Masing masing trek dilengkapi dengan alat sensor optointerruptor. Setelah melewati sensor, benih ikan akan otomatis tercacah dan angkanya akan tampil pada display yang telah disediakan. Setiap ada benih ikan yang tercacah, angka di display akan terus bertambah," rinci Indra menjelaskan.


Setelah itu. ikan akan keluar melalui lubang outlet dan pembenih hanya tinggal memperhatikan angka yang tertera di display. Angka maksimal yang dapat tertera pada display adalah 99999 ekor untuk sekali proses perhitungan. "Untuk memulainya kembali pada angka 00000
juga hanya 4 kg." Karena berbagai kelebihan yang ada di dalamnya, fry counter masuk dalam 100 katagori inovasi paling prospek di tahun ini.

Hanya Butuh listrik 50 - 60 Watt
Untuk mengoperasikan fry counter, para pembenih hanya cukup menyediakan tenaga listrik yang relatif rendah, yaitu sebesar 50 - 60 watt saja. Sehingga, biaya yang dikeluarkan oleh pembenih untuk operasional alat pencacah benih ini relatif sangat ringan, apalagi jika dibandingkan para
pembenih cukup menekan tombol reset."


Indra menambahkan. fry counter yang diciptakannya mampu menghitung berbagai jenis benih ikan, termasuk benih udang. "Tinggal menyesuaikan diameter benih ikan yang akan dihitung dengan jarak antar sensornya (treknya-red). Sensor dalam alat ini dibuat berdasarkan sistem modul, jadi tinggal mengganti modul sensor yang ada di dalam box sensor." ujarnya.
Sedangkan untuk memungkinkan penggunanya memantau kinerja fry counter, alat ini juga dilengkapi dengan buzzer indicator yang berfungsi untuk memeriksa kinerja alat, terutanna jika ada bagian yang tidak berfungsi dengan baik. Kelebihan lain, fry counter ini juga relatif ringan, sehingga mudah dipindahpindahkan. "Alat ini bersifat portable. mudah dibawa kemana-mana.

Beratnya juga hanya 4 kg." Karena berbagai kelebihan yang ada di dalamnya, fry counter masuk dalam 100 katagori inovasi paling prospek di tahun ini.
Hanya Butuh Ustrik 50 - 60 Watt


Untuk mengoperasikan fry counter, para pembenih hanya cukup menyediakan tenaga listrik yang relatif rendah, yaitu sebesar 50 - 60 watt saja. Sehingga, biaya yang dikeluarkan oleh pembenih untuk operasional alat pencacah benih ini relatif sangat ringan, apalagi jika dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh pembenih untuk mengupah tenaga kerja sebagai penghitung benih.

Selain dengan menggunakan
tenaga listrik PLN, fry counter juga telah disipakan untuk dapat digerakkan dengan menggunakan tenaga accu (baca: aki) 12 volt. Tak hanya itu, fry counter juga dapat 'dibangkitkan' dengan menggunakan tenaga baterai Ni-Cad 12 volt.

Sedangkan mengenai harga alat tersebut, Indra mengaku pihaknya
belum menghitung secara rinci berapa biaya pembuatannya, karena memang belum dipasarkan secara komersial. "Kemungkinan sekitar Rp 1 - 2 jutaan. Melihat manfaatnya, menurut saya
ini harga yang cukup mudah," Indra berargumen. Murahnya harga alat pencacah benih tersebut tak lepas dari semakin murahnya harga komponen komponen elektronik pendukung yang ada di dalamnya.
sumber : TROBOS 2008

Kamis, 05 Maret 2009

Kembangkan Patin Berkualitas Secara Efisien

Kembangkan Patin Berkualitas Secara Efisien

Warga Amerika Serikat tengah membutuhkan pasokan ikan murah dalam jumlah banyak. Terlebih sejak krisis keuangan merontokkan sendi-sendi
perekonomian Negeri Paman Sam tersebut. Kondisi tak jauh berbeda dialami Eropa. Dengan alasan berhemat, penggemar seafood di UE mulai
meninggalkan konsumsi ikan ikan yang mahal dan
menggantinya dengan yang lebih murah.



Dan salah satu jenis ikan murah yang kini kion mendapat tempat di hati penduduk AS don UE adalah ikan Patin (Pongasius SO Saudara jauh ikan lele yang juga berkumis ini (catfish)
banyak dijumpai di sungai sungai besar di tanah air.


Sayangnya, Indonesia belum
bisa mengambil peluang pasar Patin yang menggoda di kedua negara tersebut. Selain kuantitas don kontinyuitas produksi Patin yang masih rendah, Indonesia belum bisa menghasilkan Patin dengan kualitas prima sebagaimana yang disyaratkon AS dan UE. Justru Vietnam yang berhasil memenuhi kebutuhan permintaan Patin dunia tersebut dengan produksi mencapai lebih dari satu juta ton. Celakanya, Patin Vietnam pun telah membanjiri pasar Indonesia. Sementara pada waktu yang sama, produksi dalam negeri tak lebih dari 50 ribu ton!

Kenyataan pahit inilah yang kemudion mendorong PT Central Pangan Pertiwi (PT CPP)--produsen pakan ikan dan udang yang merupakan anak perusahaan dari PT Central Proteinaprima Tbk.—untuk mengembangkan Patin di Indonesia. Bersama dengan Laka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan AirTawar (LRPTBPAT) Sukamandi Jawa Barat, PT CPP melakukan kerjasama riset dalam budidaya Patin secara intensif di kolam tanah. Atas gawe besarnya ini, tak kurang Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi menyampaikan terima kasihnya

kepada PT CPP dalam panen perdana patin skala industri di LRPTBPAT Sukamandi media Desember 2008. "Terimakasih kepada PT CPP yang telah membantu kami melihat peluang pasar Patin dan dalam usahanya menciptakan lapangan kerja dari budidaya ikan Patin," kata Freddy.
Pada kesempotan itu Pula, General Manager Business Research and Relation, PT CPP, Denny D Indradjaja, menyatakan komitmen PT CPP dalam pengembangan Patin di dalam negeri. "Divisi ikan PT CPP commit untuk mengembangkan budidaya Patin ke masyarakat. Kami akan membantu secara teknis serta menyediakan pakan berkualitas dan sesuai," katanya.


Peluang Besar
menrut Denny, peluang pengembangan Patin di Indonesia sangat besar. Sebab, Patin merupakan jenis ikan pemakan segala dan budidayanya lebih mudah dibandingkan dengan ikan jenis lain. Selain untuk mengisi pasar ekspor, pengembangan budidaya Patin juga akan membantu peningkatan konsumsi ikan di dalam negeri yang masih sangat rendah.

Pasar ekspor, menuntut pasokan Patin dengan kriteria daging berwarna putih, tidak berbau lumpur dan bebas residu antibiotik. Sebelumnya LRPTBPAT telah menyilangkan betina Patin siam (berdaging kuning kemerahan dan pertumbuhan cepat) dengan Patin jambal (daging putih tapi fekunditas/tingkat penetasan telur dan toleransi terhadap lingkungan rendah) yang menghasilkan Patin berdaging putih dengan laju pertumbuhan tinggi. Patin jenis ini dinamai Patin pasupati dan telah dirilis dua tahun lalu.


Namun, pengembangan Patin pasupati terhadang kendala tingkat stres ikan yang masih tinggi. Karena itu kerjasama riset budidaya ini juga mengembangkan jenis Patin siam yang lebih "tahan banting" dengan perlakuan khusus. Yaitu memberikan pakan khusus untuk membuat

daging patin siam yang merah menjadi berwarna putih. Pada riset budidaya itu, PT CPP dan LRPTBPAT sepakat menekankan pada pengelolaan kualitas air baik untuk budidaya ikan patin pasupati dan patin siam.
Denny tak menampik fakta bahwa saat ini Vietnam masih menjadi yang pertama dalam produksi patin dunia. Tapi, lanjutnya, disinyalir kualitas patin Vietnam mulai menurun karena budidaya patin dilakukan di Delta Mekong yang telah mengalami penurunan kualitas. Justru saat ini, FDA—badan pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat—meminta budidaya patin dilakukan di kolam supaya lebih terkontrol. Karena itu, kata Denny, Vietnam mulai memindahkan budidaya patin mereka dari sungai ke kolam air deras. Caranya dengan memompa air Sungai Mekong ke pinggir sungai lalu mengendapkannya dan melakukan treatment selama tiga hari dan menjadikannya sebagai kolam air deras di pinggir sungai.

Hargoi Bersaing
Kerjasama PT CPP dan LRPTBPAT di riset budidaya patin ini dilakukan sejak Maret 2008 dan direncanakan sampai Februari 2009. Selain menerapkan pola intensif, budidaya patin juga menerapkan teknik CBIB (Cara Budidayo Ikan yang Baik). Antara lain dengan penggunaan pakan bermutu, tidak menggunakan antibiotik tetapi menggunakan probiotik dan garam.
Ukuran awal benih patin siam 17 gram/ekor, sedangkan benih patin pasupati bobot awalnya 10 gram/ekor. Kolam pemeliharaan seluas 6.000 m2 dengan kedalam air 1,2 m
dan padat tebar 10 ekor/m". Pakan berupa pellet dengan feeding rate sekitar 3% dari biomass ikan dan disesuaikan dengan ukuran dan perkembangan ikan. Pengaturan jumlah pakan setiap periode waktu tertentu dilakukan dengan sampling.


Berdasarkan sampling pada akhir pemeliharaan (bulan ke-8), diperoleh bobot patin siam 1.300 gram/ekor, sedangkan patin pasupati 1 .000 gram/ekor. Produksi patin siam pada panen perdana ini mencapai 65 ton/6000 m2 dan patin pasupati 45 ton/m2. Nilai FCR patin pasupati 1,2 dan patin siam 1,4. Dari sini, Sularto don Evi Tahapari peneliti patin dari LRPTBPAT menyebutkan, biaya produksi untuk menghasilkan sekilo ikan patin siam mencapai Rp 8.960 sedangkan untuk patin pasupati lebih rendah lagi yaitu Rp 8.132 per kilogram. Bila harga jual Rp 10.500 per kg, maka Return on Invesment (ROI) per tahun mencapai 30% pada patin-siam don 40% untuk patin pasupati.
Ikan patin pasupati dan siam yang dihasilkan dari riset ini bisa dijual dengan harga Rp 34.500 per kg. Asumsinya, harga ikan berdaging putih Rp 11 .000/kg dengan rendemen 35%. Ini merupakan harga yang sangat bersaing dengan harga dari (ikan patin dari Vietnam). Rendemen dari mencapai 35%. Harga dasor impor ikan dori dengan spesifikasi kadar air 10%, untuk dori yang berdaging putih berkisar Rp 40 ribu per kg dan dari yang berdaging kemerahan berkisar Rp 37.500 per kg. Dengan mengembangkon model budidaya patin sebagaimana yang dilakukan PT CPP don LRPTBPAT Sukamandi maka pengusaha dalam negeri tak perlu lagi mengimpor dari Vietnam.
Sumber : TROBOS, 2008

Senin, 02 Maret 2009

budidaya gurame di kolam terpal

Menurut Wagiran, budidaya gurame di kolam terpal tidak memerlukan perlakuan yang jelimet (rumit). "Kuncinya hanya sifon (siftpond : menyedot kotoran dasar kolam ke luar) sebulan sekali. Selain itu cuma memberi pakan sambil mengontrol," tegasnya membuka kartu. Sifon mudah dilakukan karena kebanyakan kolam terpal berada di atas tanah, seperti bak-bak air.


Cara menyifon pun sangat mudah.


Selang air diameter 1/2 inci disiapkan, salah satu ujungnya diletakkan di tempat yang lebih rendah daripada dasar kolam (kalau memungkinkan pada saluran air) dan Ujung yang lain dicelupkan ke kolam. Kemudian ujung yang di luar kolam kemudian disedot hingga air kolam mengalir.




Setelah air mengalir, ujung selang yang di dalam kolam ditenggelamkan hingga ke dasar. Sambil ujung selang digeser/digerak-gerakkan sehingga endapan kolam tersedot keluar bersama air dasar kolam. Hal itu terus dilakukan di seluruh bagian kolam, hingga air yang keluar tidak mengandung endapan lagi.


Kalau sudah lihai, pada kolam dengan kedalaman air 90 cm, Setelah sifon air hanya berkurang 20 - 30 cm saja. Setelah itu, air kolam ditambah dengan air baru. Untuk mencegah masuknya penyakit Baru

air baru itu, kolam ditaburi garam 100 gram/ml.
Menurut Wagiran, cara ini menghilangkan kotoran dan amonia dasar kolam yang bisa mengganggu kehidupan gurame. "Selain itu, kotoran juga sarang bakteri pengganggu," tandasnya. Sehingga, meskipun gurame sudah besar, sifon harus tetap dilakukan. "Kalau kolam tanah, kotoran dan amonia relatif bisa dinetralisasi secara alami oleh tanah dan mikroorganisme didalamnya. Itu yang tidak mungkin terjadi di kolam terpal papar mantan penghuni panti rehabilitasi narkoba ini.

Menurut pengalamannya, terlambat sifon 10 hari saja, gurame sudah Wenger (lemas). Seorang temannya pernah nekat tidak menyifon kolam karena gurame akan dipanen 20 hari dari jadwal sifon. "Dua minggu kemudian tiba-tiba gurame lemas dan akhirnya tengah malam mengambang. Padahal tidak ada tanda-tanda sakit," kisahnya. Akhirnya ia terpaksa memanen gurame satu pick up tengah malam. "Dijual sebisanya, yang penting dapat menekan kerugian," kata Wagiran.


Keunggulan Kolam Terpal

Menurut Wagiran, ada beberapa keuntungan aplikasi kolam terpal pada budidaya gurame. Pertama, kolam mudah dibersihkan dan dikeringkan sehingga mata rantai penyakit bisa diputus. Kedua, panen gurame lebih mudah karena petakannya tidak luas. Ketiga, gurame tidak berbau lumpur karena kolam bebas kotoran. "Bakal (pedagang) ikan lebih suka gurarne eks terpal ini, karena disukai konsumen," tegasnya.

Untuk pembesaran, kolam terpal ukuran 4 x 8 M2 dengan kedalaman 90 cm biasa diisi 350 ekor benih size 4 ek/ kg. "Kepadatannya 10 ek/m2, lebih tinggi dari kolam tanah yang rata-rata 6 ekor /m2," sebutnya. Kepadatan kolam terpal lebih tinggi karena selalu disifon sehingga kadar amonia kolam rendah, dan terjadi sirkulasi air meski hanya sebulan sekali seusai sifon. Gurame pun menyebar baik di atas maupun di dasar kolam. Sedangkan di kolam tanah, gurame terkonsentrasi di permukaan karena di dasar kolam kadar amonia nya tinggi.


Agar Panen Cepat
Dengan kolam terpal, pembesaran pun bisa lebih cepat, dalam waktu 5 bulan gurame sudah bisa dipanen dengan ukuran 6 - 7 ons/ekor. "Sekarang bisa panen lebih cepat lagi, karena perubahan tren pasar. Konsumen sekarang lebih suka size 5 ons/ekor," ungkapnya. Walapun demikian Wagiran mengakui saat kemarau waktu panen bisa mundur sebulan akibat cuaca dingin di malam hari namun siang harinya panas. "Saat itu ±6% energi habis dipakai untuk bertahan dari fluktuasi suhu itu," ungkapnya. Menurutnya masa pemeliharaan semua jenis ikan bertambah lama saat kemarau.

Bahkan lele yang saat penghujan 60 hari panen, saat kemarau bisa molor 20 hari.
Kondisi ini bisa ditekan dengan cara meningkatkan meningkatkan kadar protein pakan. Ummnya protein pakan gurami hanya 27%, maka saat kemarau mesti membeli yang kadarnya 30%.

Hasilnya, panen hanya mundur 15 - 20 hari dengan FCR-nya maksiraal 1,4.
Jika kadar proteinnya ditingkatkan lagi, justru akan menimbulkan masalah, gurame ogah. Seleranya baru pulih Setelah beberapa hari hanya diberi daun-daunan. Selain itu, jika dipaksakan maka sisik akan lepas karena perkembangan daging yang tidak imbang dengan pertumbuhan sisik. "Setelah itu timbal koreng," kata Wagiran. Kalau di musim hujan, gurame diberi pakan berprotein 33% pun tidak timbal masalah.

Gurame memang tergolong, cengeng dengan fluktuasi suhu dan pH. Untuk menyiasatinya, Wagiran menggunakan probiotik dan molases setidaknya seminggu sekali. Probiotik dan molases diencerkan, kemudian disemprotkan ke pakan sebelum diberikan kepada gurame. Dengan cara ini ketahanan tubuhnya bisa meningkat. "Molases itu mengandung mineral yang tinggi, baik untuk merangsang imunitas. Jadi bukan hanya energinya yang bagus bagi ikan,"tegasnya.


Kolam Perlu sekam
Problem utama musim kemarau adalah fluktuasi suhu yang menyolok antara Siang-malam. Untuk mengatasinya Wagiran menaburi dasar kolam dengan
sekam setebal 10 cm di atas tanah sebelum terpal digelar. Setelah terpal digelar, bagian sisi (antara dinding dan terpal) juga diberi sekam. Menurutnya, cara ini efektif untuk stabilisasi suhu kolam. Saat musim kemarau, sekam dituangi air sehingga terjadi proses pembusukan. Proses ini menghasilkan panas, yang mampu menahan dinginnya malam "bedhidhing".

Untuk membuat kolam terpal ukuran 4 x 8 x 1 m3, diperlukan terpal ukuran 6 x 10 m2. "Itu yang ada di toko. Kalau saya bisa pesan ukuran berapapun karena punya kenalan pabrik terpal," tutur Wagiran. Sebaiknya terpal baru jangan langsung digunakan, dicuci dulu untuk menghilangkan residu kimia.

Kolam terpal ini bisa dibuat di atas tanah maupun didalam lubang. Kolam terpal tahan hingga 5 tahun. "Asal tidak usil memasukkan uthik (bilah kayu /bambu) dengan alasan apapun seperti untuk menjajaki kedalaman kolam. Terpal bisa bocor," terangnya.

Persiapan kolam
Setelah kolam terpal terpasang, diisi air setinggi 90 cm. Untuk membunuh patogen, ditaburi garam 2 ons/m3. Setelah itu, kolam dituangi pupuk organik katalis plankton (dosis sesuai merk). "Bisa diganti dengan urea 1 ons/m3," kata Wagiran. Seminggu kemudian air kolam sudah menghijau pertanda sudah tumbuh plankton, baru benih dimasukkan. •
sumber : TROBOS, 2008